Saya & Aku VS 3000 KM (Part 3)
Mumpung gak ada tugas rumah yang perlu dikerjakan, aku bangun agak siang daripada biasanya di rumah. Ngapain juga pagi-pagi udah melek, toh tempat wisata juga masih banyak yang belum buka.
Mas Rizki keluar dari toilet sambil membawa botol air mineral. Aku tahu apa fungsi botol itu bagi orang Indonesia yang tidak terbiasa cebok pakai tisu, tapi tetap saja tak kubawa botol minum waktu masuk kamar mandi. Lalu apa yang terjadi? improvisasi seadanya adalah tuntutan yang nyata.
Setelah check-out, kami mencari hawker terdekat, mencari nasi uduk melayu yang sangat bisa diandalkan rasa dan harganya. Hawker kali ini beda dengan sebelumnya, banyak orang sepuh yang sarapan, kemungkinan efek dari jaraknya yang dekat dengan panti jompo. Hawkernya nyaman, adem, dan tenang, jauh dari jalan utama.
Perut terisi, siap mendukung eksplorasi hari terakhir di Singapore. Karena sudah beli tiket dari Indonesia, langsung saja kami menuju Garden By the Bay untuk kedua kalinya. Kalo malam kemarin gratis tapi cuma bisa lihat dari bawah, sekarang kami bisa naik dan jalan-jalan di atas karena sudah membeli tiket. Selain jalan apa lagi? Foto lah. Lalu setelah foto? Turun, karena cuma dua itu kegiatan yang bisa dilakukan. Kami berdua lanjut ke Flower Dome dan Cloud Forest.
Hari semakin siang, sebelum sampai ke kompleks Flower Dome dan Cloud Forest, kami singgah ke Orchard Road dulu. Inilah waktunya mas Rizki menunaikan "Ibadah Apple bagi yang mampu", kami mampir ke Apple Store Singapore. Gak ngerti apa spesialnya store ini dibanding dengan store lain, apa mungkin karena letaknya di Orchard Road yang terkenal itu dan juga ada pohon di dalam ruangan ya?
Aku yang gak ngerti dunia per-Apple-an ya cuma membuntuti mas Rizki aja. Dia sibuk lihat produk-produk Apple mulai dari iPhone, iMac, iPad, dan printilan lain yang gak aku paham. Lalu entah habis lihat video pranknya siapa, tiba-tiba manusia ini punya ide menghidupkan semua alarm display device dalam waktu yang bersamaan. Aku yang seneng hal beginian langsung setuju lah. Belajar dikit caranya ngatur alarm, kami berdua berpencar agar lebih cepat menunaikan misi ini. Tidak begitu lama waktu yang kami punya, sebelum 3 menit harus sudah selesai semua.
Selesai bagianku, langsung kuhampiri mas Rizki. Sambil berlagak mengamati sekeliling, dihitunglah mundur waktu yang dinanti. Dan... telelet..telelet..telelet... bunyi alarm iPhone yang mengganggu itu menggema. Aku lupa gimana cara mereka mematikan itu semua, yang kuingat cuma kepuasan yang berlebih saat meninggalkan store.
Orchard Road adalah pusat perbelanjaan di Singapura yang terkenal dan bertaraf internasional . Banyak merk-merk terkenal mendirikan store besar di sini, yang sayangnya tidak satupun menarik bagiku. Ada sih satu yang menarik, tapi bukan tertarik karena merknya, lebih tepatnya tertarik karena penasaran. Irvin Fish Skin yang viral beberapa waktu sebelumnya menggoda untuk dicicipi. Kami masuk ke sembarang mall, dan dapatlah satu booth kecil yang agak nyempil nempel di dinding, tempat jualan keripik kulit ikan itu.
Sambil duduk berdua di luar mall kami mencicipi kripik yang sempat ramai itu, dan rasanya? hmmmm... benar sekali, rasanya seperti kerupuk ceker! Beneran gak ada bedanya antara kerupuk kulit ikan bermerk itu dengan kerupuk ceker UMKM Pasuruan, mungkin selisihnya cuma di bumbu halus yang lebih melimpah. Krupuk Ceker Bu Narti dikemas ulang dengan kemasan Irvin Fish Skin adalah sebuah ide bisnis yang brilian sepertinya.
Tentu gak lengkap mengunjungi Singapura tanpa berfoto di sekitar patung Merlion. Sudah ke sana, tapi kan kunjungan sebelumnya pas malam hari, jadilah kami mengunjunginya sekali lagi. Akan lebih bisa menikmati ketika ada di Marina Bay sebelum atau selepas siang bolong, dan kami berdua tidak ada yang paham tips remeh seperti itu. Kulit terpanggang dan mata tak kuasa membuka sepenuhnya, sinar terik benar-benar melucuti siapapun yang berdiri di sana tanpa peneduh. Bagi selain pelakunya, foto di sana dinilai konten semata, sedang bagi yang menjalaninya, foto di sana adalah pengalaman berharga untuk tidak diulangi secara ceroboh.
Hari terakhir semakin menyore. Aku harus segera mengembalikan STP agar bisa dapat reimburse, dan mas Rizki juga akan ke bandara menunggu penerbangan kembali ke Indonesia. Usai makan untuk yang terakhir, kami berpisah di stasiun MRT Lavender. Aku sendiri, melanjutkan rencana perjalanan ke Kuala Lumpur lewat jalur darat.
Komentar
Posting Komentar