Saya & Aku VS 3000 KM (Part 4)
Sendiri, di lingkungan baru, dengan bahasa yang belum sepenuhnya dikuasai, uang pun tinggal sisa-sisa, what could be worse? Pertama kali menginjakkan kaki di bandara H.A.S Hanandjoeddin waktu solo backpacker ke Belitung sebenarnya ngerasa serem juga, tapi kali ini lebih serem. Ditinggal mas Rizki yang penuh persiapan, akhirnya harus sendirian menghadapi ketidakpastian. Pilihannya hanya berdamai, atau ditaklukkan olehnya, semoga yang pertama saja.
Dimanapun., masjid gak pernah salah dijadikan jangkar untuk memulai perjalanan. Masjid Hajjah Fatimah yang kebetulan dekat dengan terminal memberi naungan petang itu. Usai berganti pakaian bersih, lamat-lamat terdengar kalimat-kalimat bahasa inggris, arab, dan melayu silih berganti, dan dari beberapa potongan kalimatnya aku familiar betul, iya beberapa potongan hadis nabi yang terkenal. Aku menuju bangunan utama yang mana sedang mengadakan pengajian rutin (ketahuan dari jadwal yang ditempel di tembok). Kuikuti taushiyah sebisanya. Seru sekali mencoba mengerti satu kalimat yang berisi campuran tiga bahasa, agak sulit tapi masih bisa dipahami. Yang paling membuatku merasa istimewa atas masjid ini adalah ketika seusai solat, wiridnya hampir -kalo tidak mau mengatakan persis- seperti wirid yang ada di Indonesia dan Jawa Timur pada khususnya, namanya juga serumpun dan se-mahdzab.
Mulai mendekati jam sepuluh malam, masjid mencapai batas pelayanan untuk umum. Aku bergeser menuju terminal Golden Mile Complex yang berada di seberang masjid. Bukan terminal yang seperti di Indonesia, melainkan cuma bangunan plaza yang halaman depannya digunakan penumpang untuk naik ke bus. Aku penasaran kenapa bisa ada tempat di Singapura yang bintangnya cuma tiga seperti itu di reviu gmaps.
Dari luar sudah gak terlihat sebagai terminal, begitu masuk ke dalam jauh lebih bronx lagi suasananya. Pernah lihat film Jackie Chan, Jet Li, atau film kungfu tahun 2000an yang marak disewakan rental VCD bajakan? Ingat gimana kondisi jalanan malamnya? Ya seperti itu dalamnya Golden Mile Complex. Nyala redup neon cyan menerangi ruangan dan beberapa penjual makanan, toiletnya yang mampet disumbat tisu bertumpuk-tumpuk, dan suara karaoke yang bocor terdengar sampai luar sudah cukup mengingatkanku kembali pada latar belakang film gulat yang kugandrungi waktu kecil. Ada satu hal yang membuat tempat itu gak terlalu serem, tidak lain adalah karaokenya. Hampir gagal aku menahan tawa saat dengar mereka nyanyi lagu "Sayang"nya Via Vallen. Lucu banget waktu denger lirik bahasa Jawa-nya dinyanyikan, "Sayaaaang, opo kowe krunguuuu..." tapi dialegnya Singlish. Setelah menyaksikan itu semua, dan setelah mempertimbangkan dengan matang, bintang tiga kayaknya memang layak buat tempat itu.
Bus berangkat gak setepat transportasi umum Singapura lainnya, ini yang jadi bikin deg-degan. Harus pasang telinga kalo-kalo kenek menyebut nomor tiket dan posisi busnya.
Sudah waktunya berangkat, tapi masih gak kelihatan jenis bus yang aku pesan. Semakin panik saja, aku lari mencari tumpanganku mulai dari pinggir jalan sampai ke pelataran plaza, dan tetep gak ketemu juga. Kalo sampai kelewat jadwal bus malam itu dan harus berangkat besok, jadwal perjalanan setelahnya pasti akan ikut berantakan, ahhh!!! Dengan segala kepanikan itu, ujung-ujungnya cuma bisa pasrah, nunggu dipanggil sambil nyender pasrah di tangga gedung, toh kalo memang kelewat ya gimana lagi. Menempuh perjalanan sendirian, salah satu skill yang harus dikuasai sungguh adalah menekan ke-overthinking-an, biar gak mudah stress.
Toh akhirnya setelah lewat beberapa menit, bus kampret ini datang juga. Bukannya berhenti seperti yang lain, bus yang akan membawaku malah berhenti di pinggir jalan, untung aja mereka teriaknya keras. Kursi nyaman sesuai tiket telah kududuki, lumayan lah bisa istirahat tenang sampai KL nanti.
"Get off!!!", sentakan bernada india kental membangunkanku. Kulihat jam, masih belum terlalu lama sejak waktu berangkat. "Harusnya belum sampai Kuala Lumpur ini mah" aku menggumam dalam hati. Masih bingung, tapi harus turun karena yang lain juga sudah turun. Di bawah baru paham kenapa kenek menyuruh untuk keluar dari bis, sudah waktunya lewat perbatasan negara dan harus masuk imigrasi dulu. Cepet banget prosesnya, cuma lewat selasar gedung lalu sudah balik ke atas bus lagi. Gak terlalu lama melek jadi bisa gampang ngelanjutin tidur.
Belum dapat seperempat jam, suara India itu mebentak lagi, kali ini lebih panjang kalimatnya. "Get off, bring all your luggage!!!" Berkali-kali ia mengumandangkan kalimat itu. Kenapa sekarang harus bawa tas? Lagi-lagi kebingungan sebagai first timer muncul. Terlihat lambang Malaysia. Berarti kalo tadi imigrasi keluar dari Singapura, sekarang giliran imigrasi masuk ke Malaysia, begitu kesimpulanku. Dengan yakin aku berjalan paling dulu, bawaanku cuma satu tas karier, jadi gak ribet kalo dibanding yang lain membawa paling tidak satu koper dan satu tas. Aku menelungkupkan paspor ke mesin scan. tiiiittt..., bunyi melengking terdengar panjang, lampu merah menyala disekelilingku, sedang pintu tidak terbuka. Kuulangi lagi memindai paspor, "tiiitt.." tetap sama lampu merah menyala dan pintu tetap tak terbuka. Berulang kali kulakukan sambil gak ngerti apa yang keliru, tidak ada petugas yang membantu. Tiba-tiba saja aku tahu permasalahannya di mana, tertulis dalam bahasa Inggris yang artinya "Khusus warga negara Malaysia", dan setelah baca lagi ada tulisan "pemindai untuk paspor elektronik". Sudah bukan orang Malaysia, pasporku masih terbitan versi manual, sementara mau keluar bilik pemindai paspor antreannya sudah panjang sekali, malu... di dalam bilik itu aku cuma bisa clingak-clinguk. Mungkin petugas melihatku, dibukakanlah kembali pintu masuk loket, lalu tanpa perlu pikir lama kuputuskan keluar dan langsung ngeloyor ke konter manual. Yang tadi jadi terdepan, sekarang masuk bus paling akhir. Bodo amat, yang penting lolos lah. Kuala Lumpur, lampunya berkelap-kelip terlihat dari jembatan penghubung dua negara.


Komentar
Posting Komentar