Saya & Aku VS 3000 KM (Part 5)

Subuh hampir tiba di Kuala Lumpur. Kecuali sopir dan kenek, semua diturunkan di trotoar depan Berjaya Times Square. Penumpang lain ada yang dijemput dan ada yang naik taksi juga, masing-masing sudah paham agenda selanjutnya. Sedang aku cuma bisa bengong melihat mereka pergi satu demi satu. Nyawa belum terkumpul sepenuhnya, lihat handphone pun bar sinyal seluler tidak nyala barang sedikit, dih! Daripada cuma melamun dan buang-buang waktu, kubulatkan tekad untuk cari masjid dulu buat solat subuh, itu target pertamaku. Ke mana? Gak ngerti. 

Terus saja aku berjalan ke arah barat, sambil utak-atik hp biar dapat sinyal. Kalo sebelumnya akses internet sudah terjamin dari mifi mas Rizki, sekarang harus mengandalkan layanan internet punyaku sendiri. Aku mengira setelah tiba di satu negara bakal langsung aktif paket roaming yang kubeli, ternyata tidak semudah itu. Mau browsing cara aktivasinya pun sudah telat sekali waktu itu, ya kali masa' bisa browsing tanpa internet. Aku coba pencarian sinyal manual, satu persatu layanan seluler yang tersedia coba kusambungkan, siapa ngerti ada yang nyambung salah satu. 

"Kok ada orang pakai sarung jalan? solat di mana dia?" tanyaku pada diri sendiri waktu berpapasan dengan seorang pria sembari tetap mengoprek ponsel. Aku masih terus berjalan ke arah barat, mengambil arah berlawanan dari orang tersebut. Sayup-sayup doa dan pujian mulai terdengar, sudah benar berarti jalan yang aku ambil.

Beberapa saat sebelum mencapai masjid yang telah tampak kubahnya berwarna biru, akhirnya aku berhasil juga mendapat yang kucari sejak tadi. Meskipun cuma HSPA sudah alhamdulillah sekali, yang penting bisa lihat google maps, itu dulu.

Aku solat sekalian mandi di masjid Al Bukhari Kuala Lumpur. Meski dingin subuh masih menggigit, aku bersikukuh mengguyur air ke sekujur tubuh. Bisa jadi itu satu-satunya kesempatan mandi, entah kapan dan di mana bisa bebersih lagi karena sudah diputuskan aku tidak akan membuka kamar di KL.

Karena pengen ke Batu Caves, jadi harus ke KL Sentral dulu. Jaraknya cuma tiga setengah kilo dari masjid, aku memilih berjalan kaki ke sana. Tapi sebenarnya bukan pilihan juga, melainkan memang gak punya alternatif selain jalan. Pagi itu gak pegang uang Malaysia sama sekali, nol Ringgit di kantong. 
 
Jalanan mulai padat seiring matahari yang kian meninggi, aku tetap mengikuti penunjuk arah di hp sambil sesekali mengamati sekitar. Google maps mengarahkanku ke kawasan yang aku perkirakan jadi suatu pusat pendidikan. Beberapa sekolah yang jadi biang kemacetan kulewati, banyak anak sedang di drop-off dari mobil, bahkan ada yang berjalanan jauh dari parkiran mobil karena gak kebagian slot drop-off di depan sekolahnya. Mobil-mobil yang tidak sabar mengantarkan para murid berlomba membunyikan klakson, lengkingan mobil dan tawa anak berkelit berkelindan menyemarakkan pagi. Lepas dari kawasan sekolah, kini melawati kawasan pasar loak. Lucu juga lihat pasar loak tapi di luar negeri, kukira hanya endemi di Indonesia saja pasar sejenis itu.

Aku pikir tiga kilo itu dekat, satu..dua..lalu tiga, dan ternyata aku terlalu meremehkan hitungan "tiga" tadi. Belum makan semakin melipatgandakan kepayahan. Gimana mau makan? uang yang kupunya cuma uang rupiah aja, dan tentu saja gak laku di sana. Lalu teringat masih ada beberapa keping malkist yang tidak kuhabiskan di Singapore dan beberapa helai keripik Irvins Fish Chips yang mas Rizki tidak habiskan. Lebih baik daripada tidak sama sekali bukan?

Masih ada sekitar dua kilo lagi sampai di KL Sentral. Menyusuri trotoar yang sama busuknya seperti di tanah air tidak jadi tantangan berarti, sudah biasa. Sambil sesekali melihat kiri-kanan agar tidak terlalu fokus ke hp, nampak kondisi yang juga tidak beda jauh dengan Jakarta. Terpantau seorang lelaki tengah mandi di bawah guyuran air yang mengalir, tapi bukan air alami yang dipakainya, melainkan air sisa pembuangan yang melewati pipa saluran air. Sempat juga beberapa kali bertemu dengan gelandangan yang tidur sembarangan.

Mendekati kawasan KL Sentral yang juga pusat perbelanjaan, hiruk pikuk bising jalanan yang tiba-tiba muncul menggugah hening kesendirianku. Aku harus punya uang sesegara mungkin, gak bisa ditunda lagi, kan naik kereta gak bisa nebeng. Aku masuk Sevel yang kelihatan ada atmnya dari luar.

Yang tadi agak lupa kalo lapar, sekarang jadi ingat lagi karena kelamaan diam nunggu kereta ke Batu Caves. Bapak-bapak yang godain mbak-mbak bule disamping juga mempersuram suasana hati. Harusnya aku yang ngobrol tadi, kan aku yang ditanya duluan, bikin emosi aja. Coba kalo percakapan mbak bule denganku jadi beneran, kan lumayan bisa ngalihin perhatian dari kelaparan. 

Sama juga dengan KRL di Jakarta, datangnya kereta ke Batu Caves juga telat. Akhirnya sampai Batu Caves sekitar jam sepuluhan. Di tempat yang digunakan ibadah umat Hindu itu sudah terlihat banyak sekali manusia. Harapan melihat tempat itu dalam suasana sepi hilang, tapi untungnya dapat terkompensasi dengan kekaguman yang lain. 
 
Berbeda dengan Prambanan, kuil Batu Caves masih digunakan aktif bahkan wisatawan membaur ketika ada umat Hindu yang beibadah. Bau kemenyan memenuhi ruangan gua yang tinggi menjulang, kubangan air bergerak-gerak karena tetesan air dari stalaktit, serta asap-asap dan sesajian yang terlihat di sudut-sudut gua semakin menebalkan vibes khusyuk di sana jikalau diresapi lebih dalam. Oh iya, bangunan dengan warna-warni yang kontras, serta monyet-monyet yang usil di sela-sela pilar juga jadi atraksi tambahan di sana. Cukup mengambil beberapa foto, aku lekas kembali ke kota, waktuku di KL tidak banyak.

Sesampainya kembali di KL Sentral, langsung ku melangkah menuju halte Go KL, semacam bus trans yang gratis di KL. Dengan 4 jalur yang punya spesialisasi berbeda-beda, ku ambil rute merah terlebih dahulu. Tidak butuh waktu panjang, aku sudah tiba di tempat pertama sesuai itinerary, Museum Nasional Malaysia. Di sana tergambarkan sejarah Malaysia dengan cukup ringkas. Tempatnya yang kira-kira hanya seluas lapangan bola tidak menghabiskan banyak waktuku. Akan beda cerita mungin kalo selain muter museum, aku masuk ke botanical garden-nya sekaligus. Tidak terpaut jauh dari museum, aku menuju masjid nasional, lagi-lagi jalan kaki.
 

Aku kira bakal seperti Masjid Istiqlal, tapi gak begitu ternyata. Memang statusnya masjid nasional, tapi bagiku masih kurang megah mengingat membawa gelar "nasional". Luas area kesuluruhan memang bermeter-meter persegi, tapi bangunan intinya cukup mungil, mungkin kalo ada event besar baru bisa kelihatan kemegahan sejati dari masjid ini. Turis-turis juga dipersilakan lalu lalang seputar masjid karena selain sebagai tempat ibadah, masjid itu juga diperuntukkan sebagai situs wisata. Beberapa orang yang tidak berpakaian sesuai dengan aturan diarahkan untuk memperbaiki penampilannya oleh petugas, tersedia pakaian yang bisa menutup aurat untuk dipinjam. Ya mungkin ada keteledoran, satu turis pria tiba-tiba sudah keluar dari masjid dengan memakai celana pendek. Petugas sempat bingung kapan masuknya itu orang sehingga bisa lolos. Aku merasa geli waktu turis itu diberi penjelasan oleh petugas dan raut wajah penuh tanyanya tidak lagi bisa disembunyikan.
 

Lagi-lagi tidak lama, aku harus menyelesaikan tujuanku sebelum malam. Aku naik Go KL lagi untuk mencapai Dataran Merdeka. Gak menyangka kalau lapangan itu adalah salah satu lapangan utama di Malaysia. Dari hasil pencarian di Google, banyak acara nasional yang diadakan di sana, bahkan sampai sekelas acara peringatan kemerdekaan Malaysia mengambil tempat di sana, dan hari itu kebetulan ada acara nasional juga. 
 
Banyak terlihat berbagai elemen pemadam kebakaran melakukan persiapan, mungkin mau merayakan hari jadinya. Melihat tulisan "bomba" di kendaraan-kendaraan milik mereka aku jadi teringat salah satu episode Upin Ipin. Agak menggelitik, bahasa Indonesia menyebut pemadam kebakaran, bahasa Inggris menyebut fire fighter, sedang di Malaysia disebutnya bomba.



Prev                                                                                                                                                    Next 

Komentar