Saya & Aku VS 3000 KM (Part 6)
Selama-lamanya nunggu bus, gak akan lebih lama daripada nunggu perempuan dandan kalo dari pengalamanku. Memang Go KL tidak sepresisi bus Singapura, tapi masih bisa diandalkan kok, sebelas-dua belas sama TransJakarta. Hingga akhirnya asumsiku mulai goyah mengingat sudah 20 menit menunggu namun tak kunjung muncul satupun armada Go KL. Serangan anxiety mulai terasa. Gak tau lagi harus menunggu sampai kapan, local resident pun lebih memilih naik bus biasa yang berbayar. Aku tidak mungkin mengikuti jejak mereka karena memang tidak ada anggaran untuk naik angkutan selain kereta komuter ke Batu Caves sebelumnya. Akhirnya setelah lebih dari sejam terpaku di halte, datang juga bus kampret warna pink itu.
Menara Kembar Petronas tentu tidak bisa dilewatkan jika mengunjungi KL, dan itu kujadikan tujuan akhirku di sana. Kembali harus berputar-putar dan berganti-ganti bus untuk menyesuaikan rute. Ribet memang, tapi ya itu konsekuensi yang harus dibayar sebagai kompensasi tumpangan gratis. Sore sedang mendung ketika sampai di halte Suria KLCC. Di depanku dua bangunan kembar yang pernah menyandang gelar bangunan tertinggi itu berdiri dengan gagahnya. Selayaknya sebuah landmark, ratusan orang berpose sekenanya untuk membingkai ruang waktu yang mereka anggap istimewa saat itu. Di mana ada keramaian di situ pasti ada pedagang, memang sudah pasangannya seperti itu. Dari pengamatanku, banyak dari mereka yang menjajakan assesoris lensa fish eye, katanya sih bisa membuat foto dengan menara kembar lebih menawan.
Agak lama berpindah-pindah mencari sisi yang pas untuk mengambil foto, sembari menunggu spot incaranku kosong dari edaran manusia. Harapannya nanti tidak banyak distraksi yang mengganggu hasil fotoku atas menara itu. Ujug-ujug saja waktu asyik memotret, ada penjual lensa yang menawariku dagangannya dan kutolak dengan senyum sambil menyodorkan telapak tangan yang terbuka. Bahasa tubuh lebih efektif daripada harus bingung pakai bahasa Indonesia setengah Melayu atau bahasa Inggris umtuk komunikasi.
Mungkin setelah melihat hasil yang cukup menawan, seorang turis meminta tolong difotokan salah seorang pedagang, namun nahas karena permintaannya ditolak mentah-mentah. Gak beli kok mau minta difotokan, begitu kata tukang asongan yang dimintai tolong. Belajar dari situ aku meminta tolong kepada sesama pengunjung saja, biar terhindar dari penolakan yang baru saja kusaksikan. "Can you take a picture of me sir?" pintaku pada seorang turis. Dia hanya menjawab no..no..no.. sambil pergi dengan tergesa-gesa. Apa iya dia gak bisa ambil foto, atau jangan-jangan malah ketakutan karena melihat wajahku? Mengedarkan pandangan ke arah lain, kulihat seorang anak laki-laki berwajah Melayu menggunakan kopiah putih. Langsung saja aku tanyai, "boleh minta tolong difotokan bang?", ia mengangguk setuju.
"Dari mana bang?" tanyanya sambil menyerahkan hapeku.
"Dari Jakarta, terima kasih ya bang." ia membalasku dengan senyum dan kemudian berlalu. Aku melihat lagi Petronas Twin Tower yang mahsyur itu untuk terakhir kali, lalu kuberpaling meninggalkan Kuala Lumpur City Center. Sambil berjalan pelan aku bertanya pada diri sendiri, "Kenapa tadi lupa gak tanya dia dari mana ya? ngomong bahasa Indonesianya lancar sekali"
Sudah jam lima sore, sekiranya sudah wajar mampir ke warung karena sejak pagi belum sarapan. Memang sengaja dipasin sore hari yang bagiku waktu puncaknya lapar kala itu, sekaligus makan jam segitu bisa jadi cadangan tenaga sampai esok hari. Sebuah lahan yang digunakan parkir beberapa food truck aku hampiri. Dari banyak yang disediakan tetap saja pilihannya jatuh pada yang sudah tidak asing lagi, menu andalan tidak lain dan tidak bukan, nasi goreng! Jauh-jauh makannya nasi goreng juga, aslinya mah gak pengen, tapi perut harus bisa beradaptasi sesuai kemampuan kantong.
Waktu jam pulang kerja mengubah lajur-lajur yang lengang menjadi padat tak bertenggat. Lagi-lagi aku tidak mendapat bus. Kalo harus menunggu satu jam lagi ditambah lalu lintas yang merambat, aku ragu bisa sampai ke Kuala Lumpur International Airport malam itu. Setelah lihat peta, memutuskan kembali jalan kaki menuju halte berikutnya adalah pilihan yang rasional. Gakpapa capeknya nambah asal bisa lebih cepat karena dari sanalah kemacetan sudah lebih terurai. Jeritan klakson bersahutan seperti menyorakiku agar berjalan lebih cepat, karier 40L yang penuh bergerak naik turun naik turun menggesek punggungku. Aku membalas klakson itu dengan sunggingan bibir sambil berbicara sendiri, "Kalian cuma bisa klakson, tapi aku yang akan lebih dulu sampai tujuan."
Penuh sesak, aku hanya kebagian sedikit tempat di dekat pintu bus, bahkan keril harus ditaruh kolong kursi biar tidak mengganggu penumpang lain. "Please be careful sir, that's my bag" kataku pada seorang India yang hampir menginjak tasku. Langit kian menggelap hingga awan berganti bintang, bus tetap merambat lambat tak peduli jadi hujan atau tidak. Seorang lelaki India lain turun dari bus. Entah ada masalah apa, dia memaki-maki ke arah bus, bisa jadi dia marah ke seseorang yang masih ada di bus, atau malah marah ke bus karena dirasa lelet sekali. Diikutinya gerak lambat bus sambil merepet sumpah serapah, tak lupa jari tangannya memberi simbol hardikan yang tak kalah parah. Tidak ada balasan apapun dari dalam sampai ia lelah dan jengah mengumpat-umpat. Lelaki itu menyerah, seiring gerak bus yang kembali normal setelah melewati lampu merah.
Apakah aku bisa mendapatkan bus ke KLIA? Apakah uangku masih cukup untuk membeli satu tiket terakhir? Kalo gak bisa dapat bus harus gimana lagi ini? overthinking semacam itu semakin menjadi ketika mendekati KL Sentral. Begitu Go KL berhenti, aku langsung bergegas menuju pool bus jurusan KLIA, terdengar sayup-sayup "bas terakhir bas terakhir!!". Sudah hampir jam sembilan, untung masih tersisa bus yang berangkat ke KLIA. Diperbolehkan duduk manis di kursi penumpang setelah menukar 15 ringgit yang tersisa, tak lama kemudian bus meluncur keluar dari basement KL Sentral.
Dalam benakku, Kuala Lumpur International Airport bakal megah. Statusnya yang internasional harusnya setara atau kalo bisa lebih dari Soekarno-Hatta, tapi itu cuma "harusnya". Lobi yang luas, datar, dan didominasi warna silver terasa sangat dingin, apalagi tak banyak assesoris yang terpasang. Beberapa toko kecil yang masih buka tidak juga terlihat hidup. Malahan di sela-sela pintu masuk bandara yang terdiri dari dua lapis kaca transparan digunakan rebahan beberapa orang, bandara internasional apaan ini?
Aku yang agak lapar melirik lagi sisa Ringgit Malaysia. Setelah dihitung-hitung, aku memanjatkan harapan, "Semoga masih bisa dapat satu bungkus roti dan sebotol air mineral". Aku masuk ke minimarket dan langsung menuju ke bagian roti, terlihat roti kecil yang mirip Sari Roti di tanah air. Beruntung sekali, uang yang tersisa masih bisa dipakai beli dua bungkus roti itu, ditambah satu botol air mineral. Sudah lebih dari cukup, satu dimakan sekarang, satunya buat besok.
Duduk di kursi tunggu sambil makan, terlihat satu botol air minum yang masih setengah penuh teronggok di bagian kursi lainnya. Toleh kanan toleh kiri gak ada orang lagi. Apa ini memang rejeki buatku? Dan kupastikan itu benar-benar anugerah buatku dengan cara meminumnya habis setelah gigitan roti yang terakhir. Masih ada satu botol utuh air minum dan sebungkus roti untuk besok berarti.
Terdapat hotel kapsul di ujung koridor sisi kiri bandara, tapi gak mungkin tidur sana, uang tinggal 1 RMY. Lagi-lagi diganjar keberuntungan karena ada mushola persis sebelum hotel kapsul. Usai membaca Al-Kahfi karena kebetulan malam Jumat, kukeluarkan sarung lalu berbaring di kursi besi bolong-bolong seperti wajarnya model kursi di ruang tunggu. Sebelum terlelap masih sempat lewah pikir untuk terakhir kali dibalik kerubut sarung, "Kok tadi cleaning servicenya ngajak ngobrol pakai bahasa Indonesia? Kok bisa tahu kalo aku dari Indonesia? Atau aku yang salah dengar padahal sebenarnya dia ngomong pakai bahasa Melayu?" Lagi-lagi kecewa karena gak sempat bertanya.
Komentar
Posting Komentar