Saya & Aku VS 3000 KM (Part 7)
Bunyi berisik mengganggu tidurku. Dari balik sarung yang menutupi sekujur tubuh, aku melihat dengan samar orang lalu lalang berjalan melewatiku. "Sial, kelewat subuh...!" gumamku sambil melihat notifikasi di ponsel. Setelah membereskan bekas menggelandang sekaligus usai menunaikan kewajiban, aku menuju ke lantai dua KLIA.
Eskalator bergerak tidak tergesa-gesa. Dengan ritme yang pelan, semakin ke atas semakin terlihat bentuk asli bandara ini. Lhah! layout yang kuvonis jelek kemarin malam ternyata cuma kedok saja, di lantai dua nampak betul kemewahan bandara internasional Malaysia itu. Memang gak salah dan layak menyandang nama "International". Karpet merah nan empuk menutupi hampir seluruh permukaan lantai. Kios-kios ditata secara menyebar hingga saking banyaknya malah seperti mall ketimbang bandara. Andai saja tahu semua itu lebih cepat, aku mungkin bisa dapat lokasi tidur yang lebih nyaman, dan tak perlu risau dengan dinginnya musola yang sepi. Aku menuju ke deretan konter maskapai Air Asia, dan mendapat boarding pass tak lama kemudian.
Siapa sih yang mau ke Aceh dari Malaysia? Gak bakal banyak harusnya, toh ngapain juga mereka ke Aceh kan? Lagi-lagi aku berspekulasi dan lagi-lagi juga aku keliru. Berada di dalam pesawat yang semua kursinya terisi penuh membuat aku heran. Kukira yang menunggu bersamaku di ruang tunggu tadi bakal terbang ke tujuan lain, ternyata satu ruang tunggu itu untuk satu tujuan, tujuan yang sama denganku. Dari sekian banyak penumpang, laki-laki belia yang mengenakan sarung dan berpeci jumlahnya tidak sedikit. Ke Aceh? berpeci dan bersarung? Apa mereka mau mondok?
Landing di bandara Sultan Iskandar Muda lengang sekali suasananya, mirip suasana di bandara Abdul Rachman Saleh. Tidak perlu mengisi customs declaration karena memang tidak belanja apapun, langsung saja aku ngeloyor ke petugas avsec untuk pemeriksaan tas. Urusan kepabeanan aman, menurut petugas keamanan bandara statusku juga sudah clear, tunai semua kewajibanku sebagai orang yang kembali masuk ke tanah air.
Rintik berintik menggoyang kubangan air saat aku masih sibuk mengembalikan setelan awal pengaturan sinyal hp. Siang itu aku sudah menetapkan hati harus sampai kota Banda Aceh, baru setelahnya ke Pulau Weh. Naik taksi tentu bukan pilihan mengingat harganya, jadi pilihannya ya transportasi umum, dan tidak ada yang paling tahu transportasi umum dibanding warga lokal. Seperti kebiasaanku sebelum-sebelumnya, paling mudah mengumpulkan informasi ya dari warung sekitar, info dapat, perutpun kenyang.
Menu siang itu rujak, rujak buah lebih tepatnya. Gak kenyang pasti, tapi wong sudah terlanjur masuk warung gimana lagi? gak ada papan tulisan di luar warung. Begitu dimakan, hmmmm... Enak sekali rujaknya, sungguh di luar ekspektasi. Padahal menurutku kurang meyakinkan baik dari tampilan dan juga warungnya. Bisa jadi rasa enak itu muncul karena aku beneran lapar, tapi yang pasti adanya irisan kweni yang segar lagi sedap semakin mempertebal rasa dan keunikannya. Terima kasih kuucapkan kepada penjaga warung atas sajian rujak beserta informasinya tentang angkutan umum. Ada Trans Kutaraja, Trans Jakarta-nya Aceh yang gratis, haltenya tidak jauh dari warung.
Seonggok bus terpakir di halte yang dimaksud penjual rujak, kosong melompong tak berisi, supirnya pun tidak ada. Aku menunggu lama sekali, tak ada tanda akan jalan jua. Kemudian seorang nenek naik ke halte, alhamdulillah ada teman ngobrol, jadi bisa tanya-tanya. Setelah menyelesaikan percakapan template awal perkenalan, beliau menuturkan kalo bus itu akan berangkat setelah Jumatan. Sialan! artinya terbuang percuma waktuku sejak tadi dong! Sudah tahu pasti bus tidak akan berangkat dalam waktu dekat, aku mohon izin ke nenek untuk pergi Jumatan. Waktu menuju masjid kucoba beberapa kali mengacungkan jempol. Jumat yang mubarok bukankah waktu yang baik untuk menolong orang? Satu motor trail melipir, alhamdulillah dapat tumpangan. Aku diturunkan di depan Masjid sederhana yang ukurannya sedikit lebih besar daripada surau di kampung. Ramai jamaah terlihat berpotongan rambut cepak, wajar saja karena masjidnya terletak di komplek tentara angkatan udara.
Usai Jumatan kembali ke halte, kali ini aku sudah dapat tumpangan sejak keluar dari masjid, gak perlu jalan kaki. Di atas tempat tunggu bus terlihat dua orang duduk sambil bercakap-cakap, nenek yang tadi ditambah seorang kakek. Sopir yang ditunggu menyusul tak lama kemudian.
Kalau melihat rute, seyogiayanya aku bisa turun di depan Masjid Raya Baiturrahman. Dari sana nanti langsung ambil bus koridor lain menuju pelabuhan Ulee Lheue (dibaca ulele dengan e yang dilafalkan pada kata "entah"). Mendung menggelayut berat di langit serambi mekah, menahan air yang tak sabar turun mengeroyok tanah. Bus menuju ke Ulee Lheue sudah tersedia sesampainya aku di halte Masjid Raya Baiturrahman.
Tak mampu tertahan lagi, hujan turun menjadi-jadi. Di dalam bus aku mengkira-kira, sampai sorekah hujan ini akan turun? bagaimana dengan penyeberangan ke Sabang? Langitpun memberi sedikit kemurahan hampir bersamaan dengan berhentinya bus. Aku melanjutkan ke pelabuhan feri dari halte terakhir. Busnya memang berhenti di pelabuhan, tapi pelabuhan nelayan, jadi harus sedikit effort untuk mencapai pelabuhan penyeberangan. Dan lagi-lagi dengan kemurahan inlander, aku bisa sampai lebih cepat ke pelabuhan dan tak perlu berpayah-payah jalan kaki.
Puluhan calon penumpang sudah ramai menunggu, tapi loket dibiarkan lengang tanpa pengantre, tidak salah lagi mereka sudah memegang tiketnya masing-masing. Kudapatkan satu untukku sesuai arahan pemboncengku barusan.
Ombak sedang bergulung-gulung ketika menunggu giliran naik ke kapal. Di bagian dermaga aku melihat kapal feri besar yang sedang istirahat, katanya gak berani berangkat kalo ombak sedang kurang ramah begitu. Beruntung speedboat yang aku tumpangi tetap berangkat, rego nggowo rupo, ombak segitu bukan masalah berarti.
Walaupun lautan waktu itu masih tidak lebih parah daripada laut utara Madura, terguncang-guncang di tengah laut tak pernah mudah bagi diriku. Mencoba tetap cool meski hati tak henti membaca doa, karena toh harus bilang siapa kalau merasa takut? Ketenangan penumpang lain membuat merasa yakin semua berjalan dengan semestinya dan membantuku meredam kepanikan selama 45 menit berikutnya.
Lagi-lagi aku "membeku" ketika sampai di tempat baru. Datang tanpa ada tujuan, matahari semakin lama semakin hilang ke barat. Kudengar pengumuman sepeda motor yang disewakan. "Berapa pak?" tanyaku. Dan negosisasi secukupnya menghasilkan kesepakatan 80 ribu rupiah untuk lepas kunci sampai besok siang.
Kota Sabang yang tidak besar, bahkan lebih mirip kecamatan daripada kota kukelilingi dengan cepat. Tidak ada keramaian yang berarti, mungkin juga karena teror mendung sedari sore. Beberapa rumah singgah kuhampiri, hingga berakhir pada satu kamar panggung seharga seratus ribu yang kujadikan pilihan bermalam. Sekitar 10 menit setelah meletakkan semua perlengkapan, tumpah juga seruah-ruahnya bulir air yang ditahan mega abu-abu itu. Allah sayang padaku, syukurku dalam hati.
Badai meraung-raung, bersahutan dengan gemerutuk perut. Kali ini sepertinya hujan tidak akan berhenti sampai esok pagi setelah sempat istirahat sebentar waktu magrib tadi. Kalo gak dipaksa keluar, alamat bakal sulit tidur karena perut pasti menagih haknya. Aku ijin pada ibu pemilik rumah meminjam payung, mau cari makan.
Hujan disertai angin, lampu jalan mati, jalanan banjir, dan gak tau mau cari makan ke mana. "Asal aku ikuti jalan besar ini pasti ketemu penjual makanan" pikirku. Lalu terlihat kedai terpal sederhana tanpa lampu dengan satu orang yang sibuk menyalakan lilin, dari taksiranku pasti orang itu penjualnya, aku berjalan menghampirinya.
Mi goreng dengan asap tebal yang tertiup angin terhidang dihadapanku. Sambil ngobrol dengan pak penjual, kunikmati pelan-pelan masakan yang disajikannya.
Malam itu tidur nyenyak sekali. Kelelahan ditambah kesadaran besok adalah hari yang panjang semakin mempercepat ritual tidurku.


Komentar
Posting Komentar