Saya & Aku VS 3000 KM (Part 8)
Pagi buta, persis selepas subuh aku membangunkan pemilik penginapan. Kuserahkan selembar uang kertas merah dan aku pamit meninggalkan penginapan. Jika tidak dimulai sepagi mungkin, aku khawatir bakal ditinggal kapal yang jadwalnya sangat terbatas itu.
Padahal Sabtu, tapi suasananya sepi sekali. Monyet-monyet turun ke jalan memandangi satu orang tidak dikenal melaju dengan motornya. Hutan di kanan-kiri menjinakkan jiwaku yang telah lama menggebu-gebu akibat pengaruh ibu kota. Melaju dengan konstan, tikungan, patahan pohon, dan longsoran kulewati dengan mulus. Mendekati ujung jalan yang tertera di peta, berdiri gapura bercat biru bertuliskan "Selamat Datang Kawasan Wisata Titik 0". Tanpa menambah ataupun mengurangi kecepatan, aku terus melaju melewati loket yang kosong. Warung juga kosong, tempat percetakan sertifikat titik 0 juga kosong, semua kosong. Kelihatannya tidak ada yang minat beraktifitas pagi itu, pengaruh hujan lebat kemarin masih terasa. Hanya ada aku sendiri, yang mencoba selfie dan berulang kali gagal karena memang tak terbiasa narsis sejak lama.
Senyum mengembang tanpa disengaja, takjub dengan diri sendiri yang akhirnya bisa sampai di sana. Bahagia, ombak berdebur memberi selamat, angin laut berdesir menyoraki. Ku panjat gardu pandang di belakang beton yang membentuk tulisan "KILOMETER 0 INDONESIA". Berdiri tegak di ujung negeri, jantung berdebar tak karuan. Mataku bertahan tetap kering padahal bulir-bulir air sudah menggenang di pelupuk mata, susah memang mengemban titel "orang kuat".
Aku melihat jam karena teringat kapal yang menunggu, tak bisa lama-lama terbuai kemagisan ujung barat Indonesia itu. Keinginan untuk melihat Goa Jepang dan Pantai Iboih pun kuurungkan. Terus saja aku berkendara ke selatan, ditemani mendung yang tak kunjung pudar. Masih beberapa kilo saja belum jauh dari gapura biru, hujan tanpa basa-basi turun dengan derasnya. Kebetulan ada warung sederhana di depan, meskipun cuma tersusun dari papan kayu tapi masih bisa buat berteduh. Sambil isi bensin sambil sekalian sarapan juga.
Sepanjang perjalanan kembali ke pelabuhan, masih kusempatkan berhenti beberapa kali waktu terlihat ada tempat yang menarik. Yaa... kan mumpung masih di sana. Gambar keindahan Sabang yang tampak dari vlog tur darat di Youtube benar-benar bukan isapan jempol. Sekian banyak pantai yang menawan terlihat dari ketinggian, mengiming-imingi untuk dijelajahi secara langsung. Dan untuk mengobati ketidakbisaan itu, aku biarkan kameraku yang berbicara banyak.
Mendekati tengah hari aku mencoba menghubungi pemilik motor. Sulit tersambung, sinyal Indosat busuk sekali di sana. Setelah akhirnya bertemu kukembalikan kunci motornya, dan si bapak kemudian menawarkan membelikan tiket, kalo orang lokal lebih cepat dialayani katanya. Benar saja, entah gimana dia bisa tidak ikut antre dan bisa cepat sekali mendapat tiket. Diserahkannya selembar tiket beserta KTPku, "ada tambahan gak mas?" ucapnya. "Maaf pak, uang saya tinggal segini" sambil kuperlihatkan dompetku yang tinggal selembar lima puluhan ribu. Agak kecewa orangnya, tapi gimana lagi?
Empat puluh lima menit kemudian sudah tiba kembali di pelabuahan Ulee Lheue. Agak mual, tapi masih lebih baik dibanding waktu berangkat hari sebelumnya. Keluar dari bangunan pelabuhan kebetulan ada Trans Kutaraja yang terparkir, bisa sampai kota lebih cepat dan gratis lagi aku, mantap!
Untuk makan siang aku sudah memutuskan untuk mencoba mie aceh, akupun sudah dapat rekomendasi satu resto mie aceh dari orang asli sana waktu kami saling bercakap di bus yang berangkat dari Ulee Lheue. Katanya sih lebih enak dari Mie Racing yang terkenal itu. aku percaya saja dan langsung memesan ojol untuk ke sana setiba di halte terakhir.
Sambil menunggu, pramusaji menyuguhiku kudapan bersama kopi sanger yang sebelumnya sudah kupesan. Kopinya kuminum, kudapannya kubiarkan, takut gak bisa bayar, uangku tinggal sedikit. Mie datang menyusul tak lama berselang, kepulan asap dan bau sedap berebutan menyembul dari tumpukan mie.
Baru satu suapan, mataku terbelalak begitu saja, kaget dengan rasa mie aceh yang asli Aceh itu. "Kenapa begini? Kenapa sangat terlalu hambar sekali dibanding dengan mie aceh yang di Jakarta?" Hingga suapan-suapan berikutnya rasa masih tidak kunjung berubah, laparpun tidak bisa menolong sajian itu agar lebih enchanced.
Satu lagi armada motor hijau aku pesan untuk mengantar ke Masjid Baiturrahman, sambil minta tolong juga mampir ke ATM dulu. Uangnya hampir habis setelah dipakai membayar kopi dan mie aceh, yang tersisa di dompet hanya beberapa helai uang lecek senilai dua puluh ribu rupiah lebih dikit.
Sampai di ATM dengan warna dominan biru, terlihat seorang ibu-ibu keluar dengan raut muka kecewa. Aku masuk setelahnya, dan baru ketahuan kenapa ibu tadi kecewa, ATMnya gangguan, gak bisa dipakai. Minta tolong lagi ke driver untuk mengantar ke ATM Mandiri lainnya, dan hasilnya sama tetap tidak bisa. Kucoba menarik uang dari ATM bank lain, bisa muncul nominal yang mau ditarik, tapi hingga bermenit-menit menanti tetap tidak ada lembaran uang yang mau keluar dari mesin. Segan terus-terusan ngerepotin pengemudi, aku langsung minta diantar menuju Masjid Agung Baiturrahman. Untung e-wallet masih bisa diandalkan.
Cahaya silau memantul dari kubangan bekas hujan yang terbentuk di lantai. Cat putih bangunan semakin terlihat berkilauan terkena berkas sinar matahari. Tidak ada kegiatan lain selain mengambil gambar. Yang biasanya aku akan solat kalau ketemu masjid baru yang ikonik, tak ada sepintaspun pemikiran seperti itu yang sempat terbesit. Otakku sedang mirip otak Patrick Star yang belum tertancap stekernya. Itulah salah satu momem eureka yang kutemukan dalam perjalanan itu.
Baru paham kenapa orang bisa nekat waktu gak punya uang. Nekat jambret, nekat mencuri, nekat korupsi, nekat jual diri dan nekat-nekat negatif lainnya, karena memang semengerikan itu rasanya gak punya uang. Mengerikan sekali, sungguh mengerikan boi!!! Film Saw atau Pengabdi Setan itu mengerikan menurutmu? Tunggu sampai kamu ngerasain sendiri pengalaman gak punya uang dan gak tau harus minta bantuan ke mana lagi selain Yang Maha Kuasa. Gak tau sampai kapan error layanan bank itu akan berlangsung, tapi kalau lihat di timeline Twitter sudah banyak sih yang marah-marah pakai hashtag #mandirierror.
Beberapa saat bengong, lalu ingat kalo ada satu orang atasan yang dulu sempat kerja bareng di Gresik dan sekarang sedang tugas di Aceh. Sudah lama tidak komunikasi harusnya membuat canggung, namun premis itu tidak berlaku bagiku yang memang sedang buntu-buntunya dan butuh pertolongan segera. Agak panjang aku menulis pesan, intinya aku sudah di Aceh dan mau sambang ke tempat tinggalnya. "Tunggu di situ aja, aku susul" balasnya. Padahal sudah siap mengais sisa-sisa rupiah untuk ojek, eh malah sampai disusul pula, kan jadi enak. Sebuah antiklimaks yang cepat memang.
Walaupun bukan keluarga, tapi ketemu orang yang dikenal di tempat yang jauh hampir pasti bisa membangkitkan rasa saling mengeluargai. Aku cerita tentang perjalanan sebelumnya hingga bisa sampai Aceh, cerita suasana terbaru kantor di Gresik, cerita rekan kerja yang sudah pindah, cerita akuarium yang jadi hobinya dan akhirnya jadi ketertarikanku juga, serta yang tidak dilupa cerita bab uang yang tidak banyak kumiliki. Siang hingga malam kuhabiskan di sana, tak kemana-mana, termasuk membatalkan kunjunganku ke Museum Tsunami dan Museum PLTD.
Sambil cerita-cerita aku mengutarakan kalo hari itu juga aku akan berangkat ke Medan. Ia menanyakan ketersediaan bus ke tetangganya. Diberilah kontak bus Medan dimaksud, dan waktu dihubungi ternyata ada armada yang berangkat malam itu juga. Setelah magrib aku diantar ke terminal bus Aceh.
Pak Wahyu atasanku di Gresik itu memberi tahu kalo orang Aceh tipe-nya jarang ada yang mau barang jelek. "Lihat, hampir bagus semua kan barang yang ada di sini?", aku mengangguk pelan. Sesampainya di terminal memang terlihat semua bus tidak ada yang rombeng sama sekali, beda jauh sama kaleng karatan beroda di Jawa. Kami berdua menuju loket karcis PO yang telah dipesan lewat telepon sebelumnya. Beruntung masih ada satu seat, padahal jarang sekali ada tiket go show, rejeki anak soleh katanya membercandaiku. Ketika mau mengeluarkan dompet, Pak Wahyu teguh mencegahku. Sempat terjadi sedikit dorong-dorongan antara kami berdua. Gak enak sekali rasanya, sudah lah ditampung, makan malam dibayari, sampai-sampai mau repot mengantar ke ATM, eh sekarang malah mau bayar tiket bus juga yang harganya lumayan. Sungkan, tapi toh aku masih kalah gigih dengan paksaanya yang terlampau baik.
Bingung rasanya mau berpisah. Terlalu banyak yang aku terima. Berulang kali terima kasih rasanya tak cukup, tapi cuma itu yang bisa tersampaikan. Semoga ia segera mendapat penempatan yang lebih dekat dengan keluarganya, dan selalu dilimpahi keberkahan baginya, istrinya, dan dua anaknya yang sering bermain denganku ketika di Gresik.
Ia dan temannya kembali ke mobil, aku membenarkan posisiku di bus.
Komentar
Posting Komentar