Saya & Aku VS 3000 KM (Part 9)

Terbangun aku ditiup angin air conditioner, deretan gigi atas dan bawah bergemurutuk saling adu. Hawa emosional berhembus membawa pertanyaan bagi diriku sendiri, untuk apa dan siapa perjalanan ini. Belum terjawab pertanyaan pertama, pertanyaan kedua menyusul dengan tidak sabar, pertanyaan atas nasib mereka-mereka yang hidupnya selalu di luar. Bagaimana mungkin mereka bisa terbiasa, sedang aku yang berselimut di dalam bus pun tetap tak tahan dihempas dingin. 

Aku tanya kepada kenek bus tentang kemungkinan untuk menurunkan suhu ac. Pertanyaan yang sekaligus permintaan itu dibalas dengan senyum dan tawa kecil. "Gimana cara nuruninnya bang, kan ini ac sentral" jawab si kenek. Lubang ac yang kututup cuma bisa mengerem angin agar tidak meniup ubun-ubunku, sedang lubang-lubang lain masih menganga dan mengerahkan pasukan dingin terbaiknya untuk menusukku hingga ke tulang-tulang. Lubang ac bus yang kecil terasa lebar sekali, selebar jalanan Aceh-Medan.

Tidak disarankan buang air kecil di bus, terlebih bagi perempuan. Sayangnya aku sudah tak tahan, dan aku laki-laki. Di dalam bilik menyedihkan ukuran 1x0,5 meter, kembali kupertanyakan keputusanku membuat perjalanan itu, juga kembali kumerenungi orang-orang yang selalu hidup di luar tanpa tempat tinggal tetap.

Lumayan lega ketika tiba waktu subuh karena akhirnya dapat juga kesempatan keluar dari kulkas berjalan itu. Kelihatannya memang masjid yang kami singgahi sudah jadi masjid langganan para sopir bus AKAP. Masjid yang tidak besar, letaknya di tikungan yang malah menyulitkan bus untuk parkir, tapi bisa rame? aneh. Apakah ini bukti nyata kalo ada masjid yang menggunakan pesugihan seperti pertanyaan pemuda tersesat beberapa waktu dulu? Setelah menunaikan kewajiban  seadanya, aku segera kembali ke bus, jangan sampai tertinggal di tempat antah berantah. Udara di dalam kabin menjadi lebih hangat, pintu yang terbuka sejak tadi menjadi jalan keluar hawa dingin dari dalam.

Matahari agak meninggi waktu sampai di kota Medan.

Semua yang ada di bagasi bus dikeluarkan ke lantai pool PO bus. Aku keluar menenteng ransel sambil memesan sebuah ojek daring. Sepagi itu tak kuat aku menahan hasrat pergi ke durian Ucok. Mau sarapan durian di sana, sekaligus mentuntaskan penasaraanku, seenak apa durian Ucok ini hingga banyak orang mengelu-elukan. Dan yang terpenting, bisakah mengalahkan durian Ngamtang?

Di depan kedai besar berukuran 4 ruko biasa yang dijadikan satu, aku mengamati rangkaian huruf warna hijau dengan latar belakang kuning yang terbaca "UCOK DURIAN". Foto-foto pesohor ditempel di dindingnya, memberi tahu sekaligus menegaskan kepadaku kalo "Kami ini yang asli lho!". Aku memesan satu durian kategori terkecil, biar hemat dan memang kuatnya makan sendiri ya ukuran segitu. Dipilihkan, dibukakan, dan disajikan, aku tinggal duduk manis menunggu. Begitu kucoba gigitan pertama, tercenung sebentar aku dibuatnya. Kok bisa rasa sebiasa ini menjadikan tempat jualan durian yang satu ini lebih istimewa ketimbang yang lain!? Dibandingkan durian Ngantang? Ibarat perbandingan antara Ana de Armas dengan Ngatinah, tak usah kuutarakan durian mana yang Ana de Armas ataupun Ngatinah.

Mengobati kecewa, aku menuju ke Istana Maimun. Dari Durian Ucok gak jauh, cuma beberapa menit saja. Dari gerbang masuk terlihat bangunan yang megah namun arsitekturnya tidak sesuai dengan tren masa kini, juga banyak orang lalu lalang di depan dan dalam rumah. Dua hal itu yang membuatku mengenali bangunan unik di depanku sebagai Istana Maimun. Alhamdulillah bangunan cagar budaya itu diperlakukan dengan baik, karena kalo sampai ditelantarkan gak bakal kelihatan kalo itu adalah sebuah istana. Malahan yang sejatinya istana itu bakal dianggap sebagai rumah orang kaya yang nyentrik aja, dan gak akan jadi salah satu tempat wisata utama di Medan. Melewati halaman luas, aku berjalan santai sambil sesekali didahului kuda yang ditumpangi bocah-bocah, menuju bangunan utama di tengah. 

"Maaf pak, Istana Maimunnya lagi mati lampu, soalnya habis korslet kena hujan semalam. Bapak berkenan tetap masuk?"

"Iya mbak, gakpapa." Ya memang gakpapa mati lampu, toh cahaya matahari masih bisa masuk lamat-lamat. Sudah jauh begini bakal rugi kalo sampai batal cuma gara-gara listrik padam.

Sebuah palace untuk pembesar Kesultanan Deli jaman dahulu. Di dalamnya dipamerkan juga segala pernak-pernik yang dikenakan para anggota kesultanan, mulai dari penutup kepala hingga alas kaki lengkap dengan latar belakang sejarahnya. Sedang fokus mengamati aksesoris, tiba-tiba ada seorang ibu mencolek lengan saya, "Mas, kalo mau foto berapa ya?" Gara-gara ada kamera yang menggantung di leher, aku dikira tukang foto lho! Aku menolak secara halus, dan mengatakan kalo cuma pendatang biasa juga sama seperti mereka. Mereka tertawa-tawa karena telah keliru, aku beringsut pelan meninggalkan mereka. Rasa malu, lucu, dan kikuk timbul bergantian di kepalaku.

Kalau menurut things to do-nya google, di kota sudah tidak ada lagi yang membuatku penasaran, jadi kuputuskan untuk bergegas menuju tujuan utamaku mengunjungi Sumatera Utara, apalagi jika bukan Danau Toba. Kalo dari internet sih bilangnya ke terminal aja, nanti bisa cari bus ke Toba langsung dari sana, tapi kalo dari ojol yang aku tumpangi, abang drivernya mewanti-wanti untuk tidak mengambil opsi itu. "Banyak terjadi pencopetan di bus bang, orang-orang yang menempuh perjalanan jauh jadi lelah dan gampang lengah, itulah yang mereka manfaatkan. Mending ambil travel ke Siantar, lalu dari sana ambil transportasi umum lainnya ke Toba" wejang si abang. Untung saja belum sampai terminal meskipun gerbangnya sudah terlihat di ujung hidung. Aku minta turun di pinggir jalan yang kebetulan berjejer warung-warung tenda. Kumasuki sebuah warung soto yang ada stiker halal di etalasenya, ingat ya stiker halal, bukan label halal MUI.

Beda sumber beda pula petunjuknya, padahal penyedia ojek daring yang kugunakan sama dengan sebelumnya meski memang berbeda pengemudinya. Kalo yang sebelumnya memberi saran untuk tidak naik dari terminal, sedang yang sedang kunaiki waktu mengarah kembali ke kota malah mempertanyakan keputusanku. "Sebenarnya sudah bener naik dari terminal tadi bang" ujarnya. Ya tapi masak harus balik lagi ke terminal? Dikira aku ini kecoa bingung yang suka mondar mandir di kamar mandi kali ya? Pilihanku sudah mantap, lanjut pakai travel aja. 

Parahnya, di PO yang dimaksud ojol sudah tidak ada lagi travel menggunakan mobil elf, jadilah diganti dengan bus juga ujungnya. Kocak ngakak, semakin membagongkan, ya apa bedanya dengan naik dari terminal tadi dong? Setelah menunggu agak lama datanglah bus ukuran sedang warna orange. Bus kampret ini yang akan mengantarku dan penumpang lainnya menunju pemberhentian terakhir di Siantar.

***

Turun di Siantar di daerah pertokoan kawasan pusat perbelanjaan, dengan deretan ruko-ruko kusam yang mengutarakan umur masing-masing. Tidak belajar dari pengalaman sebelumnya, aku masih gak paham harus ke mana saat penumpang lain telah menyebar sesuai tujuan masing-masing, akupun tertinggal sendirian. Ya malu bertanya memang sesat di jalan sih, aku meminta penjelasan ke orang yang pertama aku temui siang itu. Alhamdulilah orang Indonesia ramah-ramah, itulah enaknya melancong di negeri sendiri. Niatnya cuma mau tanya arah, aku malah dipanggilkan angkot yang benar bahkan sampai dititipkan ke supirnya. "Nanti turun di Simpang Dua ya, mau ke Toba dia" kata tukang parkir yang kutanyai pertama kali siang itu.

Menumpang di muka duduk di sebelah sopir, aku terus berpikir kok bisa ada simpang dua? simpang kan harusnya tiga atau lebih jalan yang bertemu di suatu titik, kalo simpang dua berarti jalan lurus dong, iya kan? Di pinggir jalan menuju Simpang Dua banyak dijual daging hewan kaki empat. Sekilas kelihatan seperti anjing atau sejenisnya, tapi gak ngerti apa sebenarnya mereka itu. Kulitnya sudah dikelupas, dan dagingnya sudah dalam keadaan setengah matang. Cuma yang bikin bergidik adalah waktu terlihat susunan gigi hewan yang dijual itu masih menempel kuat di kepalanya, utuh dan tajam.

Angkot menepi, katanya sudah sampai di Simpang Dua. Aku baru ngeh ketika mendapati langsung Simpang Dua itu. Di kampungku ada sebuah perempatan yang disebut "Pertigaan" sama warga lokal, jadi gak heran pertigaan tempatku berdiri waktu itu diberi nama "Simpang Dua". Mobil avanza terparkir beberapa, kata sopir angkot tadi bisa digunakan untuk ke Toba. Setelah sepakat dengan biaya perjalanan, aku diarahkan menuju sebuah mobil yang berwarna hitam. Kami berangkat setelah sopir merasa penumpang cukup. Iya benar, patokannya adalah "sopir merasa cukup", bukan kapasitas kendaraan yang telah penuh. Berapa orang agar sopir merasa cukup? Delapan! Ada delapan manusia yang dijejalkan di mobil sejuta umat itu, dan aku kebagian duduk di baris paling belakang bagian tengah. Kembali kupertanyakaan apa tujuanku hingga sampai ke sana dan untuk apa sejatinya perjalanan itu.



Prev                                                                                                                                                    Next

Komentar