Saya & Aku VS 3000 KM (Part 10)

Lanskap menuju Toba yang hijau-hijau sangat bisa meredam efek stress akibat lama berada dalam Avanza bangke itu. Suhu yang semakin lama semakin dingin seiring menjauhinya kota juga sangat membuat nyaman. Yang jadi kekurangan cuma satu, tidak ada kesempatan untuk berhenti sesuka hati, padahal ingin sekali aku turun di pinggir jalan. Danau purba yang ditengok dari ketinggian memamerkan kecantikan yang paripurna, siapapun kukira sulit menampik opini yang berlandaskan fakta tersebut. Cantik, cantik sekali! Memang sudah maqomnya Danau Toba didaulat menjadi wisata super prioritas Indonesia. Aku membayangkan diri ini bermotor melibas liukan-liukan jalan dengan tumbuhan yang merindang di sisi-sisi jalan, ditambah kesejukan yang pas untuk berkendara. Matapun tak hentinya dimanjakan pemandangan danau biru yang luas tak terkira, dan dikelilingi gelombang perbukitan warna hijau. Kalo ada yang mengaku pemotor tapi tidak kepincut dengan semua itu, tidak salah kolo menganggap dia hanyalah pemotor blekok.

Memasuki keramaian Parapat, Avanza mulai berbelok ke jalan yang lebih kecil meninggalkan jalan utama, "Ke mana aku akan dibawa?" Sebelum berangkat sudah bilang kalo minta tolong diantar ke Ajibata, tapi melewati jalan yang tidak meyakinkan seperti itu ya jadi membuatku sedikit merasa ganjil. Ada rasa khawatir karena suasananya semakin redup saja. Dalam diam aku harap-harap cemas, semoga memang benar jalan yang kulalui, toh tiba-tiba meminta diturunkan di pinggir jalan pun bukan pilihan yang bijak. Ujug-ujug dari balik perkampungan terlihat dataran yang berkilau-kilau, dataran yang setelahnya terlihat sebagai air, air dalam jumlah berkubik-kubik. Alhamdulillah sampai juga di pelabuhan. Tidak ada guna overthinking beberapa menit sebelumnya kecuali hanya semakin menurunkan moral saja.

Ibu-ibu paruh baya dengan suara melengking dan logat Bataknya yang kental memanggilku, "Mau menyeberang!?". Aku mengiyakan. Dengan tetap tidak mengurangi intonasi, ia memintaku mengisi daftar penumpang. Dua belas ribu kuserahkan sebagai ganti tiket yang dipegangnya, dan dipersilakanlah aku masuk ke kapal. Aku menuju ke dek atas agar bisa melihat pemandangan lebih leluasa dan terhindar dari suasana singup lantai dasar. Setengah jam berikutnya hampir semua kuhabiskan dengan mengambil foto sambil senyum-senyum sendiri, mengagumi ciptaan-Nya yang sedang kuseberangi kala itu.

Setibanya di Tomok dan sejak turun dari kapal, deretan kios yang mayoritas penjualnya berdagang merchandise berupa kaos dan ornamen-ornamen menyambutku riuh. Sambil memberi senyum kepada para penjual yang berderet sepanjang jalan, aku terus saja berjalan mengikuti jalur setapak yang dicor hingga akhirnya sampai di ujung pamungkas, tempat berdiri Museum Batak. Kebetulan di sebelahnya ada mushola, mampir dulu sebentar.

Di dalam museum berbentuk Rumah Bolon itu tersaji segala benda-artefak yang terkait dengan suku Batak. Ada patung sigale gale, alat tradisional yang digunakan sehari-hari waktu jaman dulu, topeng, peralatan musik dan lain sebagainya yang khas dari suku Batak. Setelah membaca keterangan-keterangan, kucukupkan di sana dan lanjut ke makam Raja Sidabutar yang ada tidak jauh dari museum. 

Mau doa takut salah server, mau ngelakuin yang lain takutnya dianggap gak sopan, jadi sebentar sekali aku di wilayah pekuburan raja-raja itu. Sendirian dan langit yang agak mendung jadi membuat komplek makam Raja Sidabutar lebih serem daripada waktu pertama lewat sebelum ke Museum Batak. Terdengar suara musik mengalun, aku secara ligat mengambil langkah untuk mencari hulu suara itu.

Lantunan musik terdengar lantang dari balik kain putih, dan kupastikan memang irama itu yang kudengar di makam Raja Sidabutar. Dari celah kain terlihat orang-orang saling mengekor menari mengikuti irama, seru sekali kelihatannya. Tak lama kemudian salah satu orang yang ada di balik kain sana memergoki gelagatku, dan dengan serta merta menyibak kain. "Ayo masuk sini! Ayo..ayo.. sini gakpapa!" Aku akhirnya masuk ke kawasan itu dan bahkan sempat juga ikut menari bersama dengan rombongan lain yang lebih dulu tiba di sana. Rejeki boi! Walaupun cuma menari kecil sambil mengelilingi patung sigale gale, tapi seru betul sore itu. Aku yang biasanya tidak antusias ikut kegiatan semacam itu, akhirnya menikmati juga walaupun di awal sedikit merasa sungkan hingga harus didorong salah satu warga. 

Sempat heran gimana patung sigale-gale itu bergerak, ternyata ada satu orang yang menggerakkannya dengan menarik tali-tali yang terhubung ke patung. Tidak banyak gerakan patung itu selain gerakan tangan manortor khas Batak yang mengangkat kedua telapak tangannya yang terbuka sampai sejajar dada. Sesekali orang terdepan dalam barisan yang memang warga lokal Desa Tomok menyelipkan uang di tangan sigale-gale, dan beberapa orang berada dalam barisan juga melakukan hal serupa. Aku yang datang belakangan tidak terlalu paham maksudnya dan cuma sibuk bersenang-senang mengikuti ke mana barisan full senyum itu bergerak.

Semua bertepuk tangan begitu tokoh lokal tadi undur diri. Tak lupa masing-masing mengambil foto dengan latar belakang patung sigale-gale dan rumah adat Batak, lengkap dengan kain ulos yang mumpung masih mereka kenakan. Aku juga ikutan foto, minta tolong difotokan lebih tepatnya karena memang tidak ada bakat selfie padaku. 

Daripada kesorean, aku segera mengambil jadwal kapal kembali ke Parapat.

Sudah surup ketika angkot yang mengantar dari pelabuhan menurunkanku di pinggir jalan utama Parapat. Yang jadi konsenku setelah turun angkot tak lain adalah mendapat bus tujuan ke Bukittinggi secepatnya, malam itu juga. Lumayan hemat aku sejauh ini dengan selalu memilih waktu malam untuk berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Tidur di angkutan umum terbukti sangat efektif memangkas biaya perjalanan, wa bil khusus biaya penginapan. 

Semakin malam semakin sepi saja Parapat. Wajar memang karena statusnya yang masih desa. Parapat hampir sama seperti Ngantang, ramai di salah satu sudut, lalu selepasnya kembali menjadi sepi dan diganti suasana asri nan penuh misteri ketika gelap.

Mau makan dulu sambil berharap dapat info bus ke Bukittinggi. Kebetulan ada orang jualan pecel lele di sana, menu yang familiar buatku, sekaligus barangkali dia juga punya pengetahuan yang aku perlukan. "Bang pecel lelenya satu."

"Iya bang, tapi ini maksudnya lele sama sambal, bukan pake pecel." si penjual menjelaskan.

"Iya, saya ngerti bang, pesen satu, sama teh anget." karena semakin malam semakin dingin saja Parapat.

"Mas asli mana kok ngerti pecel lele?"

"Saya dari Malang"

"Lho, aku yo Jowo pisan mas!" nadanya meninggi karena antusias. Dan berlanjutlah percakapan dalam bahasa Jawa.

"Bus ke Bukittinggi terakhir jam piro mas?"

"Jam sepuluhan, biasa e nurunin penumpang di minimarket itu mas." katanya sambil menunjuk sebuah minimarket di sebelah barat warungnya. Sepertinya memang harus ekstra sabar, tidak banyak bus yang lewat, dan yang lewat pun sudah terisi penuh semua.

Lama-lama aku merasa khawatir, gimana kalo gak ada bus? Apakah aku memang harus menginap di sana? Untuk jaga-jaga, aku menanyakan kamar hotel di sebelah warung pecel lele, ada kamar kosong seharga 200an ribu. Mungkin kalo memang tidak ada bus yang lewat lagi mau gak mau ya tidur di situ, karena masjid juga sudah ditutup setelah isya.

Semakin mendekati jam sepuluh semakin berdebar jantung ini. Beberapa kali aku menengok ke jalan sambil berharap ada sorot lampu dari kejauhan, sorot lampu bus. Jangankan bus, mobil pun sedikit sekali! Aku coba mempelajari plat nomor untuk mengisi waktu, siapa tahu ada mobil dengan plat nomor Bukittinggi yang bisa aku tumpangi.

Aku tetap berada di warung sambil numpang nge-charge ponsel. Jam sepuluh lewat sedikit tampak cahaya dari kejauhan dengan siluet yang cukup besar. Aku berlari keluar warung untuk menyetopnya. Kulambaikan tangan setinggi dan secepat mungkin. Tidak ada perlambatan, bus itu bahkan tidak menurunkan penumpang di minimarket, lalu melewatkanku begitu saja.

"Sial! Jam sepuluh lewat berarti bus terakhir barusan! Menginap di sini nih jadinya!? Gak bisa! Aku akan coba lebih lama lagi!" Untung saja warung juga masih buka, aku jadi bisa menumpang lebih lama. Selain memang hp bisa terjaga dayanya, aku juga bisa sedikit mengurangi posibilitas terkena masuk angin dibanding harus duduk angin-anginan di pinggir jalan langsung. 

Hampir jam sebelas, Twitter, Instagram, Youtube sudah silih berganti terbuka, hingga gak ngerti lagi mau ngapain. Harapanku akan datangnya bus memang meredup, namun masih belum padam sepenuhnya. 

Terasa ada hawa berbeda dari barat. "Hawa apa ini? Sejak tadi, baru terasa hawa yang kayak gini. Apakah jangan-jangan....?" dan VOILA!!! Intuisiku tidak keliru! masih ada satu bus lagi yang melaju, mungkin ini yang paling terakhir dari yang terakhir. Kali ini tak cukup melambai, aku pun lompat berkali-kali untuk menarik perhatian yang ada di dalam bus. Berhasil! bus pun menepi. Aku berterima kasih dan pamit ke penjual pecel lele, mengemasi kabel, lalu menenteng tas sambil berlari. Jendela bus terlihat mengembun, menandakan suhu yang sangat dingin di dalamnya. Persetan dengan itu! tak peduli dengan alergi dingin, yang penting aku meninggalkan Parapat malam itu.


Prev                                                                                                                                                     Next

Komentar