Saya & Aku VS 3000 KM (Part 11)
Guncangan kecil nan intens memaksaku untuk menangguhkan masa tidur, perlahan kubuka mata dan memicing ke arah depan. Kegelapan total terhampar di balik kaca bus, sesekali dipecah siluet tipis perkebunan sawit yang kentara mengapit jalan. Tidak berembun seperti awal naik, suhu bus sudah teratur stabil. Selimut tipis yang kupandang sebelah mata ternyata sangat jitu membantu mengatasi alergi dingin.
Jalanan aspal yang terlalu pas dengan bodi bus menjadi hiburan dan membuat perjalanan semakin seru, apalagi kalo tikungannya berbentuk letter U. Bus yang tak sabaran berkali-kali hendak menghajar ranting melintang, beruntung sopir yang tangkas lekas menghindarkannya. Gagal melanjutkan tidur ada untungnya juga ternyata, jadi dapat kesempatan dibuat kagum dan deg-degan dengan pergerakan bus, itung-itung kayak naik rollercoaster low budget. Melihat ukuran dan kecepatannya, membuat manuver seperti itu sih harusnya cuma bisa dilakukan oleh sopir yang sudah punya jam terbang tinggi.
Tanpa aba-aba apapun bus langsung menepi dan berhenti dekat sebuah kedai antah berantah. Jauh dari mana-mana, hanya ada satu kedai dan satu rumah yang menjadi semacam oasis di tengah rapatnya hutan Bukit Barisan. Aku langsung ke musola menunaikan solat subuh walaupun langit tak lagi gelap gulita, lebih baik telat daripada gak sema sekali bukan? "Ya Allah, saya mohon izin buat gunakan satu voucher tidak solat sesuai waktu ya? Engkau kan Maha Mengerti Ya Allah..." doaku setelah salam yang terakhir. Mie yang kupesan sebelum wudhu terhidang tak lama setelah aku menyelesaikan doa. Gak ada pilihan lain untuk menu sarapan, tapi kalo mau menggolongkan wafer, kacang atom, atau kudapan lainnya sebagai menu sarapan ya bisa juga sebenarnya. Semoga mie dan kopi yang masuk ke perut kuat untuk bertahan beberapa jam lagi, karena sesungguhnya aku sedang tidak tahu di mana dan berapa jauh lagi untuk sampai ke Bukittingi. Tak ada jaringan internet yang bisa ditangkap ponsel membuatku buta arah dan kondisi.
Setelah mengambil beberapa foto di sekitar kedai, dan setelah lewat juga beberapa pelajar yang boncengan menuju sekolahnya, kami pun melanjutkan perjalanan. Jalan semakin ramai seiring matahari yang mulai meninggi, beberapa perkampungan muncul tenggelam silih berganti. Sinyal pun mulai menjamah ponselku, meski lemah gak masalah, yang penting ada dulu aja. Dari sekian pertanda, aku menyimpulkan Bukittinggi tidak jauh lagi, pasti!
Dan sampailah di pinggiran kota sekitar jam 10 pagi.
Pilihan turun di pinggir kota bukan disengaja. Sebelumnya ada laki-laki dewasa yang menawarkan akan mengantarku keliling Bukittinggi waktu kami bercakap-cakap di kedai, nah orang itu yang aku ikuti. Waktu melihat aku turun bersamaan dengannya, orang itu malah jadi bingung. "Katanya gak jadi sama saya mas, kok turun sini juga?".
"Gakpapa pak, nanti saya cari tumpangan sendiri, hehe" aku yang juga ikut bingung gak terlalu paham harus bagaimana membalas pertanyaannya. Sebetulnya aku gak menolak tawaran bapak itu, tapi juga tidak menerimanya karena sepertinya harus ditimbang matang antara dua opsi itu. Nah mungkin karena diam itulah laki-laki tadi mempersepsikan aku menolak tawarannya. Bapak itu pergi meninggalkanku yang sedang bingung, bertanya-tanya gimana caranya dari situ bisa sampai ke Lembah Harau? Aku memesan satu ojek online dengan tujuan ke salah satu gerai makanan siap saji. Pertimbanganku memilih resto fastfood sesimpel karena jika aku bisa sampai di sana, berarti bisa dianggap aku sedang ada di tengah kota. Nanti baru dari sanalah akan terbuka banyak cara untuk menuju Lembah Harau. Semakin gak sabar untuk segera mengunjungi salah satu tempat ikonik di Sumatera Barat itu.
Komentar
Posting Komentar