Saya & Aku VS 3000 KM (Part 12)
Kalo mau ke Payakumbuh bisa naik bus Sarah kata pengemudi ojek. Aku gak paham apa itu bus Sarah, dan kenapa sampai harus spesifik Sarah. Ia berbaik hati mengantarkanku hingga ke sebuah perempatan, tempat di mana menurutnya bisa kutemui bus yang ia maksud. Kulalui gerai makanan siap saji yang jadi tujuan awalku.
"Nah itu bang!" ia berseru sambil melambai-lambaikan tangannya. Tak kulihat apapaun yang menyerupai bus dari arah tengokan abang ojol. Sebuah elf warna putih menyalankan sein kiri. "Ini bang, nanti turun ke Payakumbuah langsung bang". Nah, benar firasatku, sering terjadi antar daerah punya sebutan serupa namun yang dimaksud tidak sama. Mobil elf itulah yang disebut bus, sedang Sarah adalah nama perusahaannya. Susah payah aku mencapai duduk yang tersisa di baris paling belakang. Jangan coba bayangkan tempat duduk normal seperti elf-elf kebanyakan. Ya benar elfnya normal, tapi kapasitasnya yang tidak normal! Saat aku sudah berhasil duduk, kuhitung ada hampir 20an orang ada di dalamnya, mayoritas ibu-ibu lengkap dengan belanjaannya dari pasar. Aku yang punya tinggi 175cm harus ditekuk se-efisien mungkin agar bisa berbagi kursi dengan yang lain. Sebelum pergi kuhadiahkan senyum tertulusku ke pengemudi ojol, senyum sebagai kesan perpisahan, sekaligus senyum yang punya arti ungkapan terima kasih karena sudah berkenan mengantarku ke perempatan itu, dan membantu memberikan arahan ke sopir elf terkait tujuanku.
Bus menelusuri daerah-daerah yang sama sekali baru untukku, bahkan kalaupun tersesat aku juga gak bakal ngeh. Yang pasti mobil elf itu masih ada di Sumatera Barat, terlihat dari rumah-rumah dengan atap meruncing di kedua ujungnya yang melintang khas bangunan suku Minang.
Penumpang keluar masuk bus elf itu, dari ibu-ibu pasar, ganti seorang bapak paruh baya yang merokok seenaknya dalam kendaraan, ganti lagi dengan anak sekolah, hingga berganti lagi dengan mbak-mbak yang entah dari mana mau ke mana. Aku merekam semuanya sambil masih duduk di bangku paling belakang, terjepit kursi penumpang yang kurang manusiawi dengan memangku keril 40 liter.
Setelah berkilo-kilo perjalanan yang ditempuh sekitar satu setengah jam, tinggallah kini dua orang terakhir, aku sendiri dan sopir. Selepas melewati bangunan besar gedung Kantor Bupati Lima Puluh Kota yang mana bangunan pemerintah paling megah yang pernah kulihat, aku diturunkan di sebuah persimpangan. Kata sopir dari situ bisa sewa becak buat ke Lembah Harau. Memang ada pangkalan di situ, tempat ngetem becak motor, tapi aku tidak langsung memesan satu. Mumpung di dekat pertigaan ada masjid, kupilih solat lebih dulu sekaligus mau ambil power nap, melelahkan sekali perjalanan siang itu.
Langit mengguyurkan airnya ketika baru saja aku memasuki masjid. Rencana awal tidur sekejap batal, karena malah bablas molor keenakan dibelai angin lembut nan segar.
Tergagap sendiri dari tidur, aku segera menghampiri pangkalan becak motor. Waktuku lagi-lagi tidak melimpah di kota itu. Lima belas ribu kalo ke Lembah Harau, kalo ke wisata replika keajaiban dunia dua puluh lima ribu kata abangnya. Ya ngapain juga jauh-jauh buat lihat replika keajaiban dunia, niat awal kan memang ke Lembah Harau yang alami. Sayang-sayang kalo kecantikan alami sampai terkalahkan dengan yang buatan.
Aku menyusuri jalan yang membelah sawah. Becak melaju tidak terburu-buru, anginpun berhembus menerpa mukaku yang masih sembab. Tebing kapur nan tinggi tak terperi berdiri gagah di kejauhan, pas sekali menambah tema tadabur alam. Sambil senyum sendiri kucentang checklist bertuliskan "Lembah Harau" yang ada di dalam otak. Satu wishlist telah terpenuhi.
Kami berdua berhenti di samping air terjun yang mengalir gemericik, air terjun yang menjadi ornamen kecil pelengkap dari lembah yang tersohor itu. Memfoto air terjun, menengok tukang gorengan yang dagangannya lembek kena tampias air terjun, berkesempatan pula aku menyapa seekor monyet hitam berekor panjang. "Sudah cukup pak, sepertinya saya mau balik ke Bukittinggi" ajakku kepada tukang becak.
Di tengah perjalanan kembali, aku meminta difotokan si bapak di pinggir jalan. Berdiri di depan Lembah Harau, menurutku sebuah capaian yang perlu diabadikan. Becak kembali melewati jalanan aspal yang diapit persawahan. Masih sama menyegarkannya seperti berangkat, minus megahnya tebing kapur yang sedang kubelakangi.

Komentar
Posting Komentar