Saya & Aku VS 3000 KM (Part 13)

Aku mengernyitkan dahi sewaktu becak mulai menepi menghampiri ibu-ibu yang melambaikan tangannya. "Becak ini gak kosong lho, masih ada akunya, mau ada apa ini? Apa ibu itu istri tukang becak?"

"Pak, sekalian ke pasar ya?" ucap si ibu.

"Boleh bu, silakan."tukang becak menjawab seperlunya saja.

Ibu itu permisi naik ke becak, lalu kubalas dengan senyum dan anggukan pelan. Speechless, masih belum bisa aku mencerna sempurna tragedi yang berlalu dengan cepat itu.

Aku kini bersandar ke sisi kanan becak, semepet-mepetnya, sambil berharap tidak menyenggol ibu di sampingku. Kurapal kalimat "semoga tidak lama" hingga beberapa kali. Dan Tuhan memang mengabulkan doa orang yang teraniaya, kami sudah sampai pasar beberapa menit kemudian.

Turun dari bentor tepat di depan kantor PO, terlihat satu armada bus Sarah yang sedang melakukan persiapan. Aku beruntung karena waktu tiba di sana tidak terpaut jauh dengan jadwal perjalanan kembali ke Bukittinggi. Kondisi bus yang akan diberangkatan cukup prima, di dalam juga terasa lega karena sepi penumpang, berbeda jauh dengan yang kudapat saat berangkat.

***

Bukittinggi tinggal sepelemparan batu, Jam Gadang sebagai ikon kota telah nampak menjulang tinggi. "Sudah mengarah ke Jam Gadang, pas berarti jalurnya!", gumamku sambil sibuk memandangi gmaps, memastikan arah bus yang kutumpangi sesuai dengan tujuanku. Entah kenapa yang harusnya tinggal lurus saja, bus malah beberapa kali berbelok sehingga menjauhi jam ikonik kebanggaan masyarakat Sumatera Barat. Aku berkhudznudzon mungkin trayeknya dibuat seperti itu, karena transportasi umum dimanapun sudah jamak melakukan hal tersebut dengan tujuan untuk menggaet lebih banyak penumpang. Hingga sampailah aku bertemu dengan ibu-ibu yang mau pulang dari pasar saat bus sedang ngetem. Kalau tidak ada ibu itu, alih-alih berhenti di Bukittingi malah bisa jadi diantar sampai ke Padang aku. Tanpa ba..bi..bu lekas turun di pasar waktu itu juga, entah pasar apa namanya, yang pasti masih di Bukittinggi. 

Lagi-lagi linglung dan buta arah, dan kondisi seperti itulah saat yang tepat memanggil ojol sebagai juru selamat. Ngarai Sianok kebetulan letaknya di tengah kota, kalo ke sana sambil ngademin pikiran kayaknya gak salah-salah amat.

Terbayang pemandangan mewah ngarai seperti di laman pencarian gambar. Membayangkan bukit hijau yang mengapit sungai meliuk-liuk sudah bisa bikin sumringah, apalagi kalo sudah sampai sana beneran kan? Sudah seantusias itu padahal belum juga berangkat, sempat juga ada angan-angan kalo sampai di sana bakal ambil foto yang banyak sambil ketawa-ketawa sendiri, potensi gilaku kadang bangkit semaunya sendiri. Nah itu tadi rencananya, tapi waktu sudah tiba di sana, hmmmm...

Iya bagus memang, apalagi kalo dilihat dari ketinggian, bagus sekali malah. Masalahnya aku kan bukan burung, gak bisa lihat dari ketinggian, sedang ketika dilihat dari eye level, ngarai itu tak ubahnya seperti sungai di pedesaan biasa. Masing-masing memang punya referensi bagus, mungkin kalau aku tinggal lama di kota bakal bisa menikmati sekali pemandangan yang tersaji di sana. Namun, Ngantang yang sederhana, nyatanya membuat standarku agak sedikit ketinggian kalo untuk membahas pemandangan alam.

Mungkin waktunya memang sudah habis di kota ini. Jam Gadang sudah dilihat, Goa Jepang juga sudah tutup. Kembalilah aku ke pool ALS, berharap dapat bus sesegera mungkin.

***

Ada masjid, mampir sebentar buat mandi. Begitulah sejak dari Malaysia, selain untuk ibadah dan jangkar pertama saat mendatangi tempat baru, masjid juga jadi tempat mandiku setiap hari. Sejak keluar dari Singapura, sepanjang perjalanan itu hanya sekali saja mandi di kamar mandi, pas bermalam di Sabang. Badan yang segar kembali membuat jalan terasa ringan. Malahan lebih ringan dan cepat karena sedang semangat-semangatnya mau makan, maklum dari siang belum sempat ngisi perut. Pokoknya mau cari masakan padang paling enak di sana!

Googling dengan beberapa kata kunci berbeda untuk tahu di mana alamat resto masakan padang yang terkenal dan digemari oleh orang Minang asli, tidak membuahkan hasil apapun, nol! Seadanya warung mau tak mau dipilih secara acak, sudah terlalu jauh dengan waktu makan terakhir. Takutnya kalo ditahan lebih lama lagi otakku jadi semakin tumpul. Aku melangkah menyusuri pinggiran jalan, mencari warung nasi disekitar masjid. Ketemulah satu warung sederhana yang mepet trotoar. Aku masuk ke dalamnya, lalu menahan tawa sejurus kemudian.

Warung nasi ini ternyata warung masakan padang yang aku kenal. Agak dibuat melongo memang, tapi ngeh juga setelah melihat kondisi warung. Seperti di Madura yang gak ada warung "Sate Madura", atau di Lamongan yang gak ada warung "Soto Lamongan", di Bukittinggi gak ada masakan padang, adanya warung nasi biasa. Penyajiannya macam warung masakan padang yang bertebaran di Indonesia, lengkap dengan macam-macam lauk yang tersusun bertumpuk di piring, minus tulisan besar "Masakan Pedang" yang besar sebagai identitasnya.

Priuk nasi dan lauk belut goreng yang kupesan bersama sambalnya terhidang di meja, ditambah ada semangkuk sayur nangka yang gak ngerti kenapa tersaji juga padahal tidak kupesan sebelumnya. Cacing perut sudah memainkan perkusinya, tapi aku masih bergeming menatap semua sajian. Selain sayur nangka, nasi juga sukses memberi culture shock, "Buat apa sepriuk nasi ini? aku kan cukup dengan satu porsi saja, gak lebih..." Kebiasaan puasa membuat kapasitas lambungku tidak terlalu besar. Gak sebentar aku memandangi bakul nasi itu, apa aku harus menghabiskannya, atau mengambil secukupnya? Gimana dengan itungan bayarnya? Uangku bisa habis kalo disuruh bayar satu bakul ini.

Di seberang meja ada dua laki-laki dewasa yang baru saja duduk dan hampir bersamaan pula pesanan mereka tersaji. Kesempatan untuk mencontek! Aku mengambil nasi beberapa centong, menuangkan kuah sayur nangka dan beberapa isinya, lalu menjimpit belut yang kucocol dengan sambal. Setiap step kulakukan persis seperti urutan kedua bapak itu, yang membedakan cuma pilihan lauknya. Rasa tidak percaya diri karena khawatir cara makan yang menyalahi adat setempat agak membuatku canggung.

Aku pergi lebih dulu dari bapak-bapak tadi. Tidak ada yang janggal, harga pun tak jauh beda dengan di Jawa, cuma selisih dikit. Sedang priuk nasi tadi? Tak usah risau, bayarnya tetap per porsi. Mereka menyajikan satu bakul karena memang begitu budayanya. Semakin banyak yang dimakan, dianggap semakin menghargai, begitu ujar temanku di Jawa yang menikah dengan orang Minang beberapa waktu kemudian. Beneran terjadi ketimpangan budaya yang mencengangkan bagiku, sungguh berbanding terbalik dengan Jawa. Bagi kami yang sungkanan ini, lebih sering ditemui adegan basa-basi menolak pemberian, meski lapar melilit-lilit.


Prev                                                                                                                                                       Next

Komentar