Saya & Aku VS 3000 KM (Part 14)

Malam tambah larut, jalanan di depan pool bus kian sepi saja. Angin yang semakin kencang lewat tanpa permisi, melibas bangunan terbuka tanpa pintu tempat menunggu bus itu. Aku memilih duduk dibalik rolling door, niatnya biar terlindung dari angin dan lembaran buku yang kubaca aman tidak tertiup bayu. Untung saja buku itu terbawa, kalo gak bisa mati gaya aku. Sebenarnya bisa gak mati gaya asal hape juga gak mati. Namun daya ponsel yang terbatas rupanya membatasi juga pergerakanku.

Jam 9, aku kembali bertanya ke petugas yang jaga. Lagi-lagi ia mengeluarkan janji-janji yang semakin tidak bisa dipercaya. Tadi sore bilang bus datang jam 7, jam 7 kutanya mundur jadi jam 9, sekarang jam 9 kutanya lagi malah bilang jam 10 nanti datangnya, dasar kadal conge tukang kibul.

Lelaki bertubuh gempal dengan potongan rambut cepak turun dari motor, lalu ikut duduk di jajaran kursi tunggu. Kelihatannya sudah sering naik bus, ia bisa langsung akrab ngobrol sama petugas yang jaga malam itu. Aku memalingkan pandangan ke arahnya sekilas, lalu melanjutkan lagi membaca.

Beberapa waktu kemudian sepertinya orang itu kehabisan topik dengan penjaga pool bus, lalu ia mengarahkan pandangannya padaku. "Buku apa itu?" tanyanya.

"Buku agama pak" jawabku singkat.

"Ooooo, ahlussunnah?"

"Eeeee...." aku ragu -ragu menjawab, pertanyaan yang sederhana seperti ittu jika salah jawab bisa bikin runyam, apalagi penulis buku yang sedang kubaca mendapat sentimen miring dari beberapa kelompok. 

"Ahlusunnah, atau bukan?!" bapak itu semakin menambah tinggi nadanya, aku tahu itu gertakan dan kebetulan gak mempan kalo diarahkan ke aku. Tapi, buat jaga-jaga saja kalo perkiraanku salah, aku jawab ahlusunnah. Jawaban paling aman, karena di Indonesia memang mayoritas Sunni. Ada beberapa detail dari penulis yang kalo dijabarkan berpotensi menambah ribet. Untungnya beliau tidak tahu, dan gak akan juga kuberitahu. Siapa yang gak males kalo alih-alih memberi informasi, malah dapat masalah dengan orang berambut cepak dan bertubuh gempal, di tempat yang gak dikenal pula, siapa cobak!? Mau tak cium keningnya kalo ada...

Bapak yang ujungnya mengaku pensiunan tentara itu kemudian semakin mencoba untuk akrab. Dia banyak bercerita, bahkan sampai unjuk kemampuan debus dengan mengoleskan bara rokok yang menyala ke permukaan tangannya. Ajaib bener orang itu! Aku coba mengimbangi sebisanya, lumayan jadi ada hiburan lain selain membaca. Untuk sementara buku bisa kukesampingkan dulu, toh masih bisa dibaca nanti-nanti kalo memang beneran lengang.

Jam satu dini hari, bus yang dijanjikan datang juga akhirnya. Iya, sampean gak salah baca, jam satu! Padahal janji awalnya bakal datang setelah isya'. Keluarlah dari bus beberapa penumpang termasuk sepasang bule laki-perempuan, wajahnya kucel sekali. Dari luar telah terpampang nyata betapa sesaknya kabin bus, tapi si kenek tetap saja mempersilakan kami masuk. Gak ada pilihan lain karena memang itu bus terakhir. Capek nunggu enam jam lebih masa' mau disia-siain dan menyerah gitu aja di akhir? Aku masuk paling belakangan karena memang kebiasaanku seperti itu, sering merasa enggan menjadi yang pertama, dan itu dampaknya buruk.

Keengganan itu menempatkanku duduk di sebelah sopir semalaman. Bukan di kursi penumpang yang seberang sopir, tapi benar-benar di sebelahnya pas, tidak ada kursi lain yang kosong selain di situ. Kalo digambarkan urutan layoutnya, jadi ada sopir di paling kanan, lalu ada aku di tengah, kemudian baru penumpang lain berada di pinggir kiri bus. Tuas perseneling bus berdiri dengan tidak sopan di antara dua pahaku, dan gak ada sandaran punggung karena di belakang badanku langsung terhampar lorong menuju kursi penumpang. Ada satu bar besi melintang di depanku, sesekali kupakai sandaran kepala jika lelah dengan posisi duduk tegap. Hampir tiap memasukkan perseneling pak sopir tertawa, beberapa kali juga mencolek pahaku. Aku tahu itu bukan pelecehan karena dia iseng nyolek kalo kepalaku mau terbentur besi, dan memang pas sekalian mau pindah perseneling yang tuasnya itu tadi ada di, ah sudahlah..... 

Kaleng besi, benar-benar kaleng besi yang dipasangi roda, sudah tak nyaman sempat mogok pula, ck! Gak tau di daerah mana, yang pasti setelah melewati sebuah danau, bus menepi ke sisi jalan. Penumpang tumpah di sekitar bus, menunggu yang entah apakah layak ditunggu. Warung yang tutup tiba-tiba buka, padahal masih jam 4 pagi, persis setelah solat subuh. Itulah pengejawantahan nyata atas nasehat "jangan tidur habis subuh biar rejekinya gak dipatok ayam". Janji-Nya gak pernah salah, rejeki para penyembah Tuhan tak jarang kontan turunnya. Orang-orang yang kebosanan akhirnya killing time dengan kopi dan jajanan ringan yang tersedia.

Bus kembali mengerang ketika bocah-bocah baru saja tertidur setelah sempat terjaga sebentar. Montir sudah memberikan approval, penempuh perjalanan kembali on board, dan roda menggelinding lagi.

Posisiku tidak berubah, sama tidak menguntungkannya seperti sebelum berhenti. Bedanya, sekarang jauh lebih melek dan lebih jarang terantuk besi pembatas, manjur juga kopi instan yang barusan kupesan. Kabut mulai terlihat jelas seiring matahari yang mulai meninggi. Jalanan masih sepi, sesekali rombongan ibu-ibu di atas pick-up mendahului bus dengan tergopoh-gopoh menuju area kontrakkan kebun sawit. Mereka berlomba dengan target setoran yang semakin hari semakin tidak masuk akal.

Kota kecil yang kemungkinan adalah kota kecamatan berulang kali dilewati, penumpang-penumpang juga bergantian naik dan turun. Sedang bagi mereka yang tidak kunjung turun keadaan menjadi semakin parah, setiap individu tak lagi sungkan memperlihatkan corak aslinya. Memang benar ujaran "Jika ingin tahu pribadi seseorang, ajaklah untuk berpergian jauh" itu.

Penumpang yang duduk di sebelahku mengubah posisi duduk yang awalnya tegak normal, menjadi berbentuk V. Kakinya naik ke sandaran kepala tempat duduk di depannya, pantatnya duduk hampir menggantung di ujung kursi, dan kepalanya ditenggelamkan agak ke bawah sandaran kepalanya. Sesekali ia meracau sambil memaki-maki, perutnya lapar. Penempung lain juga tidak kalah ajaib. Duduk di dua baris di depanku, seorang bapak dengan rambut yang hampir semuanya berwarna putih terbatuk-batuk dengan mengenaskan. Lalu terdengar, "Hoooeeekkk, tjuuuhhh!", ia meludah di lorong bus. Kenek serta sopir yang tua di jalanan diam saja, menganggp itu hal yang lumrah. Bodo amat mau penumpangnya bentuk apa, yang mereka tahu lebih cepat sampai ke tujuan maka lebih banyak pula bonus yang bisa mereka dapat.


Prev                                                                                                                                                       Next

Komentar