Saya & Aku VS 3000 KM (Part 15)

Entah sudah berapa lama aku berada di dalam bus itu. Saking lama dan ngeboseninnya, aku bisa melewati siklus tidur sebanyak 4 kali dalam tiga jam, ngantuk-tidur-bangun-ngantuk-tidur-bangun. Tidak ada layanan provider semakin membuat mati gaya, sekalipun ada juga gak ngerti mau buka apaan, wong semua media sosial sudah kujelajahi. Tingkah polah penumpang lain lah yang akhirnya jadi hiburan sekaligus sumber pelajaran. Kadang terbaca dari tingkah polah mereka, kadang juga tak perlu repot-repot membaca karena mereka dengan sukarela bercerita. Aku lebih memilih mendengar saja, menyerap segala yang sengaja diberikan semesta padaku.

***

Tau-tau sudah malam, hampir 24 jam berarti aku terkurung di penjara bergerak ini. Bus berhenti di sebuah rest area sederhana di daerah Muara Enim. Sebenanrnya tidak ada niat untuk ke kota kecil itu, malah Palembang-lah yang jadi tujuan utamaku. Berhubung rute bus biasa yang melewati Palembang sedang proses perbaikan, maka jalur diubah agak menjauh dan melalui Muara Enim. Nah dari situlah nanti ada transportasi umum menuju Palembang kata penjaga pool bus di Bukittingi. Aku sih nurut aja dan percaya, yang penting bisa sampai ke kota pempek itu. 

Memang benar ada transportasi umum ke Palembang dari Muara Enim, tapi itu kalo siang, lha kalo malam hari jam sepuluh seperti saat aku datang begitu? Nahas boooiiii, nahaaas!!! Aku cuma bisa berdiri mematung, memandangi jalan sepi yang disinari temaram lampu jalanan.

Tidak ada lagi kendaraan umum ke Palembang semalam itu, dan tinggal seratus ribu lebih sedikit uang di dompet. Kalo mau lanjut ke Jakarta tentu tidak cukup, sedangkan mau ke kotanya Muara Enim juga gak ngerti caranya, rest area tempatku berhenti terletak di pinggiran dan jauh dari kota. 

Gak ada yang tahu kalo gak dicoba bukan? Aku nekat meminta bantuan kenek untuk menerima seratus ribuku supaya bisa ikut lanjut sampai Jakarta. Kenek tidak bisa memutuskan, dan malah menyuruhku berbicara langsung ke sopir saja. Beruntung sopir tak banyak cakap, ia kantongi lembaran merah itu. Entah sebagai ceperan atau disetor ke perusahaan, aku tidak peduli, yang penting aku tidak telantar malam itu.

Mengais sisa rupiah untuk membeli semangkuk soto beserta segelas jeruk hangat sambil menunggu sopir yang ngaso. Sial! rasanya tidak sesuai ekspektasi. Memang bukan kali pertama ketemu makanan yang rasanya kurang, tapi karena uang yang yang kupunya tinggal beberapa helai tanpa ada satupun gambar dua bapak proklamator membuat rasa soto itu lebih tidak enak dibanding apapun yang pernah kucicipi.

Daripada termenung membayangkan yang tidak-tidak, aku coba membuka percakapan dengan penumpang lain yang sedang duduk santai di teras depot makan.

"Mau ke mana pak?"

"Mau ke Purworejo mas" ia menjawab sambil mengembuskan asap rokok. "Ada acara di kampung, jadi saya pulang", lanjutnya.

"Emang bapak naik dari mana tadi?"

"Dari Medan."

"Ha!? Dari Medan pak? Berapa hari itu sampek ke Purworejo? Saya aja sudah seharian penuh naik bus ini, padahal naiknya baru dari Bukittinggi kemarin." Beneran membuat kaget, bagaimana bisa ada orang betah duduk berhari-hari di bus kampret itu.

"Ya paling sekitar 5 hari mas baru sampek. Saya ini tukang bangunan di Medan, ikut kontraktor. Lha saya kalo mau naik pesawat gak sanggup mas, makannya saya pilih bus ini." ia menjelaskan alasannya naik bus dengan santai, tak terlihat ada perasaan berat dari cara bicara ataupun mimik wajahnya.

Kalo dihitung-hitung, mengorbankan waktu 5 hari dan juga keperluan yang beragam selama perjalanan fair value-nya gak terpaut jauh dengan biaya satu kali penerbangan. Namun itu kan itungan bagiku yang masih sendiri dan kebetulan dianugerahi kelonggaran finansial, berbeda dengan itungan si bapak yang sudah punya tanggungan entah berapa kepala. Uang bukanlah segalanya, tapi gak dipungkiri juga uang bisa jadi solusi banyak keruwetan hidup yang seringkali dialami keluarga sederhana. Semoga Bapak dan keluarganya diberi keberkahan dari-Nya, aamiin.

Kenek mengumumkan bahwa bus akan berangkat. Aku kembali ikut rombongan ke Jawa, semoga tidak diturunkan di tengah jalan.

***

Menjelang subuh, aku teringat ada tetangga yang sudah pulang kampung ke Lampung beberapa waktu lalu. Belum sempat pamitan karena waktu ia berangkat aku sedang di Jakarta. Mungkin ini memang kesempatan untukku mengunjungi sekaligus mengucapkan sampai jumpa secara langsung padanya.

Kotabumi, di sana ia tinggal dengan anak semata wayang dan orang tuanya yang sudah sepuh. Lihat di gmaps sepertinya bus bakal melewati kota kecil itu, dan ndilalah perkiraanku benar setelah meminta konfirmasi kenek bus. Alhamdulillah, niat tulus semata untuk menyambung silaturahmi diketahui oleh-Nya, dan bukan perkara sulit bagi Dia untuk memperlancar tujuan -yang insyaAllah- baik itu. Aku kembali ngobrol ke kenek minta diturunkan di Kotabumi, gak jadi lanjut sampai Jakarta. Kenek cuma bisa tersenyum getir sambil menggeleng kecil mengetahui permohonanku. Bukannya tidak mau menurunkanku, tapi lebih ke heran dengan ketidakjelasanku berubah-ubah tujuan. Dalam riuh masih sempat terdengar ia berkata-kata dengan suara pelan, "Gak jelas memang..."

Di mana rumahnya? Ke mana aku harus mengarah? aku tidak tahu. Ditanya Kotabumi sebelah mana pun aku tidak bisa menjawab, yang kubisa lakukan cuma duduk sambil pura-pura berpikir. Karena kelamaan dan sepertinya sudah diendus juga gelagat kebingunganku, kenek akhirnya memberikan sugesti, ia menyarankanku untuk turun di tugu saja. Nah! aku langsung mengiyakan. Sialnya si pengumpul ongkos bus itu melempar pertanyaan lain lagi, tentang tugu mana yang aku pilih karena ada dua tugu besar di Kotabumi. Kembali aku pura-pura berpikir meskipun tidak tahu apa perbedaan dua tugu tadi. Khawatir kenek akan tambah kesel, maka dengan bismillah aku putuskan memilih tugu kedua, tugu yang lebih jauh dan terakhir dilewati bus.

Kotabumi meskipun ada 'kota'nya tapi tidak terasa kota sama sekali. Aku kirim pesan singkat ke tetanggaku itu, menanyakan alamat rumahnya. Tidak langsung dibalas, last seen-nya pun sudah agak lama. Sambil menunggu dibalas, sarapan dulu adalah pilihan yang rasional. Tidak ada target harus makan apa pagi itu, berjalan mengikuti bisik alam saja, dan angin menggiringku ke sebuah warung kecil di dekat perlintasan kereta api, warung nasi kuning. 

Hingga selesai makan tak kunjung juga dibalas whatsaap-ku. Ada khawatir yang mulai membisiki, "mungkin ia tidak mau ditemui". Setelah membayar nasi, aku bertanya letak masjid terdekat. Menunggu di masjid bisa menambah tingkat ke-legowo-an, setidaknya itu berlaku bagiku, dan sekalian bisa juga istirahat dan mandi di sana. 

Selama perjalanan, bagiku mandi bisa dianggap sebuah kemewahan, gak bisa sewaktu-waktu mandi walaupun rasa lengket hampir menjamah seluruh tubuh. Kalo diingat kali terakhir mandi sebelum sampai di Kotabumi ya waktu di Bukittinggi beberapa hari sebelumnya. Pernah sih mandi di Jambi, tapi gak bisa dihitung mandi juga kayaknya kalo lihat dari air dan juga keadaan di sananya. Bayangin aja suasana mandi di sebuah rest area di tengah hutan sawit dengan airnya yang sangat-sangat terbatas, apa iya masih layak disebut mandi?

Aku berjalan menuju ke arah kubah terdekat sesuai arahan ibu penjual nasi, lalu membersihkan tubuh dan juga ganti pakaian sesampainya di sana. Tak lupa solat beberapa rakaat, biar gak terlalu kelihatan begundal. Kesannya kurang sopan aja kalo mendatangi masjid cuma untuk keperluan pribadi, lalu melupakan si pemilik rumah yang sejati.

Ping! alhamdulillah muncul namanya di deretan notifikasi whatsapp, ia mempersilakanku untuk datang, bahkan terlampir juga alamat rumahnya. Intuisiku benar memilih tugu yang terakhir dibanding yang pertama dilewati bus, karena rumah yang akan kutuju tinggal jarak beberapa kilo saja dari sana, syukur tidak jadi terkecoh keramaian tugu pertama. Aku memanggil ojek yang mangkal tidak jauh dari masjid, meminta diantarkan ke kordinat googlemaps yang diberikan tetanggaku itu.

***

Berbincang cukup lama di sana, dan jikalau waktu keberangkatan kereta lokal bisa diundur aku masih ingin berlama-lama di sana. Banyak cerita yang belum tersampaikan, meninggalkan sebegitu banyak kisah yang bisa menjadi satu novel tersendiri.

Tuan rumah bersedia mengantarkanku ke stasiun terdekat, Stasiun Kotabumi. Lumayan khawatir juga karena waktu keberangkatan kereta telah mepet sekali, sedangkan tiket belum terbeli, harus go show. Beruntung sampai di stasiun masih tersedia tiket menuju pemberhentian terakhir Stasiun Tanjungkarang. Kereta berangkat setelah Pengatur Perjalanan Kereta Api memberikan semboyan 40, selisih kurang lebih 4 menit saja sejak aku meletakkan tas keril. Coba saja kalo ada macet tadi di jalan, telat 4 menit saja bisa berkembang jadi nganggur 4 jam lebih di stasiun menunggu jadwal keberangkatan kereta berikutnya.

Dada sedikit sesak dan berdegup agak kencang ketika tetanggaku dan anaknya melambaikan tangan. Ahhhh, tiba-tiba saja kelopak mata terasa berat digelayuti air yang mengembung. Semoga bapak-anak itu bahagia di babak baru kehidupan mereka, aamiin.


Prev                                                                                                                                                       Next


Komentar