Saya & Aku VS 3000 KM (Part 16)
Yang dipikirkan tentang kereta lokal harga sepuluh ribuan ya seperti kereta yang kunaiki waktu kecil, yang masih kusam bin kumal, tempat duduk tegak 90 derajat dengan lapisan kulit sobek-sobek, ditambah penumpang yang semerawut. Nyatanya tidak seperti itu, bahkan sungkan sendiri karena sudah suudzon. Kereta dengan single seat nyaman seperti itu dihargai 30 ribu juga masih banyak peminatnya kurasa. Aku memilih tidur karena tak khawatir salah turun stasiun, tujuanku adalah pemberhentian terakhir.
Sampai di Stasiun Tanjung Karang, harus menempuh perjalanan darat lagi untuk mencapai pelabuhan Bakauheni. Dari tanya-tanya ke orang sih bisa ke sana pakai bus, naiknya dari pinggir jalan raya. Dengan membawa bungkusan siomay yang akhirnya tidak habis karena ada gorengan ampelanya, aku menunggu bus yang dimaksud.
Beberapa bus yang lewat sengaja tidak aku pilih, entah karena mereka yang terlalu ngebut, atau di dalam sudah terisi penuh, males euy kalo desak-desakan mah. Tatapan kosongku buyar saat tiba-tiba ada sebuah mobil APV menyalakan sein kiri, lalu berhenti di depanku. Si sopir keluar dan membuka pintu belakang. "Mau ke Bakauheni mas?", aku mengangguk. "Sama saya aja, silakan masuk", lalu aku masuk begitu saja. Kenapa bisa tiba-tiba yakin itu sebuah travel dan mempercaiyanya untuk mengantarku ke pelabuhan? Itu masih jadi misteri sampai sekarang.
Mulanya ada keraguan ketika sudah masuk ke mobil, cuma ada aku dan sopir. Ini daerah asing, jika dibelokkan ke suatu tempat tersembunyi aku juga gak bakalan tahu. Mobil berjalan perlahan, bapak sopir mengemudi santai sambil melihat kanan kiri. Aku coba berbaik sangka, mungkin beliau sedang mencari penumpang tambahan.
Sekonyong-konyong mobil menepi, dan sopir bicara padaku, "Mas, ikut mobil depan aja ya?" Aku menurutinya tanpa banyak tanya. Rasa cemas hilang seketika setelah melihat mobil depan lebih banyak penumpangnya. Gakpapa agak desakan, tapi hati jadi lebih lebar dibanding beberapa waktu sebelumnya.
Jalanan menuju ke pelabuhan yang sangat baik membuat kagum. Kok bisa sebagus itu? padahal tidak sedikit kendaraan berat yang melaluinya. Lebar, mulus, dan banyak lurusnya, jalanan idaman bagi para penghobi tur. Tidak ada kendala apapun selama perjalanan, kecuali satu fenomena ajaib yang tersaji secara live, bajing loncat. Aslinya pengen teriak, tapi melihat semua penumpang diam saja terlebih si sopir yang tenang, aku juga ikutan menutup mulut. Sepertinya memang sudah menjadi fenomena biasa di sana, jadi gak heran sekarang kalo Lampung mendapat stigma dan julukan yang agak miring.
***
Beberapa bungkus keripik pisang yang jadi oleh-oleh sudah diamankan sesaat sebelum boarding, kini tinggal menikmati lautan dari atas kapal sebelum sauh benar-benar terangkat. Bocah-bocah koin beratraksi timbul-tenggelam di lautan, menghibur para penumpang yang sedang menunggu keberangkatan feri. Sesekali uang lembaran dijatuhkan, dan saat itu pula koordinat jatuhnya uang koin mereka abaikan, mengalihkan fokus mencari nilai yang lebih besar.
Kapal membunyikan klakson ketika senja mulai menggelar lapaknya. Lautan yang tadi biru kini menjadi sedikit berwarna hijau, tercampur dengan cahaya keemasan. Bukan cuma aku atau anak-anak muda penyuka musik indie, bapak-ibu sepuh juga terlihat enjoy ngobrol di geladak kapal sembari melihat matahari yang undur diri perlahan. Guratan-guratan di kulit mereka kentara sekali disorot cahaya keemasan, menceritakan dalam diam kisah perjalanan yang telah dilalui.
Di Merak hari sudah gelap. Begitu menginjak Jawa, begitu juga kelelahan langsung terasa seketika. Harus segera ke Jakarta, aku ingin istirahat panjang!
"Ciledug...Ciledug..." aku tertarik dengan ajakan kernet bus. Yang sudah memanaskan mesin dan mau berangkat lah bus yang aku pilih. "Ciledug bang, satu aja" aku memesan tiket. Kupejamkan mata sesaat setelah mendapat tempat duduk.
Gak lama, belum juga sampai sejam bus berjalan si kernet berteriak "Ciledug persiapan!Ciledug persiapan!." Lho, padahal dari peta masih jauh, Banten-Jakarta tidak mungkin sesingkat itu walaupun sudah lewat tol. Aku kembali bertanya ke kernet, dan ia mengiyakan kalo sudah mau sampai Ciledug, "Nanti turun di tengah jalan tol terus naik ke atas" kata si kernet. Alamak! itu bukan Ciledug Tangerang yang aku maksud, malah lebih dekat ke Jakarta Barat daripada Jakarta Selatan, ah... payah...!!!
Bayang-bayang kasur kontrakan yang walau tipis namun nyaman menghambur ke udara, lenyap. Mau naik taksi masih terlalu jauh dan pasti mahal, kalo KRL masih ada satu perjalanan terakhir tapi belum tentu bisa terkejar. Aku mencoba peruntungan dengan mengejar KRL ke stasiun Rawa Buaya.
Jegeg..jegeg..jegeg... kereta baru saja berangkat ketika aku turun dari motor. Aku bertanya ke petugas keamanan apakah yang barusan lewat kereta terakhir, meskipun aku sendiri sudah tahu jawabannya. Salah satu dari dua penjaga itu mengiyakan, dan setelah kutanya lagi mereka menjawab kalo mau nunggu kereta ya adanya keesokan pagi. Jawaban yang biasa harusnya, tapi jadi semakin menambah kesal karena nada jawabannya terasa mengejek. Aku tahu mereka ingin bercanda, tapi seseorang yang sudah keletihan larut malam gini sepertinya bukan subjek yang pas buat diajak bercanda.
Masih ada kesempatan terakhir, mengejar ke stasiun Tanahabang. Ojol yang mengantarku juga sudah paham kalo itu jadwal kereta terakhir, tanpa diminta ia langsung menyuruhku pegangan dan segera tancap gas. "Semoga sampai..semoga sampai..." begitu doaku terus menerus sambil diselingi solawat.
Takdir sudah digaris, malang tidak bisa dihindari. Sampai di peron atas stasiun Tanahabang, kereta yang tinggal sejengkal lagi kuraih meninggalkanku dalam gerak lambat, entah lambat karena memang baru mulai berangkat, atau pandanganku saja yang seolah-olah melihat semua dalam gerak slo-mo, efek dari adrenalin yang meningkat seperti di film Wanted. Aku meninggalkan stasiun dibantu petugas jaga agar bisa melalui pintu eletronik tanpa mengurangi saldo e-money.
Mau tidak mau hanya ada satu cara agar bisa pulang malam itu juga, naik gojek sampai rumah. Aku cuma ingin pulang, itu saja.
***
Sepuluh hari yang tidak pernah terbayang. Tidak bisa disamakan dengan haji, tapi bagiku ini lebih ke perjalanan spiritual dibanding dengan melancong biasa. Entah apa yang bisa membuatku sekuat itu, yang pasti doa orang tua, cuma faktor lainnya yang aku tidak tahu. Semoga semua yang kutemui di perjalanan selalu diberkahi, dan mendapat ridho dari Allah, aamiin.

Komentar
Posting Komentar