Bermotor Menuju Timoer (Part 1)

Memasuki masa-masa akhir perkuliahan, tinggal menuju waktu saja untuk meninggalkan Tangerang Selatan. Sedikit demi sedikit barang yang ada di kontrakan kubawa setiap ada kesempatan pulang, lumayan biar gak perlu jasa ekspedisi untuk ngirim. Tinggal satu yang gak mungkin dibawa masuk ke kabin kereta penumpang, motor. Lalu terbesitlah ide, daripada motor diantarkan eskpedisi, kenapa gak aku aja yang mengantar sendiri sampai ke rumah? Sudahlah tanpa biaya, sekalian bisa jalan-jalan kan? Telah lama punya angan-angan motoran menjelajah Jawa, angan-angan yang kubangun karena gandrung dengan serial Dimas dan Raka yang aku tonton saban sore sambil menunggu buka puasa circa 2008.

***

Perjalanan darat ke timur ini kumulai jam dua dini hari. Semua penghuni kontrakan masih terlelap, tak sempat aku berpamitan karena memang tak mungkin juga membangunkan mereka. Paling gak aku sudah pamit sore harinya. Sengaja kupilih jam dua untuk mencocokkan agenda pertamaku, berburu sunrise di jembatan gantung terpanjang se Asia waktu itu, Jembatan Gantung Situ Gintung.

Kawasan Bintaro yang bisa dikatakan surganya tempat nongkrong di Tangerang Selatan juga telah senyap jam segitu. Tidak terasa dingin sama sekali meski keluar di sepertiga malam terakhir, entah karena tubuhku tertutup cukup rapat mulai dari helm sampai sepatu, atau memang udara Bintaro saja yang sulit untuk dingin. Diarahkan suara mbak-mbak gmaps yang kudengar melalui earphone, aku menyusuri jalanan lengang yang sehari-hari dipenuhi antrian mobil dan motor.

Memutari Bintaro Xchange, aku diarahkan ke jalanan yang sama sekali belum kuketahui sejak pertama menetap di Bintaro. Kawasan yang aneh menurutku, sangat kontras dengan kawasan perumahan Bintaro Jaya yang dibagi menjadi beberapa sektor. Perkampungan yang harusnya biasa seperti kampung-kampung lain, jadi gak biasa karena memang terlihat sekali ketimpangan pembangunan antara impitan rumah-rumah itu dengan Bintaro Xchange. Hampir aku tidak menyadari kalo jarak yang kutempuh masih kurang dari lima kiometer, dan sepertinya kedepan akan banyak kejutan lain. 

Semakin jauh semakin bisa kuterima perbedaan signifikan ini. Selepas meninggalkan perkampungan yang padat dan masuk ke jalur truk kontainer, overthinking-ku yang paling pertama dalam tur membuahkan hasil. Aku tidak berharap akan dapat kesimpulan seperti itu, tapi memang selama setahun terakhir sejatinya aku hanya tahu Bintaro yang telah menggunakan make up, bukan wajah Bintaro asli yang berdiri sejak awal.

Lampu jalan yang putih pucat sulit menerangi setiap jengkal aspal, sedang lampu Vixion-ku juga lebih menyedihkan lagi kondisinya. Beruntung terbantu lalu lintas dini hari yang sepi, jarak pandang yang terbatas bukan masalah yang berarti. Sesekali terlihat pergerakan manusia yang dari tampilannya akan pergi ke pasar. Ibu-ibu yang mengenakan jarik dan berselendang tampak menaiki angkot, lalu di muka ada si sopir yang menyenderkan kepalanya ke sandaran kepala. Pak sopir itu bermata sayu, enggan beroperasi namun dipaksa periuk nasi yang harus diisi.

Sudah agak jauh, sekitar satu jam aku berkendara dan suasana tetap saja tidak banyak berubah, cuma sekarang lebih sering ketemu orang karena semakin mendekati jam operasional pasar tradisional. Jendela-jendela rumah yang masih tertutup kelambu dengan gigih menghalau orang luar menengok tatanan perabot di dalam. Dan lampu jalanan? Tidak lebih terang daripada satu jam sebelumnya.

Melewati sebuah kawasan dengan banyak papan nama yang menggabungkan suku kata "eu" dalam satu kata, taksiranku besar kemungkinan sudah memasuki daerah Sunda. Ada lebih dari tiga stasiun kereta api yang tidak kukenal, sepertinya khusus kereta lokal, dan itu semakin memperkuat asumsiku kalo telah kutinggalkan provinsi Banten.

***

Dingin mulai terasa, memasuki jam-jam menjelang subuh. Suara qiro' terdengar bersahutan antar satu masjid dengan masjid lain, mushola kecil juga ikut berpartisipasi walaupun cuma dihitung sebagai "pupuk bawang". Toa urunan warga RT sering kali kalah dengan speaker masjid dari iuran tiap Jumat.

Sekitar empat orang dari arah yang berbeda berjalan menuju satu titik yang sama. Para lelaki bersarung itu sepertinya hendak menuju tempat ibadah terdekat. Aku mengikuti mereka, sekaligus mengikuti sumber suara azan yang diperdengarkan.

Bapak-bapak dan suara azan itu menuntunku ke sebuah surau yang unik, berdiri di atas pilar penyangga yang ditanam ditengah kolam, tapi aku kurang yakin kolam apa itu. Kalo dianggap kolam ikan tapi ada sampah-sampahnya, sedang dianggap bukan kolam tapi ada gelembung-gelembung air yang keluar di permukaan air, pertanda ada makhluk hidup di dalamnya. Aku mengikuti jamaah subuh di sana, dan setelahnya langsung beranjak menuju tujuan utama di awal. Lebih cepat lebih baik, karena aku menargetkan sampai sana sebelum benda-benda dapat membentuk suatu bayangan.


Part 2

Komentar

Posting Komentar