Bermotor Menuju Timoer (Part 2)

Pasar mulai ramai, jalanan yang lebar menjadi sasana duel terbuka antara penjual dan pembeli. Tetarik dengan keriuhan di bahu jalan, para pengendara menjadi spektator sambil berlalu pelan, pun denganku. 

'Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya', meski di satu lingkup area yang sama, ada dua keramaian berbeda yang aku berhasil amati. Masih di sekitar pasar tadi disamping hiruk pikuk tawar menawar, aku melihat ketidakteraturan lain yang terorganisir, tapi bukan dari orang pasar. Dan setelah mengamati kembali, orang-orang yang kumaksud adalah sekumpulan orang yang sedang menunggu jam operasional klinik yang ada di area pasar itu juga. Klinik kecil seperti itu memang jadi tumpuan kesehatan utama masyarakat di kampung. Apalagi kalo dokter yang berpraktek sudah menggenggam kisah-kisah sukses, dari kecamatan tetangga pun akan susah payah mendatangi demi membuktikan kebenaran rumor yang berembus.

Di satu sisi gemuruh dengan canda tawa, sedang di sisi seberang gemuruh bertukar kabar berbagi upaya menyingkirkan penyebab kemalangan seseorang. Ahhh, manusia memang makhluk sosial, kalo ada yang mengaku introvert sepertinya lebih karena belum menemukan circle yang tepat saja.

***

Aku berbelok ke kiri, mengikuti petunjuk arah yang bertuliskan "Situ Gunung". Jalanan yang lebih asri terhampar di kiri dan kanan. Jika tidak mengejar waktu, mengambil beberapa foto sangat direkomendasikan. Sawah dan blue hour adalah salah satu komposisi yang sulit untuk tidak disukai siapapun. 

Jalanan mulai menanjak, memutar mengelilingi kontur bukit. Tidak perlu gas terlalu besar, asal konstan saja Vixion-ku sudah cukup paham berapa tenaga yang harus digunakan. "Gas terus ya boi!" Seruku pada si merah sekaligus agar terusir kantukku.

Langit kian terang selaras dengan bertambahnya ketinggian yang kuraih, meski begitu gelap juga belum sepenuhnya pergi. Jalanannya yang mengular mengitari bukit sedikit membawa keseruan. Aku suka tipe jalanan seperti ini, jadi bisa membayangkan beratraksi di sebuah Tong Setan.

"Tujuan anda berada di sebelah kiri", suara mbak-mbak gmaps memperingatkanku. Peringatan yang alih-alih memberitahu, malah membuatku bingung. Tidak ada tanda-tanda tempat wisata yang bisa kutemukan, yang ada cuma perkampungan biasa. Memutar balik, aku kembali menuruni bukit sambil mencari orang yang bisa ditanyai.

Ketemulah satu orang yang dari pakainnya terlihat akan pergi ke ladang, "Permisi pak numpang tanya, kalo mau ke Situ Gunung itu di mana ya?"

"Lho, aa' terus aja ke atas, nanti di ujung jalan ketemu tempatnya."

"Makasih pak." si Bapak meneruskan jalan menuruni bukit setelah membalas terima kasihku dengan senyumnya. Aku kembali menaiki motor sambil menggerutu, "Dasar goggle kampret, selalu gak bisa dipercaya!"

Dan benar saja, di puncak bukit di mana aspal mencapai ujungnya adalah pintu masuk ke Situ Gunung.

Si Merah kuparkir di tempat yang disediakan, lalu aku berjalan kaki menuju loket masuk.

"Permisi kak, saya mau masuk. Berapa ya harga tiketnya?"

"Lima puluh ribu a'. Tau gak a'? Aa' orang yang pertama ke sini hari ini lho." Ucap mbak penjaga loket sambil menyerahkan selembar tiket. Kuat sekali si mbak penjaga loket! Dengan cuaca sedingin itu, waktu sedini itu, tapi ia sudah siap di tempat kerja. Entah apakah aku sanggup jika didapuk menggantikan tugas si mbak. Jangankan siap kerja, bahkan melek selepas subuh saja sepertinya susah untuk ukuran orang sepertiku.

"Wah, terima kasih banyak ya..." dan aku berjalan lebih dalam lagi.

Masih terlalu pagi dan gerbang jembatan masih digembok, kata ranger dibukanya pas jam enam tepat. Sambil menunggu, aku menukarkan bagian lembaran tiket dengan kesempatan ngopi dan makan rebusan yang disediakan. Rasanya biasa saja, tapi sangat cukup untuk dijadikan pengganjal perut dan sumber tenaga pagi itu. Beberapa kali mengambil singkong, ubi, dan pisang rebus, tak ketinggalan kopi hitam sebagai pelengkap sarapan klasik pagi itu

***

Beberapa kelompok orang yang dililit sarung dengan membawa buding berjalan menyeberangi jembatan. Langsung saja aku ikuti, sudah bosan menunggu dan sudah kenyang juga makan rebusan. Sayangnya di muka gerbang aku dihentikan oleh penjaga. Ternyata pintu benar-benar belum terbuka, hanya orang sekitar yang bekerja di area hutan yang boleh melewati jembatan sepagi itu. Aku hanya bisa mengambil foto dari celah pintu kayu yang tertutup.

Sinar pagi semakin dominan, menyibak sunyi hening lembah berpuluh meter di bawah jembatan gantung. Pukul enam tepat, akhirnya aku bisa melewati jembatan itu. Tidak ada rasa takut atau merinding, terhapus oleh semangat dan rasa kagum yang menjadi-jadi. Berdiri sendiri di tengah jembatan gantung terpanjang se-Asia Tenggara waktu itu memantik ingatanku akan suatu video klip lagu. Coba putar kembali di YouTube MV "Adu Rayu"nya Yovie & Nuno. Merasa diri ini menjadi Nicsap walau sesaat, dan membayangkan dia menjadi Velove Vexia-nya. Senyum simpulnya setelah mendengar jokes di luar nalarku seakan tergambar nyata didepan wajah, dengan latar belakang langit biru keemasan dan dikipasi angin pagi yang membawa embun lembut, faaaaakkkkkk!!! Harus segera disudahi lamunan berbahaya itu, takut kalo-kalo sampe kebablasan dan beneran hilang akal.

Merasa cukup dengan gambar yang aku ambil di atas jembatan, aku berjalan menuju air terjun. Dan suasananya tidak terlalu berbeda, aku masih sendiri di area air terjun itu. Debit air yang besar membuat fenomena alam itu terlihat gagah seperti seharusnya air terjun. Demi mengabadikan kegagahannya, tidak ada yang lebih tepat daripada mengambil fotonya dengan shutterspeed lambat. Air yang jatuh tampak lembut bagai kain sutera, tembok tebing disekelilingnya tertutup bermacam vegetasi hijau, dan satu bendera merah putih yang sengaja dipasang di sana menjadi point of interest yang ciamik.

Lima puluh ribu untuk pagi yang menyenangkan, sangatlah tidak merugi dan memang patut dicoba.


Part 1                                                                                                                                                  Part 3

Komentar