Bermotor Menuju Timoer (Part 3)

Orang-orang berjalan berlawanan arah denganku, membawa berbagai gendongan yang isinya mungkin akan dijual di kios-kios seputar air terjun. Matahari sudah cukup terik ketika kutancapkan kontak motor dan meninggalkan kawasan wisata tersebut. Selanjutnya aku berencana sowan ke kota, demi mengikuti keinginan menjajal salah satu panganan yang telah dikunjungi Nex Carlos.

***

Pusat Kota Sukabumi ramai tak beraturan, orang dan kendaraan tumpah ruah tak karuan. Apalagi di persimpangan suatu pasar, pendatang sepertiku pasti akan kikuk harus begaimana menyikapai suatu kebaruan ini. Aku tetap berpegang teguh mengikuti arahan mbak-mbak gmaps, sampai satu waktu suara itu menuntunku untuk berbelok ke sebuah gang. 

"Tujuan anda di sebelah kiri" aku yakin begitulah kalimat yang kudengar, tapi ketika menengok ke kiri aku menemukan hal yang berbeda. Tidak ada apapun selain beberapa bangunan semi ruko yang rolling door-nya tertutup. Aku mengenali salah satu bangunan itu sebagai kedai tempat jualan Bakmi GM yang jadi tujuanku. Yaahhhh, belum jadi rezekiku memang siang itu.

Sudah berharap sejak pagi akan merasakan bakmi 'gak ada obat', tapi rasanya aku yang harus minum obat, obat maag. Terlanjur hilang selera makan dan memang tidak merencanakan ke tempat lain di Sukabumi, aku memboyong si merah untuk menuju ke kota selanjutnya. 

***

Bandung selalu membuatku penasaran, semengagumkan apa hingga banyak orang mengaku memiliki kenangan-kenangan indah pada kota ini. Alasan lain yang juga membuatku penasaran adalah karena Bandung merupakan kiblat berkembangnya tren bagi kalangan remaja awal 2000-an. Aku memang bukan penganut arus utama mode, tapi masih lekat diingatan fesyen remaja tanggung yang kerap tampil di FTV SCTV atapun RCTI dulu.

Namun sebelum ke pusat kota, aku melipir sedikit mengunjungi taman batu Citatah yang kebetulan masih satu arah menuju kota. Diperkenalkan sebagai "Stone Garden Citatah", tempat itu jadi punya kesan eksklusif dan keren bagiku.

Waktu mendekati area taman rekreasi tersebut aku merasa agak aneh. Bagaimana bisa akses utamanya malah bertebaran sampah sedemikian rupa? Harusnya sih klir, bahkan daun kering pun kalo bisa ditiadakan, secara ini kan kawasan wisata. Sedang ini, sampahnya yang benar-benar sampah, yang kotor dan bau. Kantong kresek yang tercabik menghamburkan isi dalamnya, lalu tercecer tertiup angin di sepanjang jalan. Hingga setelah sekian ratus meter jalanan sepi, akhirnya kutemui juga  biang kerok perusuh jalan. Satu dumptruck pengangkut sampah berjalan lelet. dibebani barang buangan yang menggunung nyaris luber dari wadah truk. Rupanya Taman Batu Citatah terletak tidak jauh dari TPS.

***

Aku memasuki kawasan taman, letaknya lumayan agak masuk dari jalan raya. Jalannya bebatuan, dan pasti akan sangat kasian bagi mobil sedan dengan clearance rendah jika disuruh lewat jalan model begitu.

Beberapa motor teronggok di parkiran. Seorang bapak menghampiriku dengan membawa bendelan kertas, buat bea retribusi katanya. Tidak perlu susah payah menuju puncak taman batunya, tapi tetap saja terasa capek. Bukan karena jalannya yang menanjak, atau karena keril yang kubawa, melainkan pemandangannya yang membuatku capek, "Tau gitu gak usah ke sini aku" gerutuku dalam hati.

Sebagai gambaran, Taman Batu Citatah itu bukit, beneran bukit biasa cuma kebetulan banyak batuan kapur yang tersebar di beberapa bagian bukit. Kalo taman bunga banyak bunga, nah kalo taman batu ya berarti banyak batu. Gak salah memang, cuma entah kenapa aku masih belum bisa legowo menerima kenyataan itu. Sedikit sekali tempat berteduh di sana, padahal sangat amat dibutuhkan apalagi terik matahari terasa berkali lipat di atas sana. Adapun beberapa saung bambu yang tersedia malah dibuat mesra-mesraan muda-mudi. Faklah! jadi tambah-tambah dongkolnya.

Setelah beberapa foto kuambil sebagai kegiatan mandatori ketika menyambangi tempat baru, aku segera turun kembali ke parkiran. Bandung menunggu.

***

Penasaranku terjawab, tapi bukan dengan jawaban yang kuharapkan. Bandung tidak semenarik kisah di televisi. Macetnya hampir menyamai Jakarta, panganannya pun belum terlalu istimewa, terlalu digembor-gemborkan menurutku. Ya memang itu perkara selera, tapi aku juga paham seleraku gak buruk-buruk amat kalo mengenai tempat dan makanan.

Bandung kota yang romantis? mungkin. Dengan banyak bangunan tua dan trotoar yang tertata baik memang sangat enak untuk dibuat jalan berdua. Tapi jika melihat trafiknya, rebahan di rumah sepertinya lebih menyenangkan. Atau bab makanan, aku sudah mencoba salah satu batagor rekomendasi temanku yang asli Bandung, sebuah batagor yang cukup legendaris katanya. Ingin ku memuji, tapi lidahku tidak bisa bohong. Si lidah lebih bisa dimanjakan dengan batagor mamang-mamang SD yang banyak tepungnya dibanding adonanan asli dari kota asalnya.

Niat ingin bermalam di Bandung hilang. Siang itu aku cuma istirahat di Masjid Raya Bandung. Mengistirahatkan pikiran lebih tepatnya, karena untuk tidur dan melemaskan otot sepertinya tidak mungkin dilakukan di tempat umum, lebih-lebih keadaannya banyak orang lalu lalang. Masjid raya yang sangat ramai, ada semacam pasar kecil di basement nya. Aku yang norak sedikit tertegun di depan muka masjid. Kupikir selama ini lapangan masjid yang di foto-foto itu asli, dan rumputnya sengaja dipotong membentuk motif seperti lapangan bola di luar negeri. Dan itu salah, yang digunakan adalah rumput sintesis persis seperti yang dipasang di lapangan-lapangan futsal.

Bingung mau ngapain lagi di Bandung, dan orang yang kuharap mempersilakanku mampir tak kunjung menangkap kodeku, lalu tercetuslah ide untuk meninggalkan kota kembang dan melanjutkan perjalanan. Sampai parkiran basement aku sedikit panik mendapati kunci motorku tak tahu rimbanya, di rumah kunci tidak ada, di jaket tidak ketemu, membongkat tas juga nihil. Apakah jatuh? Kalo iya, di mana? Aku kembali ke atas, mencari ke tempat-tempat yang kulewati sebelumnya. Tidak ada. Masuk kembali ke masjid, menuju tempatku solat sebelumnya, tidak ada juga. Berputar-putar di perimeter terluar kompleks masjid, sama tak membuahkan hasil jua. Aku mengulangi rute pencarian lebih dari tiga kali, dan gagal menemukan kunci motor tiga kali juga.

"Hahhh, kemarin-kemarin gak jadi terus mau gandain kunci, sekarang tau sendiri kan rasanya!?" aku mengomeli diriku sendiri. "Kalo sudah gini gimana? Mau bongkar rumah kunci? Makan waktu dong! Kalopun iya, ke mana mau nyari tukang kunci!? Terus katakanlah udah nemu, emang udah pasti mau diajak ke sini!?" aku terus mengomel sambil berdiri di samping motor.

Dari ujung mata terlihat sekelompok bapak-bapak memperhatikanku sambil berbisik-bisik. Aku tahu gelagat itu, dan kuhampiri mereka. Semakin dekat semakin kedengaran mereka berkomunikasi dengan bahasa Sunda. "Pak, tadi ketemu kunci motor V-ixion gak?"

"Kuncinya gimana a'? jawab salah satu dari mereka.

"Ada gantungan kunci sayap warna merah."

"Seperti ini a'?"

Sebendel kunci dengan gantungan satu sayap Voltron warna merah diangkat si bapak sejajar dengan wajahnya. "Betul itu pak, itu kunci saya!"

"Hati-hati a', banyak motor hilang, ini kuncinya ya", dan si bapak menyerahkan kuncinya. Alhamdulillah, gak perlu buang waktu bongkar motor. Capek naik-turun dan muterin kompleks masjid pun langsung hilang.

Sebelum benar-benar meninggalkan Bandung, aku mencoba mengunjungi landmark kota lainnya. Lumayan bisa lewat Gedung Sate yang padahal pengen banget masuk ke dalamnya tapi gak bisa, terus melintasi jalan Asia-Afrika yang terkenal itu, dan sempat menengok beberapa taman karya walikota yang lama, sewaktu pak Ridwan Kamil masih menjabat.


Part 2                                                                                                                                                  Part 4

Komentar