Bermotor Menuju Timoer (Part 4)

Menerobos keruwetan jalan, dan menyempil mencari-cari celah di antara deretan kendaraan yang berjubel di Bandung. Macet berangsur terurai, seiring dengan mulai dicapainya pinggiran kota dan memasuki jalur arteri. Aku tetap mengandalkan gmaps, sesekali saja kubaca plang hijau penunjuk arah untuk memastikan arahan yang disampaikan melalui headset tidak melenceng jauh.

Jalan nasional yang lebar dan lengang memanjakanku dan si merah, kondisnya pun ideal sekali untuk berkendara. Tidak banyak truk ekspedisi atau bus AKAP siang itu, ditambah terik matahari tidak terlalu membakar karena posisinya yang agak condong ke barat. 

Kalo sudah mendapat kenyamanan seperti itu, berarti waktunya melakukan manuver-manuver yang sebelumnya tidak bisa dilakukan di jalanan biasa. Dari lajur paling kanan, lalu bergeser ke tengah, dan merebah ke kanan lagi menghindari truk, sebelum akhirnya menyendok ke lajur paling ke kiri untuk mendapat lajur bebas yang lebih panjang. Menyendok -atau menyerok biasanya- adalah frasa yang sering kugunakan ketika motoran. Dan ketika kami sudah sepakat untuk menyerok, berarti tidak lama kemudian aku bersama motor telah rebah paling tidak pada kemiringan 50 derajat, bergesar dari sisi terluar lajur pertama ke sisi terluar lajur lainnya dalam waktu beberapa detik. Empat lajur yang ada di jalan arteri memperlakukanku dengan adil, keempat-empatnya memberikan kegembiraan yang sepadan.

Terlalu menikmati jalanan, terbuai dengan kenyamanan, hingga kemudian terdengar melalui headset satu kalimat membagongkan, merontokkan semangat yang sudah kuisi di Bandung sebelumnya.

"Lurus sejauh seratus kilometer." suaranya pelan, tidak ada intonasi yang tajam, tapi terasa menancap di ulu hati. Serangan kejut sedikit mengganggu konsentrasiku. Bagaimana bisa terus berkendara seratus kilometer selanjutnya tanpa harus belok ke mana-mana? Apa iya aku bisa betah stagnan tanpa merasakan tikungan-tikungan meski sedikit saja? 

Benar-benar merasakan patah hati, yang mulanya RPM tinggi, langsung tinggal seperempatnya. Waktu kulihat, jarum RPM sudah menunjuk angka 2.

"Aku harus istirahat dulu, istirahat fisik untuk tempuhan seratus kilo, juga istirahat batin untuk menjaga kewarasan" aku berbicara pada diri sendiri. Sudah kuputuskan untuk istirahat sebentar di masjid manapun yang paling cepat aku temukan. Tidak lama kemudian tampak sebuah masjid dengan halaman luas, sepertinya memang sudah langganan untuk digunakan sebagai tempat istirahat para penempuh perjalanan.

Mencari posisi se-strategis mungkin, lalu mepet ke satu sisi masjid agar punggung tidak terasa bolong terkena angin. Tas keril berisi pakaian agak kuratakan agar bisa digunakan sebagai bantal. Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan? Tidur ketika lelah memang nikmatnya terasa berlipat ganda, lebih-lebih badan sudah lebih enteng setelah mandi dan menunaikan kewajiban rukun Islam ke-dua. Sesekali saja terjaga karena mode siaga yang sedang diaktifkan, tapi tidak sampai mengganggu ritme tidur secara overall. 

***

Tidak lama aku beristirahat, semacam power nap setengah jam-an lah. Setelah membereskan bekas tidur dan memastikan liur yang merembes tidak sampai menyentuh karpet masjid, aku kembali memanaskan motor. Matahari sudah semakin doyong, terik juga sudah tidak terlalu menyengat.

Teringat kembali akan perintah untuk menuruskan perjalanan sejauh seratus kilometer. Memang sudah biasa aku tiap minggu bolak-balik Ngantang-Gresik seratus kilo lebih, tapi yang ini tidak bisa dipersamakan. Jangankan 100 km, 10 km saja di wilayah yang asing sudah cukup untuk menguras tenaga. Merasa sudah berkendara lama, tapi ketika melihat odometer masih bergeser beberap kilo saja, sial!!!

Ya pada akhirnya mau gak mau tetep harus lanjut sih, mau balik ke Tangsel pun sudah kepalang tanggung. Aku kembali mengumpulkan niat. "Ayo berangkat, pokoknya besok pagi harus bisa sampek Wonosobo!" Mematok target penting sekali untuk menjaga api semangat alam bawah sadar tetap menyala, meski kecil.

***

Nagreg, sampe juga di sana. Dulu waktu kecil sampai hafal dengan daerah ini karena saking seringnya diliput, terutama waktu-waktu mudik lebaran. Seingatku dulu padat sekali, bahkan beberapa penumpang bisa sampai duduk di pinggir jalan menunggu macet yang tak kunjung terurai. Tapi sewaktu kulewati, tidak ada lagi bekas-bekas keramaian yang kusaksikan di tv tabung jaman dulu. Tak terlihat lagi sisa-sisa kedigdayaan jalur favorit yang kondang hingga ke luar negeri. Enak di aku sih jadinya, bisa mengeluarkan potensi si merah semaksimal mungkin.

Aku berhenti sebentar untuk mengisi bahan bakar buat persiapan sampai besok. Indikator tangki kebetulan sudah berkedip-kedip, dan penunjuk kilometer pun sudah berganti manjadi countdown untuk memberi estimasi berapa kilometer tersisa yang bisa ditempuh motor.

Mumpung berhenti, meluruskan kaki enak juga rasanya. Di seberang pom bensin ada beberapa petak sawah yang bertingkat rapi. Sinar senja mengiluminasi padi muda yang hijau menjadi berkilau keemasan. Sayang kalo tidak difoto. Cantik.

Dan kemudian kembali teringat targetku, ada banyak kilometer lagi yang harus aku lalui hingga sampai ke Wonosobo.

Ruang pemanas mesin mulai disemprot pertamax yang baru kuiisikan, persetan dengan ruang hati yang masih agak kosong. Tekanan angin ban masih cukup, dan tekanan hidup biarlah segitu dulu. Tidak ada yang bermasalah dengan kendaraan, aku yang bermasalah harus melanjutkan perjalanan. Tidak perlu waktu lama untuk mencapai 60 km/jam, mudah sekali melaju kencang dibantu oleh kontur jalanan yang menurun bergelombang.

Telinga yang kupasangi headset mendengar sesuatu yang tidak biasa. Aku paham -atau setidaknya bisa merasakan- jika si merah sedang tidak baik-baik saja, tapi yang kudengar bukan keluhan semacam itu. Dan setelah melihat speedometer ketahuan penyebab bunyi itu, bunyi yang tidak pernah kudengar dari si merah sebelumnya. Jarum rpm menunjuk angka 10, melewati garis merah. Dengan keterangan pengali 10, berarti sekitar 10.000 rotasi per menit putaran mesin yang tak tahu menghasilkan berapa tenaga kuda jika dikonversi. Fakingsyit!

Mengumpat bukan karena takut, malahan karena bangga. Akhirnya si merah mengeluarkan tenaga sejatinya yang sudah terkubur entah berapa tahun -setidaknya empat tahun selama ia bersamaku-. Jalan Nagreg yang lebar dan meliuk jadi candu. Menukik dengan kecepatan 60an km/jam tanpa takut jatuh ataupun tiba-tiba ada lawan dari arah sebaliknya adalah pengalaman yang mendebarkan. Apakah ini rasanya jadi pebalap? Meski tidak sampai airtime, melaju menuruni bukit memberi efek melayang-layang yang semu. Fly like a butterfly, sting like a bee!  Sampai lamunanku buyar tak lama kemudian, dihentikan antrian kendaraan di depan. "Kapan-kapan lagi ya?" ucapku sambil menepuk tangki si merah.


Part 3                                                                                                                                                  Part 5

Komentar