Bermotor Menuju Timoer (Part 5)
Masjid-masijd sudah saling bersahutan membunyikan adan satu sama lain. Suara kering dan berat khas bapak-bapak terdengar seperti sorak-sorai menyuruhku untuk segera menepi. Aku berhenti di satu masjid yang lumayan nyaman kalo dilihat dari luar, meski memang harus repot menyeberang jalan dulu. Cukup ramai keadaan di area masjid, karena selain memang digunakan tempat solat, ada juga fungsi lain sebagai rest area.
Seusai solat kebetulan ada acara pengajian, aku ikut mendengarkan sambil melemaskan otot kaki dan punggung. Mulanya bisa mengikuti, tapi lama kelamaan setelah kucermati kok merasa ada beberapa kata-kata yang kelewat. Awalnya aku mengira karena pengucapan dari pak ustad yang terlalu berubi-tubi, tapi ternyata bukan, asumsiku keliru. Bukan karena cepat, tapi karena memang pak ustad berceramah dalam bahasa Sunda! Sudah tentu aku tidak bisa memahami sepenuhnya. Pun mengetahui itu bahasa Sunda juga agak telat, setelah mendengar beberapa kosakata familiar yang pernah diucapkan Sule ataupun pesohor bersuku Sunda lainnya.
Sekiranya lumayan cukup ngaso, aku kembali ke atas jok motor. Tidak ada yang berubah dari arah yang ditunjukkan peta daring. Jaraknya juga tetap seratus kilo, hanya saja sudah semakin terpangkas.
"Makan nasi goreng kayaknya enak", bayangan nasi merah berasap terbentuk di kepala. Perut sedari siang belum terisi nasi, cuma sempat makan batagor dikit saja sebelum meninggalkan Bandung.
Ngeeeeeeengggg... beberapa warung nasi goreng terlewat. Sudahlah memang gak tahu letak warung, tulisan menu nasi goreng yang dicetak kekecilan hingga gak kebaca, atau kalau gak tempatnya yang kurang strategis membikin sulit pencarian makanan nasional itu. Hingga akhirnya muncul satu warung yang pas, letaknya persis di pinggir jalan besar, pun tulisannya tercetak besar hingga dapat kubaca dari jarak yang cukup jauh.
Aku memesan seporsi nasi goreng, juga satu botol air mineral ukuran besar untuk sekalian bekal perjalanan berikutnya, mengingat botol yang telah terbuka sudah hampir habis. Wangi bumbu dan tumisan bawang yang khas menguar ke udara. Kucoba mengalihkan perhatian dengan scrolling media sosialku yang belum tersentuh sejak siang.
"Ini a' nasinya", dan tanpa babibu sendok garpu berdenting beriringan,
***
Sudah semakin malam, tapi belum ketemu tempat yang pas untuk menginap. Masjid sekarang banyak yang ditutup gerbangnya. Gak nyalahin juga karena memang demi keamanan, tapi efeknya menjadikan musafir kekurangan tempat bernaung. Ada sih satu masjid tanpa gerbang, tapi serambi tanpa pilarnya bisa menjadi medan pertempuran terbuka bagi siapapun yang tidur di sana, bertempur dengan serangan angin dan nyamuk. Ketimbang masuk angin dan gak bisa melanjutkan perjalanan, aku mencoba alternatif lain. Kusisir kampung-kampung sepanjang jalan utama, sambil berharap ketemu warga lokal yang rela bagian rumahnya kutumpangi tidur.
Sengaja menarik tuas gas tidak terlampau kencang, dengan persneling kubatasi tak melewati angka tiga. Kecepatan rendah membuka kesempatan lebih tinggi untuk menemukan penduduk yang masih terjaga mendekati pukul sepuluh.
Seorang bapak memakai kaos dalam dan sarung menyalakan api di depan toko kelontong. "Pak, mau nanya. Kalo penginapan di dekat sini di mana ya pak?" aku basa-basi bertanya dengan intensi awal agar dipersilakan menginap di rumahnya.
"Ooo, kalo sekitar sini gak ada mas, adanya di kecamatan sebelah."
Kalo itu, jauh gak pak?" masih berharap agar dipersilakan tidur di toko kelontongnya.
"Ya sekitar setengah jam sih.". "Ooo, baik pak terima kasih."
Maksud terselubungku gagal tertangkap. Antara merasa kecewa, tapi juga tahu kalo harus ikhlas, ya karena memang hampir sedikit sekali -kalo tidak mau menyebut gak ada- orang yang bisa membaca pikirian seperti Xavier Mencoba kembali peruntungan dengan menyusuri perkampungan demi perkampungan sekali lagi. Sampai ketemulah dengan sepasang suami-istri paruh baya yang berjalan di pinggir jalan yang gelap.
"Permisi pak, mau tanya. Kalo penginapan di dekat sini di mana ya?" kuulangi pertanyaan sebelumnya lengkap dengan harapan yang sama.
"Wah nak, di sini gak ada, adanya agak di sana." jawab bapak yang hampir tidak terlihat tampang wajahnya karena kuatnya malam.
"Kalo itu kira-kira di mana pak?" kulempar pertanyaan lanjutan yang jawabannya tidak kuharapkan selain tawaran menginap.
"Dekat nak, paling dua puluh menitan dari sini" jawab si bapak lagi setelah menoleh kepada istrinya
"Baik pak, terima kasih informasinya" lalu kusunggingkan sedikit senyum yang semoga bisa terlihat oleh mereka berdua, dibantu sinar bulan samar-samar. "Bapak dari mana pak malam begini?"
"Dari dokter ini, habis periksa" kali ini si ibu yang menjawab.
"Ooo iya pak bu, kalo gitu saya lanjut jalan dulu, terima kasih"
"Iya nak sama-sama. Coba tadi kalo ke sini agak sorean, bisa nginap di rumah kami. Kalo sekarang mau lapor pak RT orangnya sudah tidur"
"Gakpapa pak, terima kasih banyak" hanya kalimat pendek itu yang bisa terucapkan, meski yang sebenarnya dalam hati adalah 'Sial, coba lebih sore datang ke sini, pasti gak bakal terkatung-katung gini!'. Mau diapakan lagi juga tetep gak bisa kalo belum rejekinya, mungkin memang aku harus tidur di hotel yang dimaksud penduduk sekitar.
Di tengah perjalanan menuju hotel yang entah sebenarnya ada atau tidak, aku terpantik menoleh ke suatu rumah, terlihat ada pergerakan kecil dari dalam. Kumatikan mesin motor di depan rumah yang kumaksud. "Permisi pak, boleh saya menginap di sini? Saya sudah kemalaman dan belum dapat hotel." Aku meminta izin untuk tidur di kursi kayu yang dipasang di depan rumahnya.
"Silakan mas, di sini aja mending" kata pemilik rumah sambil menunjuk kursi busa yang ada di samping kursi kayu dan posisinya lebih menjorok ke dalam.
Legaaa. Emang kalo sudah pasrah dan ikhlas suka ada aja yang ajaib. Pertolongan yang didambakan bisa datang tiba-tiba tanpa preambul. Padahal doanya cuma minta bisa istirahat aja, ini malah dikasih lebih. Kursi busa plus colokan kurang memanjakan apa coba? Toh gak jauh beda sama hotel budget kalo dari segi esensinya, yang penting tubuh dan gawai sama-sama ke-recharge dayanya. Motor pun dipersilakan masuk ke teras rumah, kuparkir tepat di depan sofa tidurku. Selain agar aman karena ada di dekatku, juga ada fungsi lainnya yaitu sebagai pemecah angin yang meski pelan tapi intensitas alirannya cukup tinggi.
![]() |
| Rumah yang aku tumpangi malam itu. Kelihatan bagian belakang motor, dan di sebelah kanannya letak sofa tempat tidurku |
"Terima kasih banyak, nanti saya jam dua sudah pergi kok pak. Terima kasih lagi pak", dan pemilik rumah mengangguk sedikit diikuti dengan menutup celah kelambu yang digunakannya mengintip.
Dapat kursi busa, daya gadget diisi, letak motor aman, dan juga sudah pipis di samping bengkel pemilik rumah, waktunya tidur! Alarm kusetel jam dua, semoga tidak sampai membangunkan tuan rumah.

Komentar
Posting Komentar