Bermotor Menuju Timoer (Part 6)
Ponsel yang mendengking mengusikku, beruntung tak sampai mengganggu orang di dalam rumah. Di sudut kiri atas hp terbaca angka dua titik sekian-sekian, masih terlalu dini untuk berangkat. Jarak dari Banyumas ke Dieng hanya dua jam berkendara, dan dari hitung-hitungan orang ngantuk tambahan molor setengah jam masih dapat ditolerir.
"Santai, masih bisa dapat sunrise kok", lalu beberapa detik kemudian telah hilang kesadaranku.
Maka yang terjadi kemudian sudah bisa ditebak, tulah akibat 'tidur sebentar lagi deh' benar adanya. Alih-alih menambah barang 5-10 menit, malah kebablasan hingga pukul 2.45, sial! Ditambah dengan merapikan kembali tempat menumpang dan mempersiapkan semuanya, akhirnya aku baru benar-benar melintas kembali di aspal hampir jam tiga. Entah bisa dapat sunrise atau tidak nantinya, aku cuma fokus menjaga laju motor sekencang yang kubisa. Ada mobil nyungsep di pinggir jalan gak kuhiraukan, takut bermotor sendirian di tengah hutan gak kupedulikan, pun kungkungan dingin di pagi hari juga gak kurasakan. Sunrise, sunrise, dan sunrise, cuma itu yang memenuhi pikiranku. Peduli setan dengan gangguan apapun, termasuk lampu sorot motor yang tiba-tiba mati. Masih ada lampu jauh berarti masih bisa jalan, tak ada alasan untuk berhenti.
***
Azan subuh mengudara ketika roda motor sudah mencecap aspal Wonosobo. Melipir sebentar ke Masjid Raya Kabupaten Wonosobo tidak lama setelah mendengar ikamah yang nyaring dari pelantang suara.
Kaget adalah reaksi pertamaku ketika mengambil wudu. Bukan kaget yang terus takut begitu, melainkan kaget yang sekaligus membuat tercengang. Kok bisa tidak dingin sama sekali airnya, padahal suhu di info cuaca tertulis angka 8 dalam derajat celcius. Jemari yang sedikit kaku bisa kembali lemas tatkala tersentuh air.
Saf yang cukup ramai kembali memberi efek kejut untuk kedua kalinya. Jarang sekali ditemui masjid yang jamaahnya lebih dari dua saf di waktu subuh. Padahal suhu sedingin itu, tapi antusiasmenya semantap itu. Semoga mereka dikumpulkan di surga-Nya, aamiin.
Berdoa sedikit saja, dan menyerahkan sisanya kepada Rabb. Bergegas aku kembali ke parkiran, tak kubiarkan ruang pembakaran berhenti beroperasi lebih lama lagi. Akan tambah repot jikalau mesin terlalu banyak kehilangan panas, karena medan berikutnya ada di ketinggian.
Bising si merah memecah hening jalan yang semakin lama semakin menanjak. Entah suhu berapa yang aku rasakan, yang pasti tidak jauh dari kisaran 10 derajat. Aku bisa memastikan taksiran suhu meski tanpa harus mengecek aplikasi penunjuk cuaca, cukup mengandalkan jari saja. Jika sudah terasa kaku dan kebas sampai-sampai hampir tidak merasakan lagi jari yang menggenggam tuas gas, berarti suhu sekitar memang sudah semakin mendekati suhu lemari pendingin di warung-warung.
Kelopak mata juga kian memberat, padahal masih kurang dari tiga jam sejak terbangun di Banyumas. Lalu aku teringat tayangan di televisi jaman dahulu, tayangan tentang serangan dingin. Mengantuk, mati rasa, dan menggigil, lengkap sudah tanda-tanda hipotermia yang kurasakan. Memang semakin ke atas terasa semakin berat saja, tapi tentu akan lebih berbahaya jika harus berhenti dan istirahat di ruang terbuka seperti itu. "Ayo kuat, gak boleh tidur! Ayo bertahan dikit lagi!" aku menyemangati diriku sendiri. Jika saja ada reka ulang dalam gerak lambat sambil dipasang backsound musik yang pas, kondisinya akan jadi mirip dengan adegan orang yang merasakan dingin karena hampir mati di film-film.
Alhamdulillah, tak berselang lama kemudian aku menjumpai sebuah pasar. Paling tidak kalo memang terjadi apa-apa, akan ada orang yang bisa segera menemukanku. Motor melewati pasar yang belum terlalu ramai. Hanya ada beberapa mobil elf yang sepertinya dijadikan transportasi umum, juga beberapa orang yang bercakap-cakap sambil berdiri. Tidak ada satupun diantara mereka yang tidak mengenakan pakaian tebal.
Naaahhh, harusnya aku berpakaian seperti mereka. Tapi karena bego adalah salah satu bakat alamiku, jadilah sejak berangkat aku cuma memakai kaos biasa yang didobel hoodie seratus ribuan di toko bekas, celana kain yang sudah berulang kali dicuci hingga warnanya memudar, dan buff tipis yang cuma melindungi hidung dari banyaknya residu di jalan tanpa fungsi tambahan sebagai penghangat, itu saja. Gak ada kupluk, atau syal, atau sarung tangan rajutan yang hangat seperti yang orang-orang itu pakai. Tapi ada sedikit yang bisa menolong juga sebenarnya, sarung tangan bermotor dan sepatu Pierro hasil tukar tambah waktu festival di Senayan cukup bisa memberi kehangatan walau belum maksimal, alhamdulillah.
***
Matahari kian terang, terlihat sedikit semburat keemasan dari jauh. Semakin panik, dan semakin kutambah laju motor meskipun tidak tahu sama sekali medan jalanan di depan. Panik pagi itu tidak lebih karena ketakutan akan terlewatkannya kesempatan melihat sunrise terbaik di Asia Tenggara di Puncak Sikunir.
Langit kian menawan, yang sebelumnya sedikit saja kuasan emasnya, sekarang menjelma menjadi flaming sky. Gumpalan awan berwarna kemerah-merahan semakin membuatku gak karuan. Mau berhenti tapi takut ketinggalan sunrise, sedang kalo lanjut terus sayang banget fenomena panorama seperti itu gak diabadikan.. Dan ujung-ujungnya memang harus berkompromi agar bisa mendapat jalan tengah. Menikmati langit yang memerah sambil terus ngebut menuju Puncak Sikunir. Kuambil footage video dengan lensa optik organik, lalu menyimpannya di lobus temporal. Semoga saja footage itu tidak terhapus meski usia semakin bertambah.
Menyalip bus di jalan berliku dan menanjak ditunaikan, kebut-kebutan di daerah yang gak dikenal juga dilakoni, hanya untuk lagi-lagi disasarkan oleh gmaps bangke pada akhirnya. Aku menghampiri seorang tukang sayur keliling yang berdiri di samping motor menunggu pembeli.
"Pak, Puncak Sikunir itu di mana ya?"
"Puncak apa mas?"
"Yang buat lihat matahari terbit itu pak." aku memperjelas deskripsi.
"Oh, kalo itu di sebelah sana mas" sambil beliau menunjuk ke arah belakang punggungku menggunakan jempolnya, arah datangku sebelumnya. Sialan memang, sudah kesekian kalinya peta daring kampret ini menipuku, pun di saat-saat genting seperti ini malah ketipu lagi, siaaaallll!!!
"Terima kasih pak, saya ke sana dulu nggih". Memutar balik demi menuju objektif awal. Persetan dengan langit yang sudah amat sangat terang, lebih baik telat daripada tidak sama sekali.
***
Memasuki parkiran masih beruntung kebagian slot kosong dekat pintu masuk. Menurunkan standar dan melepas helm, segera aku mengambil langkah setengah berlari. Jajanan di sepanjang jalan sungguh menarik, namun itu semua masih belum mampu menghentikanku. Dengan keril 40L yang menempel, lumayan capek juga menapaki jalan perbukitan yang menanjak.
Kurang sedikit lagi menggapai puncak ditandai dengan jalan yang berubah dari semen cor menjadi tanah liat, nampak banyak orang yang sudah berjalan turun. "Kesiangan ya mas?" seloroh satu bapak yang menuruni tangga. Aku cuma membalas dengan senyum getir. Mau gimana lagi, memang sudah benar-benar telat dan gak bisa ditolong lagi.
***
Sampai juga di atas, dan kesampaian juga salah satu wishlist perjalanan ini. Menikmati sisa-sisa sunrise yang secara mengejutkan masih terlihat sangat menawan. Sungguh menawan. Kukira akan hanya tersisa terik mentari yang sudah meninggi, ternyata aku terlalu suudzon. Benar-benar tidak salah jika mendapat predikat sunrise terbaik se-Asia Tenggara. Sulit kalo harus menggambarkan dengan kata-kata, maka biarlah gambar yang menjelaskan semuanya.
Setelah melewati semua itu akhirnya aku menarik kesimpulan. "Jika ada waktu, dan mumpung di Jawa, kunjungilah Dieng beserta Puncak Sikunir-nya paling tidak sekali seumur hidup!".
Komentar
Posting Komentar