Bermotor Menuju Timoer (Part 7)

Tak lagi banyak kerumunan manusia di puncak Sikunir. Rupanya mayoritas pengunjung memutuskan untuk segera turun setelah cukup terpuaskan dengan atraksi utama beberapa saat lalu. Namun bagi aku yang datang telat, tayangan after credit ini masih cukup bagus, bagus banget malah. Aku tetap bergeming, melihat langit yang kian terang dan membiru bersih tanpa gumpalan cumulus sedikitpun.

Sayang sebenarnya lekas meninggalkan puncak. Jika saja perut tidak menagih haknya mungkin aku bisa bertahan lebih lama di atas.

Melewati jalan yang sama, aku turun untuk menuju parkiran motor. Jalanan cor yang tadi tak kuhiraukan karena tergesa-gesa, jadi menarik perhatianku sekembalinya dari atas. Banyak penjaja makanan yang membuka lapak, ada juga yang membuka semacam kafe atau tempat makan yang sedikit lebih "resmi". Namun dari sekian banyak yang dijual, tidak berlebihan untuk menyebut kentang panggang dan carica sebagai primadonanya. Kentang panggang yang kumaksud adalah kentang Dieng asli yang berukuran kecil dan dipanggang di wajan besar dengan semacam bumbu basah, sedang carica adalah pepaya muda kecil seukuran sekitar tiga ibu jari tangan orang dewasa dan diolah menjadi semacam manisan.

Asap kentang panggang yang memenuhi jalan belum cukup meyakinkanku untuk mencoba, malah carica yang berhasil menghipnotisku. Aku mengambil beberapa paket kemasan gelas plastik kecil setelah sempat merenung beberapa saat. Aku pun sempat dipersilakan mencicipi produk carica dalam botol gelas sebagai tester. Sepintas sih profil rasanya segar, tidak terasa pemanis buatan yang kuat. Rasanya yang khas, tahan lama, dan harganya yang tidak bikin pusing membuat carica menjadi salah satu opsi yang rasional dalam bab per-buah tangan-an.

Pagi itu aku tidak mengunjungi Candi Arjuna dan Kawah Sikidang. Meski kedua tempat itu terkenal dan diklasifikasikan sebagai landmark Dieng, tapi belum begitu menarik untukku. Aku sengaja memilih tempat lain sebagai ganti candi dan kawah itu, yaitu Candi Ratu Boko. Candi yang ada di timur laut Jogja tersebut sudah masuk itinerary sejak awal, dan harus mencapai sana waktu sore tiba jika ingin mendapat pemandangan yang aku idamkan.

Perjalanan Wonosobo menuju Jogja lumayan berjarak. Meski begitu aku tidak ngoyo memaksakan si merah untuk mengerahkan seluruh tenaganya, sedapatnya saja. Toh pasti bisa terjangkau sesuai jadwal, bahkan sebelum asar jika tidak ada hambatan yang berarti.

***

Terakhir mandi adalah waktu sore hari setelah dari Bandung, sebelum istirahat di masjid jalur arteri. Berarti sudah 12 jam lebih badanku belum terkena air selain air dari ekskresi kulit. Sekelebat ide untuk mandi pagi tiba-tiba muncul, lumayan buat melunturkan keringat hasil mendaki Puncak Sikunir. 

Aku mampir ke sebuah SPBU. Sepi, karena memang sudah jam sembilan dan kebetulan juga pas hari Selasa. Byuuuurrr...Segaaaarrrr!! Dan setelah ganti dengan pakaian bersih, kelopak mata jadi lebih berat beberapa gram. Segar adalah efek primer setelah mandi, sedang efek sekundernya jadi bikin ngantuk. Daripada membahayakan di jalan, aku mengikuti insting memejamkan mata sebentar, meringkuk di salah satu sudut musola SPBU usai menunaikan solat dhuha beberapa rokaat.

***

Hoaaammmm, gak terasa sudah sejam. Ingin sekali melanjutkan lima menit lagi, tapi lima menitnya orang tidur tidak jarang jadi satu jam ketika bangun. Karena tidak ingin kejadian malam sebelumnya terulang, aku memaksa tubuh untuk segera bangun dan bersiap menuju tujuan selanjutnya.

Masih dibimbing gmaps, aku menuju ke salah satu daerah istimewa di Indonesia itu. Cuacanya sangat bersahabat, tidak banyak panas yang bisa menembus kulit meski memasuki puncak kemarau. Dan menghadapai kemarau semacam itu, daerah di sekitar Gunungkidul yang kulalui terlihat jelas menerima dampaknya. Jati-jati meranggas, pun anak-anak sungai di lembah tidak dapat menyuguhkan air setangkup pun.

***

Tidak pernah mendengar atau membaca apapun tentang Gua Seplawan, bahkan baru siang itu kuketahui ada gua yang eksis di sekitar situ. Kalau saja aku mengambil rute lain dan tidak melewati perkampungan yang getol mempromosikan Gua Seplawan di sudut-sudut jalannya, barangkali sampai kapanpun tidak akan pernah tahu mengenai keberadaan gua itu. Sungguh pada awalnya malas, tapi karena saking banyaknya plang yang terpasang, sisi penasaranku jadi terusik. Mungkin plang-plang itu sudah diberi jampi-jampi.

Letak guanya ada di perbukitan. Gak ada masalah sebenarnya dengan perbukitan, bahkan di pegunungan pun juga gakpapa asal jalannya baik. Gakperlu bagus, baik aja cukup, dan kriteria jalan baik untukku adalah jalan yang bisa dilewati. Lha sedang jalan menuju ke gua Seplawan ini? ah sudahlah... Mau turun lagi kepalang tanggung, sudah terlalu tinggi ketika baru menyadari akan ketidaknyamanan ini.

Di ujung jalanan tanah liat, pilar-pilar joglo yang dijadikan gerbang masuk berdiri menghalangi beberapa bangunan di belakangnya. "Gak salah lagi, pasti di situ lokasi guanya!"

Sepi, hanya ada motor berjumlah kurang dari tujuh biji di parkiran. Asumsiku, dari sekian motor yang ada pasti beberapa masih milik orang kampung sekitar. Begitulah taksiran asal-asalanku setelah mendapati tidak adanya helm yang digantung di bagian motor.

Setelah mendapat tiket, aku bergegas menuju mulut Gua Seplawan. Di dekat pintu masuk berdiri patung sepasang perempuan dan laki-laki setinggi kurang lebih tiga meter dan berwarna keemasan. Dibaca dari infografis, dua patung itu digunakan sebagai replika patung sejenis yang terbuat dari emas dan pernah ditemukan di sana, sebelum selanjutnya dipindahkan ke tempat yang lebih terjamin keamanannya. Selain patung juga ada artefak lingga-yoni dari batu, simbol kemakmuran laki-laki dan perempuan menurut leluluh-leluhur jaman dahulu.

Rimbunnya sekeliling pintu masuk gua semakin menambah keheningan. Menikmati sepi yang sungguh-sungguh sepi, dengan sesekali rasa nyaman berkelindan dengan rasa cemas akan hal-hal di luar nalar. Sampai di mulut gua, aku menuruni tangga spiral yang menembus ke bawah tanah, Gua Seplawan letaknya ada di dalam sana.

Saat berada di dalam gua kondisinya temaram cenderung gelap, ya memang seperti itulah kondisi alamiahnya. Beberapa lampu yang dipasang sedikit banyak membantu, meskipun jarak antar satu lampu dengan lampu lain sengaja dibuat tidak terlalu rapat dan membuat beberapa sektor tidak terterangi secara memadai. Semakin ke dalam semakin aku menemukan kedamaian, "Pantes orang jaman dulu sering bertapa di gua-gua semacam ini". Aku berhenti berjalan lalu memejamkan mata, mencoba sebentar merasakan apa yang para pertapa rasakan. Tak kulakan terlalu lama karena terusik perasaan ada yang mengawasi dari balik gelap. Tapi, bukankah kita semua merasa seperti itu jika sendiri di suatu tempat yang jauh dari keriuhan?


Kalo saja aku memakai sandal gunung andalanku, mungkin aku akan memasuki bilik gua yang lebih dalam lagi. Berhubung di depan pintu masuk bilik yang kumaksud ada genangan air yang entah berapa dalamnya, agar lebih aman aku urungkan saja niatku. Dan karena 
semakin merasakan ketidaknyamanan suasana di dalam gua -ya salahku sendiri kenapa nekat masuk tanpa teman-, aku segera menaiki tangga spiral di sisi lain untuk keluar kawasan gua.

Terlepas dari semua kesan tadi, Gua Seplawan menurutku patut jadi salah satu pilihan wisata anti-mainstream. Cuma saranku jangan kesorean kalo ke sana. Duduk di tengah hutan heterogen sambil menghidu kopi berasap yang baru diseduh, merupakan perwujudan surga kecil bagi pekerja kreatif atau siapapun yang membutuhkan suasana rileks. Oh iya, aku juga baru tahu belakangan kalo kopi Seplawan juga punya nama yang cukup mentereng di skena perkopian internasional

Ingin merasakan kespesialan kopi kualitas dunia sebenarnya, tapi apa daya kemampuan lidah masih belum terkalibrasi dengan baik karena telanjur terbiasa dengan kopi instan. Tidak segampang itu menyetel lidahku dengan setelan para bocah indie penikmat kopi di coffeeshop-coffeeshop kekinian.


Part 6                                                                                                                                                  Part 8

Komentar