Bermotor Menuju Timoer (Part 8)
Yang berlebihan itu memang tidak baik, apapun itu tak terkecuali ketenangan. Ketenangan berlebih yang melingkupi Seplawan membuatku kian lama merasa ada yang "aneh". Daripada pikiran semakin berkecamuk, aku akhirnya turun meninggalkan kompleks gua tersebut dan meneruskan perjalanan.
Mengikuti peta kembali ke rute utama hingga sampai di suatu pertigaan, lalu aku berhenti sejenak. Ke kiri adalah jalan menuju Kalibiru, sedang ke kanan berarti langsung mengarah ke kota. Kalibiru sebenarnya sudah masuk ke itinerary awal, tapi agak ragu untuk mengikuti jadwal perjalanan itu. Apa iya harus menambah jarak dan waktu tempuh untuk pergi ke sana, setelah baru saja mengunjungi Seplawan yang malah tidak terencanakan sebelumnya? Namun jika langsung pergi ke kota, aku tidak yakin akan bisa dapat kesempatan lagi untuk pergi ke Kalibiru dalam waktu dekat, hmmm.
Gamang memilih antara dua pilihan itu, aku melamun sebentar di atas jok motor. Menimbang dua pilihan yang sama-sama tidak salah memang menjadi momok bagi kebanyakan orang, begitupun aku. Hingga beberapa saat kemudian ketemu jawabannya, terlihat jelas ada di seberang jauh pandangan mata. Melihat ke arah selatan ada semacam kubangan dengan warna biru tua. "Harusnya itu Kalibiru" batinku, dan setelah mengonfirmasi tutur batin dengan melihat gmaps ternyata dugaanku benar. Dari pengalaman yang sudah-sudah, yang kubutuhkan dari tempat semcam Kalibiru itu bukan suasananya, melainkan foto mandatori saja sebagai tanda pernah menjejak. Dan foto yang kumaksud sudah bisa kuperoleh dari tempatku berhenti siang itu. Ya walaupun tidak maksimal gambar yang terambil, paling tidak sudah tunai penasaranku tanpa perlu berpayah-payah memutar untuk mendapat gambar Kalibiru.
Kembali melanjutkan bermotor, tidak berselang lama aku menemui beberapa hal yang menggelitik. Tertulis pada papan-papan sebuah nama yang menunjukkan tempat wisata air. Bagaimana bisa ada wisata air di kawasan yang bahkan sungainya kering kerontang? Memang sangat mungkin itu terjadi, tapi logikaku tetap tidak bisa menerimanya. Tak ada satupun dari wisata air di daerah Gunung Kidul itu yang berhasil membuatku kepincut untuk disowani.
Lepas dari jerat rayu wisata air kukira perjalanan akan lancar, tapi nyatanya untuk kesekian kali ekspektasiku terpatahkan. Lagi-lagi harus mengubah itinerary karena lumayan penasaran dengan wisata hutan pinus yang rindang. Ya memang bukan Hutan Pinus Mangunan, tapi sedikit banyak sama kondisinya, wong sama-sama pinus. Hutannya terletak agak tinggi sehingga memungkinkan untuk melihat dataran yang lebih rendah. Luas sekali pandangan dari sana, membebaskan mata melihat apapun sampai jangkauan berkilo-kilo. Gundukan kecil berderet-deret yang sebenarnya perbukitan tampak menawan, dipayungi langit biru lengkap dengan awan yang mengambang jarang-jarang. Kesyahduan terasa kental sekali ketika aku memejamkan mata sejenak.
Sedang enak sendiri menikmati pemandangan, datanglah tamu lain, dua orang bapak-ibu bersama anak-anak mereka. Suasana hutan pinus kian riuh oleh gelak tawa manusia kecil yang asyik kejar-kejaran. Senyumku tersungging mengikuti keriangan bocah yang bermain bersama saudaranya. Ceria sekali.
Tidak cuma satu hutan itu saja yang kusinggahi, ada beberapa tempat serupa yang coba kutengok. Gak ada beda yang mencolok satu sama lain, malah ada satu persamaan yang menarik bagiku. Dari sekian tempat, selain sama-sama hutan pinus sebagai atraksi utamanya, ketidakterurusan adalah persamaan kedua yang kutangkap. Sayang aja menurutku, sudah mencoba mengembangkan dengan biaya yang tidak sedikit, tapi hasil yang didapat belum sesuai dengan harapan. Ya namanya juga resiko, dan aku yakin itu sudah masuk perhitungan para pengembang.
Tak bisa mampir-mampir lagi karena waktu luang sudah dihabiskan di Seplawan dan hutan pinus, aku kembali berkendara ke selatan.
Sudah mulai ngantuk, mata yang harusnya fokus ke jalan malah kugunakan melirik kanan-kiri mencari masjid yang nyaman. Masjid nyaman yang aku maksud di sini yang parkirnya enak, dan juga kalo bisa sepi, jadi enak buat molor tanpa sungkan dengan orang lain.
Beberapa ratus meter kemudian ketemulah masjid yang kumaksud. Tidak terlalu megah, namun beberapa simbol masjid cukup bisa terlihat dari kejauhan. Tempat solat yang berada di lantai dua juga memberi kesan tenang, karena bisa menghindarkan kebisingan jalan di bawah. Dan ketenangan di sana memberikanku kesempatan tidur siang yang berkualitas.
***
Terbangun lalu segera mengecek jam di ponsel, sambil pelan-pelan mengumpulkan nyawa. Kalo dari perkiraan waktu tempuh, harusnya bisa pas mendekati senja waktu tiba di candi.
Dan benar perkiraanku, hanya selisih sedikit saja jarak antara waktu aku tiba dengan prediksi waktu tempuh googlemaps. Kukira candinya tidak lagi aktif digunakan sembahyang, dan akan jadi candi wisata seperti beberapa yang ada di daerah-daerah lain, tapi tidak begitu kenyataannya. Aku bertemu dengan sekelompok bhikkhu yang memakai setelah kain warna oranye yang kerap terlihat di film saolin jaman dulu, dan memiliki potongan rambut serupa seperti yang ada di film yang sama. Bau dupa mengitar di sekitar pohon tempat para bhikkhu berkumpul, persisnya di teras depan sebelum pintu masuk kawasan candi. Aku sedikit membungkukkan badan memberi hormat ketika melewati mereka.
Berjalan-jalan di kompleks candi, kesan pertamaku adalah lingkungan yang bersih dan terawat apik. Di teras paling atas, di mana Candi Ratu Boko berdiri sudah ramai pengunjung lain. Terpantau mereka sedang menunggu giliran untuk mengambil foto di tengah pintu masuk candi. Iya foto yang sering beredar di internet itu, foto wajib yang memperlihatkan seolah sedang mengunjungi candi di atas awan.
Aku yang malas mengantre memilih objek lain untuk dipotret. Ada bekas pemandian, pendopo, serta pura bagi kalangan kerajaan yang sejatinya gak kalah menarik. Barangkali belum terlalu sering terekspos sehingga tempat-tempat tadi kurang mendapat atensi, dan kondisi seperti itulah yang malah membuatku beruntung. Aku bisa mengambil potret model apapun yang aku inginkan tanpa adanya distraksi dari manusia lainnya.
Usai menunggu beberapa saat, akhirnya tiba juga yang aku nanti, memasuki masa golden hour terbenamnya matahari. Sore itu langit bersih menjingga dengan halus, siluet gapura candi juga kelihatan gagah membelakangi matahari. Aku berdiri mematung, terpukau transisi pemandangan yang cantik tak terperi.
Kala kesadaranku kembali, aku bergegas memencet shutter Sony A6000-ku. Orang-orang yang mengganggu kuubah jadi ornamen pelengkap. Daripada kesal menanti momen sepi yang gak kunjung didapat, kenapa tidak diakomodir saja sekalian distraksi itu? Dan aku cukup puas dengan upaya alternatif tersebut.
Memasuki waktu blue hour, tidak ada pengunjung lagi selain diriku sendiri. Orang-orang sudah pergi lebih dulu waktu matahari sudah jauh tenggelam membawa serta kemegahan langit senja. Aku juga akhirnya cabut dari kompleks candi saat tarhim sudah mulai dilantunkan masjid-masjid dan musola-musola.
Aku menyempatkan mampir ke sebuah musola kecil yang masih sejalan dengan rute menuju kota Yogyakarta. Usai solat magrib, aku coba menghubungi teman yang kebetulan sedang kuliah di UGM, barangkali masih ada sedikit tempat untukku beristirahat. Gayung bersambut, ia menerima pesanku dan kemudian membagikan lokasi tepat rumah kosnya. Alhamdulliah, akhirnya kesampaian juga cita-cita tidur yang lebih proper malam itu.


Komentar
Posting Komentar