Bermotor Menuju Timoer (Part 9)
Bangun pagi-pagi demi mencicip lupis Mbah Satinem yang berhasil menembus kurasi Netflix, aku pamit sekitar jam enam lebih sedikit. Temanku mengantar keluar kosan dengan kelopak mata yang sedikit timbul. Wajar saja, ia lanjut mengerjakan tugas kuliahnya yang sempat tertunda agenda ngobrol larut malam denganku, di saat aku yang tak tahu diri ini sedang molor tak lama usai meletakkan pipi di bantal.
Lupis Mbah Satinem, seenak apa sih? Letaknya yang strategis tidak jauh dari Tugu Jogja sangat mudah untuk ditemukan, titiknya di gmaps pun juga sudah tepat. Hanya butuh beberapa menit untuk mencapai tempat Mbah Satinem dari kosan temanku di sekitar UGM. Ketika sampai... alamak!! antreannya sudah gak masuk akal! bahkan lebih cenderung mengeroyok daripada antre. Biasanya aku enggan untuk berepot-repot demi sesuatu yang orang lain juga banyak yang tertarik, tapi karena mumpung di Jogja dan sudah telanjur sampai, ya apa salahnya untuk coba ikut antre? Aku mengambil keplek dengan nomor 30-an. Sepintas angka segitu bisa termasuk kategori angka kecil, tapi apa daya jika antrean tidak berlalu dengan lancar.
Yang paling terakhir dipanggil masih sekitar nomor urut belasan, terus... aku? Bisa nunggu sampai kering boi! Daripada bosan, aku coba mengunjungi itinerariku yang terakhir di Jogja, Tamansari. Semoga waktu balik lagi nanti telah banyak berkurang antreannya.
***
Sudah sampai di tujuan gak lebih dari sepuluh menit. Pagi yang tidak terburu-buru dan jaraknya memang gak terlalu jauh juga dari lupis Mbah Satinem membuat Tamansari dapat dicapai sekejap saja. Aku gak langsung masuk, ada sedikit ragu ketika mendapati lingkungan sekitar yang sepi. Hanya ada beberapa tukang becak yang sedang ngobrol santai, dan bapak-bapak yang menyapu guguran daun di pelataran depan gapura masuk. Untuk ukuran suatu tempat yang sangat viral di internet, cukup janggal mendapati suasana seperti itu.
Aku mengikuti penunjuk jalan melewati gang-gang kecil di antara rumah-rumah penduduk. Terletak agak di bawah dan terpisah dari bangunan-bangunan rumah yang saling menempel di sekelilingnya, ada sejenis joglo dengan cat warna krem yang sudah memudar. Harusnya di situlah letak Tamansari berdasarkan plang penunjuk jalan tadi. Aku masuk ke sana sendirian.
Agak bingung saat berada di lorong bawah tanah dengan langit-langit rendah itu. Sambil menengadah aku coba menerka, apakah lengkungan langit-langit lorong itu menyerupai bentuk kubah, atau menyerupai bawang merah? Pertanyaan iseng yang tak perlu dirisaukan juga sebenarnya. Tidak ada lampu, satu-satunya sumber penerangan berasal dari sinar matahari yang masuk melalui celah di atas lorong yang dibuat setiap beberapa hasta sepanjang jalur.
"Apa ada Tamansari lain ya? Sepertinya Tamansari yang kukenal di internet berupa pemandian dengan kolam-kolam begitu, lha ini kok bisa lorong doang?" lagi-lagi timbul keraguan dari dalam. Kemudian aku menjumpai suatu pintu kayu yang agak menjorok ke dalam tembok, digembok dengan gembok besi cukup besar.
"Ooo jadi ini pintu masuk Tamansari?", memang salahku sendiri yang tidak mengumpulkan banyak informasi. Aku tidak melihat jam buka tempat wisata itu di gmaps, dan setelah bertanya ke warga sekitar di luar joglo, mereka mengkonfirmasi kalo memang jadwal bukanya adalah jam sembilan, masih beberapa jam lagi.
Tidak ada harapan, dan tak tahu harus menghabiskan waktu dengan kegiatan apa lagi. Aku kembali ke Mbah Satinem, barangkali sudah berkurang banyak antreannya.
***
Tidak berubah, malah lebih ramai.
Hanya bergerak beberapa nomer saja dari terakhir aku pergi. Salah satu alasan lambatnya pergerakan adalah pesanan satu orang pengentre yang bisa lebih dari lima bungkus. Belum lagi kalo ada yang bikin story di Whatsapp atau IG lalu teman-temannya sekalian titip, duuuuuh! Kenapa aku bisa tahu? Karena pas gak sengaja lihat ponsel mereka dan dengar percakapannya melalui telepon. Semoga saja setimbang penantianku sejauh ini, berlama-lama demi sebungkus kecil lupis.
Giliranku akhirnya datang, aku berjongkok di samping anak mbah Satinem yang bertugas sebagai kasir, merangkap penyaji bungkusan wadah lupis yang siap diisi oleh simbah. Aku memesan satu bungkus lupis lengkap, dan ditambah satu bungkus ketan bubuk biar tidak terlalu rugi telah menunggu lama. Masih dalam posisi jongkok aku langsung mengembat lupis yang diberikan mbah Satinem, sedang ketannya aku simpan untuk konsumsi agak siang sedikit.
Isian bermacam rupa lupis, cenil, gatot dan teman-temannya yang disiram kuah kental gula merah serta taburan kelapa parut tentu saja enak. Tapi, enaknya masih dalam taraf enak yang standar, belum cukup istimewa bagiku. Dengan rasa yang tidak terpaut jauh, tanpa bermaksud merendahkan salah satunya aku pun biasa merasakan panganan serupa di Pasar Ngantang. Kalo saja ada yang boleh disalahkan, aku akan memilih Netflix, berkat tayangannya ekspektasiku jadi terlampau tinggi.
Meski begitu, pada akhirnya aku menemukan 'faktor x' yang agak membantu memperbaiki penilaianku sebelumnya. Senyum si embah, senyum yang jadi menambah kenikmatan makan lupis pagi itu. Tipe senyum yang sulit dilupakan, terasa sekali tulusnya dari hati dan mengembuskan kehangatan ke sekitarnya. Terlihat berlebihan gambaran yang kuberikan, tapi siapapun yang pernah menerima senyum dari mbah Satinem hampir pasti setuju dengan pendapatku, aku yakin! Terima kasihku kepada seorang mbak-mbak yang secara ekstrovert mau bercakap-cakap dengan mbah penjual lupis legenda itu. Berkat ia aku bisa menyaksikan momen istimewa yang tidak setiap orang bisa dapat meski telah menunggu berjam-jam.
Dengan tandasnya Lupis, usai pula kunjungan di Jogja. Timur tinggal sepelemparan batu, dari taksiranku akan dapat kucapai hari itu juga.
***
Padahal belum sepenuhnya keluar dari wilayah Jawa Tengah, tapi perut sudah kembali lapar. Di Wonogiri, dua jam lebih sedikit sejak terakhir perut terisi dengan lupis, kini ia bergemuruh-meronta minta diisi kembali. Maka ketanlah yang jadi penolong sementara, toh juga buat apa lama-lama disimpan? Kuharap bungkusan mungil itu bisa membantu untuk mereduksi jeritan rongga perut. Aku melipir di sebuah warung kecil, lalu memesan segelas teh hangat-hampir-dingin sebagai teman menikmati ketan. Ya sambil makan ya istirahat juga, meluruskan tulang yang menekuk akibat postur bermotor yang kurang ergonomis.
Warung pinggir jalan yang sederhana, menyajikan minuman saset rasa-rasa lengkap dengan gorengan sebagai kondimennya. Ketan yang meski cuma setangkup tangan harusnya cukup, tapi jadi tidak mencukupi karena nafsu siang itu sedang agak sulit dikendalikan. "Ini nasi apa bu?"
"Ooo, itu nasi megono", lalu aku menggambil sebungkus.
Sebenarnya aku agak trauma dengan nasi megono. Dulu pernah di Jakarta Selatan beli nasi serupa, tapi karena sudah dalam bentuk bungkusan maka tidak diketahui isi di dalamnya seperti apa. Sesampainya di rumah dan membuka bungkusan itu, spontan saja terucap "Walah!" dari mulutku. Kaget beneran, hanya ada sayur nangka muda hambar yang dirajang kecil-kecil lalu ditabur di atas nasi. Dan itulah kali pertama dan terakhir aku makan nasi megono sebelum siang itu.
Pertamanya karena sudah beli, dan keduanya karena penasaran apakah nasi megono kali ini beda dengan di Jakarta memicuku untuk mencoba. Kesan pertama setelah membuka bungkusan tidak sama dengan kesan yang dulu, nasi megono yang ada dihadapanku sekarang lebih rame. Selain ada cacahan nangka muda, ada pula sayur daun singkong yang juga dipotong kecil-kecil. Dan setelah suapan pertama yang sebenarnya masih terkandung keraguan di sana, kesan buruk yang kusematkan pada nasi megono luruh sudah. "Kayaknya nasi megono yang asli yang kayak gini" batinku. Rasa gurih-asin dari rajangan sayur dan manis nasi puith berpadu, tidak hambar seperti yang di Jakarta. Ditambah dengan beberapa buah gorengan dan ditutup seruput teh hangat-hampir-dingin, jadilah makan menjelang siang yang festive.
Komentar
Posting Komentar