Bermotor Menuju Timoer (Part 10)
Tidak ada tujuan spesifik selepas meninggalkan Jogja. Rencana ke Pacitan memang sengaja kubatalkan mengingat rutenya yang terlampau melambung dari jalur utama. Dan sebagai ganti Pantai Klayar, aku telah memilih satu pantai di daerah Tulungagung.
Si merah melaju masih dengan kecepatan yang konstan, melewati jalan aspal yang lebar, lalu berganti dengan jalan cor, lalu berganti lagi menjadi aspal mulus. Meski rupa jalan berganti, namun tidak dengan apa yang ada di pinggirnya. Lansekap di kiri dan kanan didominasi dengan hutan jati yang meranggas, menampakkan kokohnya batang pohon yang bercabang tak tentu arah. Sedikit sekali hijauan yang bisa tertangkap pandangan mata. Meskipun sudah masuk bulan Agustus, hawa hujan masih belum sedikitpun dirasakan tanah Jawa.
"Selamat Datang Ponorogo" tertulis di gapura perbatasan. Kota Reog inilah yang pertama aku sasar untuk didatangi selepas Jogja. Tidak ada yang istimewa dari Ponorogo kecuali aku hanya ingin mengetahui bagaimana suasana Badegan, sebuah kecamatan asal teman kontrakan yang selalu dibangga-banggakannya, sampai-sampai disematkan kata 'bdx' yang menurut dia singkatan dari Badegan sebagai identitas akun instagram-nya. Tak dinyana, beberapa kilo dari gapura batas wilayah tadi aku menemukan tulisan "I <3 Badegan" berukuran besar, dan dari itulah aku tahu jika Badegan merupakan pintu masuk Ponorogo.
Aku berhenti di seberang tulisan akrilik yang terpasang di muka kantor kecamatan. 'I love Badegan', tidak ada yang salah sebenarnya dari ungkapan itu, tapi tetap saja ada sebagian kecil di dalam diriku yang terusik. Tak kurang dari tiga kali aku membaca tulisan besar itu. "Apa yang seharusnya di-love-i dari Badegan sih?" Tempat wisata tidak ada, lingkungan sekitarnya juga penuh dengan kekeringan, bahkan sempat terpikir kalo kawasan ini adalah sister city-nya Lesotho.
Daripada pening beradu dengan asumsi sendiri, aku kirimkan saja pesan singkat berisi pertanyaan apa yang bisa dikunjungi di Badegan. Tak terpaut lama kemudian si kawan ini merekomendasikan sego pecel iwak kali, yang kalo dialihbahasakan ke bahasa Indonesia jadi nasi pecel ikan sungai. Aku mengikuti arahan shareloc yang diberikan padaku, menuju Nasi Pecel Sekayu Ibu Mesiyem. Kupesan satu porsi nasi pecel dengan iwak kalinya, serta es teh sebagai pelengkap sekaligus antidote panas yang ampun-ampunan. Meski bukan fastfood, penyajian pecelnya gak kalah cepat dari resto waralaba yang tersebar seantero dunia. Lalu, untuk rasanya? Ya namanya juga pecel, dan seenak-enaknya pecel intinya mah tetap sama, saus kacang. Memang benar-benar terlalu tinggi temanku itu memuji kampung halamannya.
Bagaimanapun aku harus tetap berterima kasih pada Ponorogo, karena telah memberi padaku makanan dan juga tempat tidur yang nyaman. Aku beristirahat di sebuah masjid di pinggiran kota. Lelah berkendara beberapa jam, dan memang sudah lepas beban usai menunaikan kewajiban solat mempercepat proses istirahat siangku.

Komentar
Posting Komentar