Bermotor Menuju Timoer (Part Finale)
Melewati rute 17 dan rute 21 jalan nasional adalah ketidaksengajaan yang mengejutkan dalam artian positif. Jalan lebar, aspal kualitas tinggi, dan juga kontur yang meliuk naik turun adalah medan paling mengasyikan bagi pemotor sepertiku. Kegembiraan di Nagreg pun terulang kembali. Entah berapa kecepatan maksimum yang teraih siang itu, aku tidak memperhatikannya. Yang pasti tidak sampai sekencang di Nagreg karena jarum rpm belum menyenggol angka '10'.
Banyak terpapar angin membuat mata berat juga lama-kelamaan, cadangan energi dari proses metabolisme es kelapa muda yang kukonsumsi tidak jauh dari gapura selamat jalan Ponorogo juga tinggal sedikit. Niat hati langsung mengarah ke Kedung Tumpang jadi gagal dieksekusi, akan bahaya jika aku tetap bersikukuh sesuai rencana awal. Aku melipir ke sebuah surau kecil dan mengaso di sana.
***
Hampir gelap, tapi masih belum terlalu jingga langitnya ketika sampai di pantai Kedung Tumpang. Aku permisi ke sekumpulan bocah yang sedang nongkrong di tangga turun menuju pantai. Tas kerilku sengaja aku tinggalkan di atas, toh kalo hendak dicuripun aku tak akan ambil pusing, wong isinya cuma pakaian kotor selama 3 hari. Melenggang tanpa beban adalah sebuah kemewahan yang tidak bisa tiap saat kudapatkan selama perjalanan.
Setibanya di bawah, tidak kudapati manusia lain selain aku, dan suasana seperti itu hampir selalu sukses membuatku terhanyut keadaan sekitar. Warna oranye keemasan yang tumpah di langit, bunyi debur ombak membentur karang, dan juga angin sore yang datang dengan tidak terburu-buru adalah kombinasi yang pas. Paket lengkap yang secara personal kujadikan hadiah bagi diriku sendiri, atas upaya aneh solo touring ku tiga hari terakhir.
Ping! sebuah pesan masuk dari mas Mahdi. Dan dari lanjutan convo chat itu aku membuat kesimpulan, memang sudah waktunya menuntaskan rasa rinduku ke Ngantang.
"Buk, aku mulih engko", kukirimkan pesan pendek melalui WA.
***
Selepas ngobrol dengan bapak-bapak yang sedang bubaran solat magrib di musola kampung, aku langsung buru-buru motoran menuju rumah. Etape terakhir tur Jawa yang harus dilewati kurang bisa dinikmati karena satu masalah utama, penerangan yang tidak cukup mumpuni. Sedikit sekali lampu jalan, kalaupun ada tidak jarang malah tertutup rimbunnya pohon. Di samping itu lampu motor pun juga agak sulit untuk diajak kerja sama setelah sebelumnya putus waktu memasuki Wonosobo. Mau pake lampu jauh tapi khawatir yang lain jadi silau. sedang kalo mau pake lampu biasa juga masih belum bisa nyala. Menghadapi rute yang belum familiar membuatku harus meningkatkan fokus daripada sebelum-sebelumnya. Aku mencoba tidak terlalu mempermasalahkan keredupan yang ada di depan mata, hatiku sudah cukup terang membayangkan suasana rumah.
Semakin mendekati garis akhir semakin campur aduk rasanya. Sesekali senyum, di lain kali tiba-tiba merinding saat mengingat cerita perjalanan ketika flashback beberapa momen tiga hari sebelumnya. Kagum sekali bisa melakukan perjalanan sejauh itu seorang diri. Salah satu impian beberapa warsa silam karena terpicu series Dimas & Raka terwujud sudah. Aku mengira perjalanan ini akan menyenangkan sama seperti Raffi Ahmad dan Tara Budiman yang motoran berdua. Namun, perkiraanku meleset, karena kenyataanya bahkan jauh lebih menyenangkan dari yang dibayangkan.
Lalu aku berhenti ketika jarak rumah tinggal beberapa kilometer saja. Entah ada halangan apa, karena tiba-tiba saja di depan jalan sana puluhan motor berjubel menunggu giliran untuk maju.
"Ada apa macet gini? Gak biasanya Ngantang macet, apalagi malam kayak gini."
Terakhir aku mengecek gmaps, tidak ada indikator warna selain biru dan hijau di peta, tapi motor tetap saja sulit bergerak. Hingga beberapa waktu kemudian terkuak sumber kemacetannya, ada karnaval. Memang Ngantang banyak mengadakan karnaval, terlebih setiap desa terbiasa merayakan Bersih Desa dengan menyelenggarakan karnaval. Di kampungku, arak-arakan truk yang membawa sound system dengan diikuti orang joget-joget, atau kesenian kuda lumping dan bantengan sudah bisa dikategorikan sebagai karnaval.
Maksud hati mengikuti gmaps untuk menghindari pasar malam, ternyata malah terjebak karnaval. Warna biru pada jalur lebih dikarenakan gmaps yang hanya bisa membaca pergerakan device. Dan ketika gawai orang-orang yang menonton praktis tidak bergerak, maka AI membaca orang-orang yang ada sebagai pemukim di dalam rumah, dan jalanan dianggap lancar saja. Aahhh, bahkan Google pun tertipu!
Setelah lebih dari satu jam menunggu, lepas sudah dari antrian sialan yang menjebak. Lima belas menit kemudian mesin si merah sudah berhenti meraung, bersandar di lorong tempat parkir di rumah masa kecilku.
Perjalanan yang menyenangkan. Benar-benar meyenangkan. Perjalanan yang membuktikan bahwa bermotor tidak harus dengan tetot-tetot dan mengintimidasi pengguna jalan lain, bergerombol seakan-akan penguasa jalan, atau dengan peralatan yang bahkan tidak lebih murah dari gaji guru honorer dikumpulkan sejak awal hingga selesai pengabdiannya. Kendaraan pun tidak perlu yang elit dan butuh perawatan khusus, dengan motor pabrikan biasa malah lebih enak jika memang ada kendala di tengah jalan, bengkel-bengkel kecil sudah sangat mumpuni untuk mengatasi motor yang rewel.
Motor pabrikan biasa, jadwal yang longgar, uang saku secukupnya, dan nekat adalah empat hal yang jadi modal utamaku mewujudkan perjalanan ini. Perjalanan seadanya yang menyenangkan, ditambah bonus muhasabah diri dan melatih kepekaan akan sekitar.
Komentar
Posting Komentar