Waskita Sang Martir dan Bedebah Tanpa Pikir

Sudah tujuh hari berlalu sejak terdengar berita seorang pegawai dari instansi yang sama dengan tempat kerja saya berpulang dalam melaksanakan tugas. Tidak seperti biasa, ucapan bela sungkawa datang lebih deras dibanding biasanya. Dan tidak cuma ucapan bela sungkawa template dengan musik sedih dan gambar hitam putih, ada beberapa narasi yang juga ikut dibagikan mengantar berita duka tersebut. Narasi yang beragam dengan satu nada sama, narasi harapan untuk didengarkan dan tidak direndahkan. Harapan yang tidak muluk, tapi menjadi penting untuk lebih disuarakan setelah peristiwa beberapa waktu ke belakang.

Keriuhan kabar duka kali ini tidak lepas dari ungkapan seorang pembantu presiden yang menjadi orang tua kami semua. Beliau menyebut tempat kerja kami adalah tempat yang aman untuk melakukan tindak kejahatan. Di saat ramai tudingan dari khalayak umum kinerja kami kurang beres, ungkapan yang tajam seperti itu dari orang yang sudah kami anggap bapak sendiri rasanya seperti terjebak lampu merah 200 detik di jam pulang kantor. Panas, sangat panas sekali. Dan ketika teman-teman saya berteriak karena kepanasan, tentu saya memafhumi ungkapan mereka.

Tapi di kesempatan kali ini saya ingin menawarkan sudut pandang lain. Masih sama marahnya, hanya saja saya ingin target marah ini bergeser ke tujuan yang lebih tepat, yang memang sudah sepatutnya bertanggung jawab atas kegaduhan yang saya dan teman-teman saya rasakan beberapa waktu belakangan. Yaitu orang-orang yang memang melakukan kesalahan, dan itu dilakukan dengan sadar.

Bapak kami menyebut jika tempat kerja kami memungkinkan untuk berbuat hal yang tidak baik, tapi bukan bapak itu saja yang berbicara seperti itu, banyak orang sejak beberapa tahun lalu mengungkapkan hal serupa di media sosial. Kalau satu dua ungkapan mungkin bisa jadi fitnah belaka, tapi kalau sudah berulang kali apakah itu bisa disebut fitnah? Kalau mereka tidak merasakan sendiri mengapa harus repot-repot berkeluh kesah di muka umum? Maka sekali lagi saya ingin mengajak khususnya rekan sejawat saya untuk mengarahkan amukan ini ke arah yang tepat, para perusak organisasi dari dalam yang biadab itu.

Saya punya banyak teman dan mengenal betul mereka yang berusaha lurus dan jujur diantara tawaran-tawaran penuh tipu daya memabukkan itu. Tapi saya tidak memungkiri pula pernah mendengar kabar kurang enak yang beredar di antara teman saya yang lain. Teman saya yang jujur dan baik akan tetap berseragam, akan tetap berangkat kerja, pun akan berusaha meluruskan kabar buruk kepada tetangga yang menanyakan bahkan tak jarang dengan nada sinis atau ejekan. Sedang yang lain, yang sedikit tapi merusak itu memilih bersikap bodo amat, mata hatinya telah dibutakan dengan rasa cinta dunia yang berlebihan. Mereka yang tidak sepantasnya berseragam itu tidak ikut merasakan duka terkena hujatan publik, karena sedang sibuk bersuka ria pada gegap gempita kehinaan.

Rasanya getir mengetahui ada teman yang enggan pulang karena takut dicerca tetangga, berhati-hati dalam penampilan, dan bersikap wajar dalam pergaulan sehari-hari, hanya untuk dimentahkan kemudian oleh pegawai yang seenaknya membenarkan kelakuan bejatnya.

Menurut saya percuma atau minimal membuang tenaga menuntut untuk didengar khususnya oleh bapak pembantu presiden, karena sejatinya si bapak hanya subyek yang kebetulan memiliki jabatan khusus. Jikalau penyebab utamanya tidak dihilangkan maka subyek itu hanyak akan berganti wujud, dan cercaan akan tetap mengalir di kesempatan yang lain. Saya ingat waktu belajar tentang manajemen risiko di kelas pak Didik, beliau menjelaskan bahwa memitigasi risiko itu dengan memilih penyebab utamanya, bukan cabang risiko. Apabila risiko utama berhasil dimitigasi maka printilan risiko lain akan ikut termitigasi pula. Begitu juga dengan instansi ini, jika berhasil menghilangkan para bedebah-bedebah sebagai biang keladi masalah itu, tak ada lagi amunisi yang valid untuk ditembakkan kepada kami. Kita perlu untuk menyajikan bukti konkret, bukan retorika semata.

Sebelum mengakhiri, melalui tulisan ini saya juga ingin menyampaikan bela sungkawa kepada rekan kami yang gugur dalam tugas atau mungkin mengalami kemalangan yang lain, tidak hanya pada kesempatan kali ini tapi juga dari kejadian-kejadian yang telah berlalu. Ajakan untuk bekerja sewajarnya karena ada keluarga yang menunggu di rumah itu valid, tapi bukan menjadi pembenaran untuk bersikap abai dengan ketidakbenaran. Jika semua memilih untuk kerja lalu pulang, maka yang pertama bersuka cita adalah mereka para cecunguk itu. Mari setidaknya berkongsi untuk kebaikan, karena kelemahan orang baik adalah tidak bersatu. Beda dengan mereka yang jahat, karena tahu salah maka mereka perlu berkumpul untuk merasa kuat. Jangan sampai rekan kita yang telah gugur menjadi matir hanya menjadi nama simbolis bangunan tanpa pernah menjadi pemantik perubahan yang sejati.

Kepada bapak pembantu presiden, bukan kali ini saja bapak berbicara seperti itu, dan sampai beribu kali mengatakan hal yang serupa saya kira tidak ada gunanya juga pak. Masyarakat ingin bukti, bukan hanya pemanis bibir. Apabila tidak bisa memperbaiki dengan tuntas, saya mohon jadilah bapak yang memahami dengan sabar tumbuh kembang sang anak. Saya rasa bapak sudah tahu semua apa yang terjadi, tapi sebagaimana pimpinan terdahulu masalah yang ada tentu tidak serta merta tuntas dalam sekali kerja. Dan apabila kelak ketika bapak telah usai pengabdiannya dan merasa belum sempat memberikan kontribusi terbaik, maka doakanlah kami agar tetap kuat sambil sedikit demi sedikit menambal bahtera kami yang sedang compang-camping.

Komentar