Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2020

First Timer: Kesasar di Belitung (Part 5)

Sampai di Pantai Tanjung Kelayang, waktunya bayar-bayar. Sesuai janjinya di awal, Ageng juga ikut patungan untuk membayar perahu tersebut. Namun ada sedikit permasalahan. Harga yang harus dibayarkan tidak sesuai dengan kesepakatan awal, menurut salah satu temannya. Alat snorkel yang semula dikira gratis, ternyata dihargai beberapa puluh ribu, dipakai atau tidak. Dengan sedikit pembicaraan hati ke hati sesama orang yang hartanya pas-pasan, Ageng berhasil meluluhkan pengemudi perahu dan harga yang ditetapkan tidak jadi terlalu tinggi. Sebelum berpisah untuk melanjutkan perjalanan, Ageng ditawari oleh temannya untuk gabung ke penginapan mereka di sekitaran Tugu Batu Satam. Dia mencoba menerka-nerka di mana letak Tugu Batu Satan. Pikirannya flashback ke hari pertama, mungkin yang dimaksud Tugu Batu Satam itu tugu yang di atasnya nangkring batu besar hitam. Dia berasumsi seperti itu karena menurutnya satam dan hitam hampir mirip, tanpa mencoba menelusuri kebenarannya. Menurutnya ini tawara...

First Timer: Kesasar di Belitung (Part 4)

Kecanggungan membalut perahu kecil yang terapung di selat. Empat orang saling bersenda gurau, sedangkan dua lainnya terpaku menatap lautan tak bertepi, Ageng masuk ke kelompok kedua. Dia terlalu canggung untuk meruntuhkan tembok pemisah diantara mereka, dia hanya bisa berharap es kokoh yang ada segera mencair. Gayung bersambut, salah satu dari mereka menyapa Ageng, "Kok sendirian mas? Dari mana?". "Iya mas, saya dari Jakarta" jawabnya singkat. Dia sangat berhati-hati jika bertemu dengan orang baru, karena dia paham tuturnya sangatlah busuk, meski sebenarnya tidak ada tendensi buruk sama sekali. Percakapan berikutnya mengalir begitu saja, tidak terlalu intens memang percakapan antar mereka, tapi cukuplah untuk menegasikan rasa canggung yang menolak untuk pergi begitu saja. Mereka singgah di pulau pertama yang entah apa namanya. Batu bundar yang mulus menutupi hampir seperempat bagian pulau. Ageng mengambil beberapa gambar dengan mirrorless nya. Teman-teman barun...

First Timer: Kesasar di Belitung (Part 3)

Jam empat pagi Ageng sudah bangun, tidak peduli mimpi senikmat apapun, jam biologisnya sering kali mengungguli bunga mimpinya. Azan merayu Ageng untuk menikmati subuh pertamanya di luar jawa. Jalan sepi di luar hostel terasa semakin hikmat, sebab ilalang tinggi dikiri-kanannya yang sesekali bergoyang ditiup angin malam, dan tampak cantik diterpa temaram lampu jalan yang satu dua. Tidak jauh beda dengan belahan Indonesia yang lain, para sesepuh bersarung dan bersongkok mendominasi surau. Dipenuhinya langit-langit dengan gema suara parau mereka ketika melantunkan wirid dan pujian, sedang bocah itu tertunduk bersila menunggu bunyi "tit" dari jam penanda iqamat. Cepat sekali, mungkin sekitar tujuh menit dari "tit", Ageng sudah berbaring lagi di kamar hostelnya, melanjutkan tidur seperti hari-harinya yang lalu. ~ Hangatnya matahari pagi masih tertahan kaca buram, tapi sinarnya telah memerahkan pandangan Ageng yang masih tertutup kelopak matanya. Perlu beberapa saat ...