Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2021

Rukun ke-5.1, BerLabuan Bajo Bagi yang Mampu (Part 8)

Di dalam Mbaru Niang, aku melihat empat bule, tiga orang bertampang nusantara, serta satu orang bocah kecil. Kami dipersilahkan masuk oleh bapak-bapak yang mengantar tadi, dan ditunjukkan sisi rumah yang bisa kami inapi malam itu. Tidak ada kamar untuk menginap di Mbaru Niang, kami semua tidur di matras yang diletakkan di sisi terluar rumah, melingkari ruang utama. Yogi dan Adha saling bersebelahan, Akbar menaruh matrasnya di sebelah kanan Adha, terakhir aku yang kebagian berbaring di sisi paling kanan.  Baru saja selesai meletakkan bawaan kami, Yogi langsung mengeluh lapar. Ia mencari makanan untuk mengganjal perutnya sementara waktu. Untung aku masih punya roti yang dibeli siang tadi, langsung saja kutawarkan kepadanya, juga ke dua orang lainnya. Alhamdulillah masih bisa berbagi. Sayangnya, roti dirasa Yogi belum juga cukup untuk mengatasi laparnya. Dia lalu bertanya kepada penghuni asli Mbaru Niang, bisakah ia membeli makanan di rumah itu. Bapak yang ditanyai rupanya juga kebing...

Rukun ke-5.1, BerLabuan Bajo Bagi yang Mampu (Part 7)

"Perkenalkan, saya Ageng" sebagai anggota yang baru bergabung, aku merasa harus memperkenalkan diri lebih dulu. Yogi, Adha, dan Akbar dengan ramah membalas perkenalanku. Kini kami sudah melewati papan informasi masuk ke Wae Rebo. Yogi mengajak mampir ke sebuah bangunan tidak jauh dari papan informasi tadi, dia dan rombongannya mau solat dulu. Aku pun menunggui mereka, sambil mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru ini. Dan seusai sholat, kami mulai menapaki tanah berundak yang merupakan awal dari pendakian ini. Yoga sepertinya memang terbiasa mendaki. Dia yang memimpin rombongan ini, berjalan dengan mantap dengan keril 60L yang penuh sesak, sedang saya memilih menjadi penyapu ranjau saja. Sambil berjalan, mereka bertiga ngobrol dengan lepas, aku sesekali coba menimpali. Ingin rasanya ikut larut dalam keakraban ini, tapi belum bisa karena rasa canggung masih cukup tebal.  Ya memang wajar sih, kebanyakan orang kalau ketemu sesuatu yang baru pasti awalnya canggung. Yang ha...

Dan Kami Saling Mendoakan

Sesuai janji saya di surat, saya mengucapkan selamat hari raya ke dia, sekalian ngucapin selamat ulang tahunnya juga yang tinggal seminggu lagi. Kalo kemarin-kemarin gak ada perasaan sungkan waktu akan klik send di DM instagram, sekarang harus kembali lagi ke fase awal-awal dulu. Cukup banyak waktu yang terpakai untuk menata kata demi kata, bahkan waktu memilih kapan dikirimnya perlu pertimbangan yang tidak gampang pula. Dan saya putuskan mengirimnya setelah isya. Dengan bismillah, saya mantapkan hati untuk menyentuh tombol panah mengarah ke kanan di pojok kanan bawah aplikasi berbagi gambar itu. Saat itu sebenarnya belum terlihat waktu dia online terakhir, tapi setelah pesan pertama saya terkirim, baru terkuaklah kalau dia terakhir mengakses berandanya sekitar empat jam yang lalu. Tidak olahraga, tapi jantung berdegup terburu-buru. Setiap bunyi notifikasi terdengar seperti sirine bahaya yang meraung-raung. Apakah seperti ini rasanya menunggu putusan hukuman akibat membawa satu kilogra...

Ditinggal dua perkara

Ramadan berakhir tidak memberi pengaruh lebih kepada saya. Tidak ada sedih atau menyesal karena belum maksimal beribadah di bulan ini. Saya tahu kalo akan lebih baik jika saya mampu menyesali atau bahkan meneteskan eluh murni dari hati yang tidak dibuat-buat. Tapi mau gimana lagi? Sebagai orang yang agamanya Islam tapi imannya tipis, saya belum bisa mencapai tingkatan itu. Meski begitu, hari ini saya tetap sedih lho, cuma sedihnya beda sasaran. Jika di tahun-tahun sebelumnya cuma ditinggal sama satu perkara saja, dan itupun kurang berhasil membuat sedih, sekarang ini bakal ada dua perkara, dan anehnya keduanya itu terbalik. Yang harusnya tidak sedih malah jadi sedih, dan yang harusnya sedih malah gak sedih sama sekali. Salah satunya insyaallah bakal ketemu lagi jika diijinkan sama Allah, sedang satunya lagi... Mohon maaf semuanya, dan saya minta doanya ya 🙂

Rukun ke-5.1, BerLabuan Bajo Bagi yang Mampu (Part 6)

Aku merasa, medan perjalanan kali ini semakin lama semakin tinggi saja. Tampak dari kabut tipis yang mulai turun, membuat bulir-bulir embun menyangkut di setiap rajutan benang jaketku. Akupun tetap melaju, karena menurutku, siang-siang begini tidak mungkin kan kabut bisa bertahan lama? Pasti akan hilang beberapa saat lagi. Beberapa kilometer selanjutnya kabut tak kunjung hilang, malah semakin tebal. Sial memang, meleset forecast kali ini. Kabut tipis tadi kini menjelma gumpalan putih yang lebih pekat, melayang rendah menutup lereng bukit di kanan kiri. Jalanan meliuk-liuk pun tidak bisa dilibas dengan akselerasi seperti sebelumnya. R anting tua berukuran tidak kecil yang beberapa kali ditemukan meregang nyawa di tengah jalan semakin meningkatkan difficulty trek Labuan Bajo-Wae Rebo. Dalam kondisi seperti ini setiap rider dituntut untuk lebih waspada. Aku pun bisa menjamin, kalaupun Marc Marquez atau Marco Simoncelli yang terkenal agresif mengemudi di trek seperti ini, pasti akan melamb...

Rukun ke-5.1, BerLabuan Bajo Bagi yang Mampu (Part 5)

Di persewaan motor, aku memilih sebuah motor matik. Awalnya sih sempat kepincut pakai motor yang ada koplingnya, karena lebih bisa diandalkan untuk melibas medan seliar apapun menuju Wae Rebo. Namun setelah melihat harganya, ya sudah matik saja lah . Semoga dia masih mumpuni untuk offroad , jika memang diperlukan .   Mungkin tas besar yang aku bawa membuat pemilik persewaan motor kurang nyaman, Dia menyarankan untuk menaruh saja beberapa isi dari tas milikku. Karena kebanyakan isi tas cuma baju, dan sepertinya ide pemilik persewaan masuk akal, aku  percayakan beberapa setel pakaian ke dia, dibungkus dengan kresek merah, kemudian aku berangkat ke Wae Rebo. Bermodal peta luring yang diunduh sebelumnya, aku ngeloyor saja, meninggalkan keramaian kota. Indikator bensin hanya mampu naik setengah. Sempat terbesit untuk beli bensin eceran, tapi gak jadi. Di sini harga pertalite ngecer itu sepuluh ribu perbotol, sedang harga seliter kalo di SPBU masih 7.500-an. Dan setelah bersabar dik...