Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2022

Saya & Aku VS 3000 KM (Part 16)

Gambar
Yang dipikirkan tentang kereta lokal harga sepuluh ribuan ya seperti kereta yang kunaiki waktu kecil, yang masih kusam bin kumal, tempat duduk tegak 90 derajat dengan lapisan kulit sobek-sobek, ditambah penumpang yang semerawut. Nyatanya tidak seperti itu, bahkan sungkan sendiri karena sudah suudzon.  Kereta dengan single seat nyaman seperti itu dihargai 30 ribu juga masih banyak peminatnya kurasa. Aku memilih tidur karena tak khawatir salah turun stasiun, tujuanku adalah pemberhentian terakhir. Sampai di Stasiun Tanjung Karang, harus menempuh perjalanan darat lagi untuk mencapai pelabuhan Bakauheni. Dari tanya-tanya ke orang sih bisa ke sana pakai bus, naiknya dari pinggir jalan raya. Dengan membawa bungkusan siomay yang akhirnya tidak habis karena ada gorengan ampelanya, aku menunggu bus yang dimaksud.  Beberapa bus yang lewat sengaja tidak aku pilih, entah karena mereka yang terlalu ngebut, atau di dalam sudah terisi penuh, males euy kalo desak-desakan mah . Tatapan kosongk...

Saya & Aku VS 3000 KM (Part 15)

Gambar
Entah sudah berapa lama aku berada di dalam bus itu. Saking lama dan ngeboseninnya, aku bisa melewati siklus tidur sebanyak 4 kali dalam tiga jam, ngantuk-tidur-bangun-ngantuk-tidur-bangun. Tidak ada layanan provider semakin membuat mati gaya, sekalipun ada juga gak ngerti mau buka apaan, wong  semua media sosial sudah kujelajahi. Tingkah polah penumpang lain lah yang akhirnya jadi hiburan sekaligus sumber pelajaran. Kadang terbaca dari tingkah polah mereka, kadang juga tak perlu repot-repot membaca karena mereka dengan sukarela bercerita. Aku lebih memilih mendengar saja, menyerap segala yang sengaja diberikan semesta padaku. *** Tau-tau sudah malam, hampir 24 jam berarti aku terkurung di penjara bergerak ini. Bus berhenti di sebuah rest area sederhana di daerah Muara Enim. Sebenanrnya tidak ada niat untuk ke kota kecil itu, malah Palembang-lah yang jadi tujuan utamaku. Berhubung rute bus biasa yang melewati Palembang sedang proses perbaikan, maka jalur diubah agak menjauh dan mel...

Saya & Aku VS 3000 KM (Part 14)

Gambar
Malam tambah larut, jalanan di depan pool bus kian sepi saja. Angin yang semakin kencang lewat tanpa permisi, melibas bangunan terbuka tanpa pintu tempat menunggu bus itu. Aku memilih duduk dibalik rolling door, niatnya biar terlindung dari angin dan lembaran buku yang kubaca aman tidak tertiup bayu. Untung saja buku itu terbawa, kalo gak bisa mati gaya aku. Sebenarnya bisa gak mati gaya asal hape juga gak mati. Namun daya ponsel yang terbatas rupanya membatasi juga pergerakanku. Jam 9, aku kembali bertanya ke petugas yang jaga. Lagi-lagi ia mengeluarkan janji-janji yang semakin tidak bisa dipercaya. Tadi sore bilang bus datang jam 7, jam 7 kutanya mundur jadi jam 9, sekarang jam 9 kutanya lagi malah bilang jam 10 nanti datangnya, dasar kadal conge tukang kibul. Lelaki bertubuh gempal dengan potongan rambut cepak turun dari motor, lalu ikut duduk di jajaran kursi tunggu. Kelihatannya sudah sering naik bus, ia bisa langsung akrab ngobrol sama petugas yang jaga malam itu. Aku memalingkan...

Saya & Aku VS 3000 KM (Part 13)

Gambar
Aku mengernyitkan dahi sewaktu becak mulai menepi menghampiri ibu-ibu yang melambaikan tangannya. "Becak ini gak kosong lho, masih ada akunya, mau ada apa ini? Apa ibu itu istri tukang becak?" "Pak, sekalian ke pasar ya?" ucap si ibu. "Boleh bu, silakan."tukang becak menjawab seperlunya saja. Ibu itu permisi naik ke becak, lalu kubalas dengan senyum dan anggukan pelan. Speechless, masih belum bisa aku mencerna sempurna tragedi yang berlalu dengan cepat itu. Aku kini bersandar ke sisi kanan becak, semepet-mepetnya, sambil berharap tidak menyenggol ibu di sampingku. Kurapal kalimat "semoga tidak lama" hingga beberapa kali. Dan Tuhan memang mengabulkan doa orang yang teraniaya, kami sudah sampai pasar beberapa menit kemudian. Turun dari bentor tepat di depan kantor PO, terlihat satu armada bus Sarah yang sedang melakukan persiapan. Aku beruntung karena waktu tiba di sana tidak terpaut jauh dengan jadwal perjalanan kembali ke Bukittinggi. Kondisi bu...

Saya & Aku VS 3000 KM (Part 12)

Gambar
Kalo mau ke Payakumbuh bisa naik bus Sarah kata pengemudi ojek. Aku gak paham apa itu bus Sarah, dan kenapa sampai harus spesifik Sarah. Ia berbaik hati mengantarkanku hingga ke sebuah perempatan, tempat di mana menurutnya bisa kutemui bus yang ia maksud. Kulalui gerai makanan siap saji yang jadi tujuan awalku. "Nah itu bang!" ia berseru sambil melambai-lambaikan tangannya. Tak kulihat apapaun yang menyerupai bus dari arah tengokan abang ojol. Sebuah elf warna putih menyalankan sein kiri. "Ini bang, nanti turun ke Payakumbuah langsung bang". Nah, benar firasatku, sering terjadi antar daerah punya sebutan serupa namun yang dimaksud tidak sama. Mobil e lf itulah yang disebut bus, sedang Sarah adalah nama perusahaannya.  Susah payah aku mencapai duduk yang tersisa di baris paling belakang. Jangan coba bayangkan tempat duduk normal seperti elf-elf kebanyakan. Ya benar elfnya normal, tapi kapasitasnya yang tidak normal! Saat aku sudah berhasil duduk, kuhitung ada hampir ...

Saya & Aku VS 3000 KM (Part 11)

Gambar
Guncangan kecil nan intens memaksaku untuk menangguhkan masa tidur, perlahan kubuka mata dan memicing ke arah depan. Kegelapan total terhampar di balik kaca bus, sesekali dipecah siluet tipis perkebunan sawit yang kentara mengapit jalan. Tidak berembun seperti awal naik, suhu bus sudah teratur stabil. Selimut tipis yang kupandang sebelah mata ternyata sangat jitu membantu mengatasi alergi dingin. Jalanan aspal yang terlalu pas dengan bodi bus menjadi hiburan dan membuat perjalanan semakin seru, apalagi kalo tikungannya berbentuk letter U. Bus yang tak sabaran berkali-kali hendak menghajar ranting melintang, beruntung sopir yang tangkas lekas menghindarkannya. Gagal melanjutkan tidur ada untungnya juga ternyata, jadi dapat kesempatan dibuat kagum dan deg-degan dengan pergerakan bus, itung-itung kayak naik rollercoaster low budget . Melihat ukuran dan kecepatannya, membuat manuver seperti itu sih harusnya cuma bisa dilakukan oleh sopir yang sudah punya jam terbang tinggi. Tanpa aba-aba a...

Saya & Aku VS 3000 KM (Part 10)

Gambar
Lanskap menuju Toba yang hijau-hijau sangat bisa meredam efek stress akibat lama berada dalam Avanza bangke itu. Suhu yang semakin lama semakin dingin seiring menjauhinya kota juga sangat membuat nyaman. Yang jadi kekurangan cuma satu, tidak ada kesempatan untuk berhenti sesuka hati, padahal ingin sekali aku turun di pinggir jalan. Danau purba yang ditengok dari ketinggian memamerkan kecantikan yang paripurna, siapapun kukira sulit menampik opini yang berlandaskan fakta tersebut. Cantik, cantik sekali! Memang sudah maqom nya Danau Toba didaulat menjadi wisata super prioritas Indonesia. Aku membayangkan diri ini bermotor melibas liukan-liukan jalan dengan tumbuhan yang merindang di sisi-sisi jalan, ditambah kesejukan yang pas untuk berkendara. Matapun tak hentinya dimanjakan pemandangan danau biru yang luas tak terkira, dan dikelilingi gelombang perbukitan warna hijau. Kalo ada yang mengaku pemotor tapi tidak kepincut dengan semua itu, tidak salah kolo menganggap dia hanyalah pemotor bl...

Saya & Aku VS 3000 KM (Part 9)

Gambar
Terbangun aku ditiup angin air conditioner , deretan gigi atas dan bawah bergemurutuk saling adu. Hawa emosional berhembus membawa pertanyaan bagi diriku sendiri, untuk apa dan siapa perjalanan ini. Belum terjawab pertanyaan pertama, pertanyaan kedua menyusul dengan tidak sabar, pertanyaan atas nasib mereka-mereka yang hidupnya selalu di luar. Bagaimana mungkin mereka bisa terbiasa, sedang aku yang berselimut di dalam bus pun tetap tak tahan dihempas dingin.  Aku tanya kepada kenek bus tentang kemungkinan untuk menurunkan suhu ac. Pertanyaan yang sekaligus permintaan itu dibalas dengan senyum dan tawa kecil. "Gimana cara nuruninnya bang, kan ini ac sentral" jawab si kenek. Lubang ac yang kututup cuma bisa mengerem angin agar tidak meniup ubun-ubunku, sedang lubang-lubang lain masih menganga dan mengerahkan pasukan dingin terbaiknya untuk menusukku hingga ke tulang-tulang. Lubang ac bus yang kecil terasa lebar sekali, selebar jalanan Aceh-Medan. Tidak disarankan buang air keci...