Postingan

OleOut?

Jadi ceritanya saya mau bikin PC karena saya tim #mendingrakitPC. Semua komponennya sudah ada sesuai spesifikasi yang saya susun, dan saya juga sudah punya perakit PC. Tukang rakit PC ini sebelumnya juga sudah pernah ngoprek PC lama saya yang lemot. Gak tau gimana caranya, tiba-tiba bisa gitu aja dan lancar. Oh iya, spesifikasi yang mau disusun juga sudah dikonsultasikan dengan doi, secara saya gak paham bener komponen-komponen PC. Alhasil di hari yang ditentukan, semua komponen yang dia minta sudah saya belikan, dan dia mulai melakukan perakitan. Satu hari, dua hari, tiga hari, sampai seminggu belum jadi juga, entah sebabnya apa. Temen sudah nyuruh saya ganti tukang aja, ada beberapa rekomendasi yang bagus katanya. Tapi, tukang rakit pilihan sekarang ini kan juga bagus menurut saya, sedang saya malah belum kenal betul sama rekomendasi teman. Bisa jadi salah satu dari mereka bisa merampungkan PC saya, tapi tidak menutup kemungkinan juga nasib PC pretelan itu terkatung lebih lama lagi b...

Cheribon dan Peti Usangnya (Part 3)

Gambar
Lapaaarrr! Dan memang waktunya tepat sesuai itinerary, kami sekarang berburu makanan khas Cirebon, empal gentong. Gak main-main, kami memilih yang paling banyak ulasannya di gmaps. Walaupun tidak dapat dijamin yang terkenal itu pasti enak, tapi memberi garansi kalau hidangannya masih bisa dikunyah dengan nyaman. Letaknya agak di pinggiran kota, tapi dekat sekali dengan exit toll , Empal Gentong H. Apud beruntung kami pilih (sebenarnya kami yang beruntung). Di sepanjang ruas jalan banyak juga bertebaran resto-resto yang menjual panganan serupa, jadi kalaupun di satu tempat sudah terlalu penuh, masih ada pilihan yang lain, asal berani gambling aja. Kami berlima tentu saja memesan empal gentong, ditambah sate kambing sebagai pelengkapnya. Saya sih sudah pernah makan empal gentong waktu nikahannya teman yang asli Cirebon, dan gak terlalu bisa mengapresiasi . Tapi agaknya kali ini mungkin berbeda, secara tampilannya juga tidak mirip sama sekali dengan yang pernah saya icipi....

Cheribon dan Peti Usangnya (Part 2)

Kami kembali melanjutkan perjalanan. Dari peta kelihatan komplek keraton berada di balik sebuah pasar tradisional. Untung saja kami jalan kaki, jadi tidak ribet kalau memang perlu blusukan. Benar saja, kami diarahkan masuk sebuah gang yang agak besar. Di kiri kanan lapak penjual memenuhi jalan aspal yang kelihatan mengarah ke sebuah pohon beringin yang menjulang. Setibanya di ujung aspal, barulah tampak komplek Keraton Kanoman. Tidak seperti di Jogja, di sana seperti kurang terasa kalau tempat itu digunakan sebagai tempat tinggal seorang sultan. Kalau tidak ada papan informasi yang mendetailkan fungsi masing-masing bangunan yang dipagari, bisa jadi orang awam mengira tempat itu cuma joglo dengan sebuah bangunan tugu yang biasa aja, seperti yang ada di kampung-kampung. Saya kurang paham kenapa situasinya seperti ini. Bisa jadi karena ingin menghilangkan kesan ekslusif keluarga ningrat agar semakin dekat dengan rakyat biasa, atau memang karena kurangnya perhatian dari pemer...

Cheribon dan Peti Usangnya (Part 1)

Pengen refreshing setelah penat dengan urusan angka-angka, lima laki-laki tanggung sepakat untuk ke Cirebon, mau short escape ceritanya. Saya, Haryo, Akmal, Mas Mahdi dan juga Mas Bowo memilih kereta ke Cirebon jadwal pagi hari. Seingat saya, jam setengah tujuh masinis sudah melaksanakan semboyan 35. Kami memang sengaja memilih tempat duduk yang berdekatan satu blok, biar gak sepi. Berkas cahaya yang tidak tertahan kaca film mulai menambah terang suasana, deret rumah dan kendaraan yang terhenti palang silih berganti tampil lewat jendela, pramugari kereta baru sekali lewat, membawa aroma pop mi yang entah kenapa selalu lebih enak disantap di perjalanan. Isi kereta masih hiruk pikuk, orang-orang masih beradu keriuhan antar kelompok diskusi, kami berlima tentu saja ikut serta menambah nilai desibel di dalam sana. Apakah kami sudah melakukan persiapan untuk  trip kali ini? Ooo... tentu tidak dong. Makannya sambil menunggu sampai di Cirebon, kami menyusun agenda dan rute yang akan dijal...

Lebaran Istimewa

Pertama kalinya, bahkan bukan hanya bagi saya, tapi hampir semua penduduk asli Ngantang yang masih hidup sekarang ini juga merasakan menjadi first timer. Ya, pertama kalinya di sini tidak ada solat Id, yang kebetulan kali ini pas gilirannya Hari Raya Idul Adha. Jangankan solat, bahkan gema takbir pun cuma jadi menjadi dongeng indah pengantar tidur. Saya sampai rumah jam delapan malam. Suasananya sepi. Ya walaupun biasanya juga sepi, tapi kali ini lebih beda sepinya. Malam ini setahun yang lalu, memang sudah tidak ada ritual anak-anak kecil membawa lampion sambil berteriak parau menyuarakan takbir, namun sahut-sahutan antar toa mengagungkan naman-Nya masih jelas terdengar. Sedang malam itu, tak ubahnya seperti malam selasa-malam selasa yang lain. "Besok ada solat mak?" tanyaku setelah sempat lewat masjid tidak mendapati satir pemisah antar jamaah putra dan putri terpasang di alun-alun. "Nunggu Pak Bas le, masih ke (kantor) desa." Jadi, keputusan adanya solat atau tid...

Rukun ke-5.1, BerLabuan Bajo Bagi yang Mampu (Part 12)

Gambar
Rijal mengajakku ke penginapannya, katanya sih murah dan sudah ada air hangatnya. Siapa yang gak tertarik coba? Murah, air hangat. Pasti hilang semua pegal yang terkumpul sejak dari Wae Rebo beberapa hari yang lalu. Aku menyetujui ajakan Rijal. Semua peserta LoB keluar pelabuhan dalam waktu yang berdekatan. Kebetulan Lora menuju arah yang sama dengan kami berdua. Yang tadinya jalan santai, sekarang Rijal tiba-tiba mengambil langkah lebar-lebar dan lumayan kencang pergerakannya, aku mau tidak mau mengimbanginya. Sekarang suasananya menjadi seperti dua orang lokal pervert sedang membuntuti perempuan bule. Tinggal tambah logo brazzers di pojok kanan bawah, semuanya bakal punya makna yang sama sekali beda dengan kenyataan. Satu dua kali kami mengajak berbicara Lora, dan dia menjawab sambil semakin mempercepat jalannya, kelihatan sekali dia tidak nyaman kita buntuti. Kemudian Lora sampai lebih dulu di penginapannya, ia melambaikan tangan pada kami. Rijal yang lumayan ambisi sekarang jadi sa...

Rukun ke-5.1, BerLabuan Bajo Bagi yang Mampu (Part 11)

Gambar
Jam biologis membangunkanku jam empat pagi, saat yang lain masih terlelap. Melihat bule tidur seadanya begini menggelitik juga. Bayangan akan kehidupan bule yang borjuis dan penuh kemewahan lenyap, bersama dengkuran mereka yang mengangkasa. Setelah ibadah aku turun ke bawah, pengen ngopi sambil nunggu sunrise. Biasanya sih aku tidur lagi seusai salat, tapi ya masa' jauh-jauh sampai sini rutinitas tetap sama? gak ada nilai tambahnya borrr! Ditemani kopi, aku kembali menyelami hobi melamunku di haluan kapal. Kicau burung perlahan semakin ramai, bergembira menikmati udara yang lagi sejuk-sejuknya. Alam bebas menjadi katalis proses pendinginan wine arabku. Langit kebiruan perlahan dihamparkan Sang Maha Kuasa. Cahaya pagi juga sedikit demi sedikit menyibak detail-detail lansekap sekitar. Semua perpaduan itu menambah nikmat kopi instan, yang rasanya itu-itu aja. Tamu-tamu lain mulai bangun juga, lengkap dengan wajah sembab masing-masing. Pandangan kosong bule-bule itu menyiratkan nyawa ...

Rukun ke-5.1, BerLabuan Bajo Bagi yang Mampu (Part 10)

Hoaaaahhhh , menguap sambil menggeliat menggenapkan nikmat tidur. Tubuh terasa pegal sekali, efek motoran jarak jauh dan mendaki kemarin baru terasa pagi ini. Sekarang sudah jam setengah enam, dan jam tujuh nanti ada janjian, janjian life on board (LoB) ke Pulau Komodo, yeay!. Maunya sih ambil trip yang sehari aja, biar gak benturan sama sholat Jumat. Tapi karena salah paham sampai aku dan pemilik hostel berdebat cukup pelik, akhirnya terambillah paket dua hari satu malam. Aku mau cari makan dulu, lapar. Biarin belum mandi, paling resikonya cuma digunjing, toh aku gak kenal juga sama yang menggunjing, bodo amat lah. Keluar ke jalan, tengok kanan kiri, ah ada nasi kuning, sepertinya bisa dimakan, daripada nasi goreng kemarin malam yang rasanya adudu sekali. Kubungkus satu, lalu makan di penginapan. Selesai makan dan mandi, kebetulan pemilik hostel datang. Dia memberiku kacamata renang dan selang snorkel, tapi gak ada kaki kataknya. Gakpapa, nanti aku dayung pake kaki sendiri aja. Kem...