Bermotor Menuju Timoer (Part 5)
Masjid-masijd sudah saling bersahutan membunyikan adan satu sama lain. Suara kering dan berat khas bapak-bapak terdengar seperti sorak-sorai menyuruhku untuk segera menepi. Aku berhenti di satu masjid yang lumayan nyaman kalo dilihat dari luar, meski memang harus repot menyeberang jalan dulu. Cukup ramai keadaan di area masjid, karena selain memang digunakan tempat solat, ada juga fungsi lain sebagai rest area . Seusai solat kebetulan ada acara pengajian, aku ikut mendengarkan sambil melemaskan otot kaki dan punggung. Mulanya bisa mengikuti, tapi lama kelamaan setelah kucermati kok merasa ada beberapa kata-kata yang kelewat. Awalnya aku mengira karena pengucapan dari pak ustad yang terlalu berubi-tubi, tapi ternyata bukan, asumsiku keliru. Bukan karena cepat, tapi karena memang pak ustad berceramah dalam bahasa Sunda! Sudah tentu aku tidak bisa memahami sepenuhnya. Pun mengetahui itu bahasa Sunda juga agak telat, setelah mendengar beberapa kosakata familiar yang pernah diucapkan Sule a...