Postingan

Bermotor Menuju Timoer (Part 5)

Gambar
Masjid-masijd sudah saling bersahutan membunyikan adan satu sama lain. Suara kering dan berat khas bapak-bapak terdengar seperti sorak-sorai menyuruhku untuk segera menepi. Aku berhenti di satu masjid yang lumayan nyaman kalo dilihat dari luar, meski memang harus repot menyeberang jalan dulu. Cukup ramai keadaan di area masjid, karena selain memang digunakan tempat solat, ada juga fungsi lain sebagai rest area . Seusai solat kebetulan ada acara pengajian, aku ikut mendengarkan sambil melemaskan otot kaki dan punggung. Mulanya bisa mengikuti, tapi lama kelamaan setelah kucermati kok merasa ada beberapa kata-kata yang kelewat. Awalnya aku mengira karena pengucapan dari pak ustad yang terlalu berubi-tubi, tapi ternyata bukan, asumsiku keliru. Bukan karena cepat, tapi karena memang pak ustad berceramah dalam bahasa Sunda! Sudah tentu aku tidak bisa memahami sepenuhnya. Pun mengetahui itu bahasa Sunda juga agak telat, setelah mendengar beberapa kosakata familiar yang pernah diucapkan Sule a...

Bermotor Menuju Timoer (Part 4)

Gambar
Menerobos keruwetan jalan, dan menyempil mencari-cari celah di antara deretan kendaraan yang berjubel di Bandung. Macet berangsur terurai, seiring dengan mulai dicapainya pinggiran kota dan memasuki jalur arteri. Aku tetap mengandalkan gmaps , sesekali saja kubaca plang hijau penunjuk arah untuk memastikan arahan yang disampaikan melalui headset tidak melenceng jauh. Jalan nasional yang lebar dan lengang memanjakanku dan si merah, kondisnya pun ideal sekali untuk berkendara. Tidak banyak truk ekspedisi atau bus AKAP siang itu, ditambah terik matahari tidak terlalu membakar karena posisinya yang agak condong ke barat.  Kalo sudah mendapat kenyamanan seperti itu, berarti waktunya melakukan manuver-manuver yang sebelumnya tidak bisa dilakukan di jalanan biasa. Dari lajur paling kanan, lalu bergeser ke tengah, dan merebah ke kanan lagi menghindari truk, sebelum akhirnya menyendok ke lajur paling ke kiri untuk mendapat lajur bebas yang lebih panjang. Menyendok -atau menyerok biasanya- a...

Bermotor Menuju Timoer (Part 3)

Gambar
Orang-orang berjalan berlawanan arah denganku, membawa berbagai gendongan yang isinya mungkin akan dijual di kios-kios seputar air terjun. Matahari sudah cukup terik ketika kutancapkan kontak motor dan meninggalkan kawasan wisata tersebut. Selanjutnya aku berencana sowan ke kota, demi mengikuti keinginan menjajal salah satu panganan yang telah dikunjungi Nex Carlos. *** Pusat Kota Sukabumi ramai tak beraturan, orang dan kendaraan tumpah ruah tak karuan. Apalagi di persimpangan suatu pasar, pendatang sepertiku pasti akan kikuk harus begaimana menyikapai suatu kebaruan ini. Aku tetap berpegang teguh mengikuti arahan mbak-mbak gmaps , sampai satu waktu suara itu menuntunku untuk berbelok ke sebuah gang.  "Tujuan anda di sebelah kiri" aku yakin begitulah kalimat yang kudengar, tapi ketika menengok ke kiri aku menemukan hal yang berbeda. Tidak ada apapun selain beberapa bangunan semi ruko yang rolling door- nya tertutup. Aku mengenali salah satu bangunan itu sebagai kedai tempat j...

Bermotor Menuju Timoer (Part 2)

Gambar
Pasar mulai ramai, jalanan yang lebar menjadi sasana duel terbuka antara penjual dan pembeli. Tetarik dengan keriuhan di bahu jalan, para pengendara menjadi spektator sambil berlalu pelan, pun denganku.  'Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya', meski di satu lingkup area yang sama, ada dua keramaian berbeda yang aku berhasil amati. Masih di sekitar pasar tadi disamping hiruk pikuk tawar menawar, aku melihat ketidakteraturan lain yang terorganisir, tapi bukan dari orang pasar. Dan setelah mengamati kembali, orang-orang yang kumaksud adalah sekumpulan orang yang sedang menunggu jam operasional klinik yang ada di area pasar itu juga. Klinik kecil seperti itu memang jadi tumpuan kesehatan utama masyarakat di kampung. Apalagi kalo dokter yang berpraktek sudah menggenggam kisah-kisah sukses, dari kecamatan tetangga pun akan susah payah mendatangi demi membuktikan kebenaran rumor yang berembus. Di satu sisi gemuruh dengan canda tawa, sedang di sisi seberang gemuruh bertu...

Bermotor Menuju Timoer (Part 1)

Gambar
Memasuki masa-masa akhir perkuliahan, tinggal menuju waktu saja untuk meninggalkan Tangerang Selatan. Sedikit demi sedikit barang yang ada di kontrakan kubawa setiap ada kesempatan pulang, lumayan biar gak perlu jasa ekspedisi untuk ngirim. Tinggal satu yang gak mungkin dibawa masuk ke kabin kereta penumpang, motor. Lalu terbesitlah ide, daripada motor diantarkan eskpedisi, kenapa gak aku aja yang mengantar sendiri sampai ke rumah? Sudahlah tanpa biaya, sekalian bisa jalan-jalan kan? Telah lama punya angan-angan motoran menjelajah Jawa, angan-angan yang kubangun karena gandrung dengan serial Dimas dan Raka yang aku tonton saban sore sambil menunggu buka puasa circa 2008. *** Perjalanan darat ke timur ini kumulai jam dua dini hari. Semua penghuni kontrakan masih terlelap, tak sempat aku berpamitan karena memang tak mungkin juga membangunkan mereka. Paling gak aku sudah pamit sore harinya. Sengaja kupilih jam dua untuk mencocokkan agenda pertamaku, berburu  sunrise di jembatan gantun...

Sepatu Andalan

Gambar
Masih ingat senengnya dikasih sepatu yang ada resletingnya karena udah lama pengen tapi gak kesampaian. Lalu bersama hingga 6 tahun setelahnya, dari Gresik, Malang, Denpasar, Surabaya, sampe Jakarta juga bareng. Ya memang sudah waktunya istirahat, mau gak mau sih, but if i could hold you any longer... Terima kasih sepatu andalan, dari panas sampe banjir, dari ubin mahal sampe tangga monyet, dari grip utuh sampe sekarang botak. Bahkan di saat terakhir bisa nguat-nguatin dipake 12 jam muter-muter Surabaya raya, terbaik memang. Yaaaa cuma sepatu jatah doang, memang aneh buat apa dibikin kayak gini. Tapi itu sepatu andalan saya, dan semoga tribut ini jadi pengingat buat saya...

Saya & Aku VS 3000 KM (Part 16)

Gambar
Yang dipikirkan tentang kereta lokal harga sepuluh ribuan ya seperti kereta yang kunaiki waktu kecil, yang masih kusam bin kumal, tempat duduk tegak 90 derajat dengan lapisan kulit sobek-sobek, ditambah penumpang yang semerawut. Nyatanya tidak seperti itu, bahkan sungkan sendiri karena sudah suudzon.  Kereta dengan single seat nyaman seperti itu dihargai 30 ribu juga masih banyak peminatnya kurasa. Aku memilih tidur karena tak khawatir salah turun stasiun, tujuanku adalah pemberhentian terakhir. Sampai di Stasiun Tanjung Karang, harus menempuh perjalanan darat lagi untuk mencapai pelabuhan Bakauheni. Dari tanya-tanya ke orang sih bisa ke sana pakai bus, naiknya dari pinggir jalan raya. Dengan membawa bungkusan siomay yang akhirnya tidak habis karena ada gorengan ampelanya, aku menunggu bus yang dimaksud.  Beberapa bus yang lewat sengaja tidak aku pilih, entah karena mereka yang terlalu ngebut, atau di dalam sudah terisi penuh, males euy kalo desak-desakan mah . Tatapan kosongk...

Saya & Aku VS 3000 KM (Part 15)

Gambar
Entah sudah berapa lama aku berada di dalam bus itu. Saking lama dan ngeboseninnya, aku bisa melewati siklus tidur sebanyak 4 kali dalam tiga jam, ngantuk-tidur-bangun-ngantuk-tidur-bangun. Tidak ada layanan provider semakin membuat mati gaya, sekalipun ada juga gak ngerti mau buka apaan, wong  semua media sosial sudah kujelajahi. Tingkah polah penumpang lain lah yang akhirnya jadi hiburan sekaligus sumber pelajaran. Kadang terbaca dari tingkah polah mereka, kadang juga tak perlu repot-repot membaca karena mereka dengan sukarela bercerita. Aku lebih memilih mendengar saja, menyerap segala yang sengaja diberikan semesta padaku. *** Tau-tau sudah malam, hampir 24 jam berarti aku terkurung di penjara bergerak ini. Bus berhenti di sebuah rest area sederhana di daerah Muara Enim. Sebenanrnya tidak ada niat untuk ke kota kecil itu, malah Palembang-lah yang jadi tujuan utamaku. Berhubung rute bus biasa yang melewati Palembang sedang proses perbaikan, maka jalur diubah agak menjauh dan mel...

Saya & Aku VS 3000 KM (Part 14)

Gambar
Malam tambah larut, jalanan di depan pool bus kian sepi saja. Angin yang semakin kencang lewat tanpa permisi, melibas bangunan terbuka tanpa pintu tempat menunggu bus itu. Aku memilih duduk dibalik rolling door, niatnya biar terlindung dari angin dan lembaran buku yang kubaca aman tidak tertiup bayu. Untung saja buku itu terbawa, kalo gak bisa mati gaya aku. Sebenarnya bisa gak mati gaya asal hape juga gak mati. Namun daya ponsel yang terbatas rupanya membatasi juga pergerakanku. Jam 9, aku kembali bertanya ke petugas yang jaga. Lagi-lagi ia mengeluarkan janji-janji yang semakin tidak bisa dipercaya. Tadi sore bilang bus datang jam 7, jam 7 kutanya mundur jadi jam 9, sekarang jam 9 kutanya lagi malah bilang jam 10 nanti datangnya, dasar kadal conge tukang kibul. Lelaki bertubuh gempal dengan potongan rambut cepak turun dari motor, lalu ikut duduk di jajaran kursi tunggu. Kelihatannya sudah sering naik bus, ia bisa langsung akrab ngobrol sama petugas yang jaga malam itu. Aku memalingkan...